Tawakkal: Keseimbangan antara Ikhtiar dan Berserah Diri

Allah tidak akan membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya. Sudah sering sekali kita mendengar potongan kalam Allah SWT dari ayat terakhir Surat Al-Baqarah ini, tapi sepertinya kita memang harus lebih sering lagi diingatkan kembali ke ayat ini. Terlebih karena ayat ini juga bisa jadi, dan sepertinya sering, dibikin excuse bagi seseorang untuk berlepas dari tanggung jawab; dan lebih buruk, menjadi alasan untuk ber-tawakkal tanpa ikhtiar.

Padahal ayat ini dinyatakan setelah di ayat sebelumnya kita setuju untuk berkata sami’naa wa atha’naa (kami dengar dan kami ta’at).  Tentu ayat ini tidak diturunkan sebagai pembenaran bahwa kita belum mampu melaksanakan sebuah tanggung jawab yang dibebankan pada kita. Sebenarnya dengan diberikannya tanggung jawab itu pun, Allah SWT sudah tahu bahwa kita akan mampu menanggungnya. Tapi yah, pikiran-pikiran ini biasanya malah bikin bingung, seperti pemikiran tentang mana yang lebih dulu, ayam apa telor.

Nah, di akhir artikel ini, insya Allah, saya akan menutupnya dengan ayat ini lagi. Tapi di tengahnya, poin yang ingin saya sampaikan adalah tentang Tawakkal; hasil dari kajian keluarga weekend kemarin dari bab 2 buku I’maalul Qulub (amalan-amalan hati), karya Syekh Munajjid. Semoga saya ga salah dalam menyampaikan poin-poinnya, Aamiin.  Cmiiw.

Side note: Fadhilah ayat

Ada beberapa fadhilah yang bisa diperoleh dari penutup Surat Al-Baqarah ini, dari mulai diberi kecukupan, hingga dilindungi rumahnya dari gangguan setan. Dari beberapa fadhilah itu, saya ingin menonjolkan satu keutamaan; yaitu bahwa ayat ini turun langsung kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara Malaikat Jibril as. Bahkan sejatinya ayat ini tidak diturunkan di bumi; ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha ketika beliau dalam perjalanan Mi’raj; yang mana bahkan Jibril as tidak dapat masuk ke Sidratul Muntaha itu.

Dari seluruh ayat dalam Al-Qur’an, hanya dua ayat terakhir Surat Al-Baqarah ini yang diturunkan langsung dengan cara fenomenal seperti itu. Dua ayat ini, begitu sakral dan begitu kuat, sampai-sampai Allah SWT harus menyampaikannya secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW; dan Nabi Muhammad SAW harus menjemputnya langsung ke tempat Yang Maha Tinggi. Untuk itu, mari kita pelajari lebih jauh kedalaman dari dua ayat terakhir surat Al-Baqarah ini lewat berbagai sumber terpercaya yang bisa kita temui. Insya Allah, kita bisa mendapatkan manfaat yang luar biasa.

[collapse]

Tawakkal: Keseimbangan antara Ikhtiar dan Berserah Diri

Tawakkal itu arti asalnya adalah mewakilkan. Kalau saya mewakilkan suatu pekerjaan pada anda, maka itu berarti saya percaya pada kemampuan anda, atau lebih jauh, karena saya juga tidak bisa melakukan pekerjaan itu. Nah, dalam hal tawakkal, kita seolah ‘mewakilkan’ urusan kita kepada Allah SWT; dengan alasan karena kita mengakui kelemahan dan keserba-terbatasan kita serta ke-Maha Kuasa-an Allah SWT.

Katanya, kalau agama islam itu tentang ibadah dan isti’anah (iyya ka na’budu wa iyya ka nasta’in), maka tawakkal ini udah setengah dari agama, yaitu dari sisi isti’anah (minta pertolongan). Tapi kayaknya sih tidak serta merta terpecah dua begitu juga, toh minta pertolongan juga via shalat yang merupakan bentuk ibadah, dan bahkan berusaha itu juga bisa jadi salah satu bentuk ibadah.

Dan memang begitulah, tawakkal itu terdiri dari dua poin atau dua rukun: 1) percaya dan berserah diri, menyandarkan urusan, hanya pada Allah, dan 2) melakukan sebab (ikhtiar). Hilang satu dari dua hal tersebut bisa dibilang cacat tawakkalnya. Ibnu Qayyim rahimahullah pun berpendapat demikian.

Jika kita hanya melakukan poin nomor satu, dan tidak melakukan poin nomor dua (ikhtiar), itu seolah kita menyuruh Allah SWT menyelesaikan semua permasalahan kita, tapi kita-nya diem-diem saja. Kata sepupu saya mah itu kayak memperlakukan Allah SWT seperti pembantu; kita suruh-suruh, tapi kitanya diem tidak berusaha. Bukannya Allah SWT tidak bisa menyelesaikan masalah kita, tapi attitude kita terhadap-Nya yang salah.

Pun jika kita hanya memaksimalkan ikhtiar; poin nomor dua, lalu bergantung pada ikhtiar tanpa adanya rasa bergantung dan pengakuan akan kelemahan diri dan ke-Maha Kuasa-an Allah SWT, maka kita akan jatuh setidaknya pada satu dari dua jurang. Kekecewaan yang menjatuhkan ketika kita diberi kegagalan, atau kesombongan yang melenakan ketika kita diberi keberhasilan. Bahkan ketika anda merasa ikhtiar anda sudah maksimal, pekerjaan anda enteng, dan merasa bahwa anda mestinya bisa menyelesaikan masalah dengan maksimal, perasaan itu harus segera anda enyahkan; diganti dengan rasa tunduk dan bergantung sepenuhnya kepada Yang Maha Mengatur.

Saya yakin banyak diantara kita yang pernah merasakan sakitnya terjatuh ke satu dari dua jurang itu; atau malah dua-duanya. Saya pernah merasakannya, dan semoga Allah SWT melindungi saya; dan anda; dari kekhilafan untuk merasakan jatuhnya kembali.

Supaya bisa lebih asyik pembahasannya, mari kita kasih contoh cerita-cerita menarik. Dari kisah-kisah terdahulu yang penuh hikmah, dan dari kisah pribadi saya sendiri yang semoga bisa relatable dengan kisah anda, pembaca budiman rahimakumullah.

  1. Jangan Meremehkan Ikhtiar walau Seadanya

Kisah pertama adalah tentang Maryam as. Oh, saya harus bikin artikel panjang tentang kisah Maryam as. Kisahnya luar biasa mind-blowing. Insya Allah nanti kalau ada masanya. Di sini saya hanya bisa membahas sedikit bagian saja dari kehidupan beliau, terkait dengan tawakkal.

Ceritanya, ketika beliau sedang hamil Nabi Isa as, beliau mengasingkan diri ke tempat yang jauh (19:22). Beliau bisa dibilang terkena depresi yang amat sangat berat. Wanita mana yang tidak akan terbebani pikirannya jika tetiba mengandung padahal tidak pernah disentuh lelaki manapun. Rencana Allah SWT untuk saat itu adalah menghibur beliau dengan makanan dan minuman, yaitu buah kurma yang pohonnya sedang dijadikan sandaran punggung beliau dan sebuah anak sungai di bawahnya (19:23-24).

Allah SWT menyuruh Maryam as untuk menggoyangkan pohon kurma itu, agar buah kurma itu jatuh (19:25). Perhatikan bahwa, pertama, pohon kurma itu pohon yang kuat; seperti pohon kelapa, secara logika hampir tidak mungkin digoyang-goyang lalu jatuh buahnya. Tapi akhirnya jatuh juga setelah digoyang-goyang kecil oleh Maryam as yang sedang dalam kondisi lemah. Yang kedua, Allah SWT bisa saja membuat pohon kurma itu langsung tengkurap supaya bisa langsung dipetik buahnya; atau lebih jauh, Allah SWT bisa saja langsung mengirim buah kurma itu ke tangan Maryam as seperti yang sudah pernah Allah SWT lakukan ketika Maryam as berdiam di mihrab-nya (2:37). Tapi Allah SWT menyuruh Maryam as untuk menggoyang-goyangkan pohonnya sebagai bentuk ikhtiar.

Dari dua poin tersebut, kita bisa memetik pelajaran; bahwa bahkan ketika kita dalam keadaan tidak berdaya, kita mesti meraih sebab atau berikhtiar untuk keluar dari keadaan tersebut sebisa mungkin; semaksimal mungkin kemampuan kita. Batas maksimal kemampuan Maryam as saat itu adalah menggoyangkan pohon kurma, itupun pakai punggungnya, karena beliau memang sedang dalam keadaan sangat lemah. Tapi kemudian buah kurma yang sudah matang itu jatuh juga. Pelajarannya adalah bahwa bahkan ikhtiar yang sedikit, kalau kita memang mampunya segitu, itu jangan pernah diremehkan; tapi lakukan saja dengan tetap bergantung pada Allah SWT. Dia Maha Pemurah lagi Maha Kaya.

Ada banyak sekali kisah yang bisa dijadikan contoh untuk poin yang ini. Dari sisi yang lebih kontemporer, kita bisa lihat bagaimana pejuang kemerdekaan Indonesia menggunakan bambu runcing, yang secara logika tidak mungkin mengalahkan senapan. Tapi ternyata, senjata itu pula yang paling ditakutkan oleh tentara penjajah. Atau bagaimana seorang manusia yang tidak bisa baca tulis, bisa menjelma menjadi pemberi petunjuk terbesar yang pernah hidup di muka bumi ini.

  1. Jangan Mengagungkan Ikhtiar walau Sudah Super Maksimal

Cerita yang paling gampang untuk menggambarkan hal ini adalah cerita Qarun yang super kaya. Allah SWT mendeskripsikan kunci-kunci harta Qarun itu sangat berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat (28:76). Kuncinya saja sudah berat dipikul, apalagi hartanya ya, hmm… Tapi tidak ada yang salah dengan banyak harta, bahkan di ayat itu juga Allah SWT menjelaskan bahwa itu adalah anugerah pemberian-Nya.

Kesalahan Qarun adalah berpikir bahwa semua harta itu adalah buah dari ilmunya sendiri (28:78), hasil dari jerih payahnya sendiri dalam mencari ilmu. Saya yakin, Qarun itu orang yang luar biasa pintar; dan untuk mencapai tingkat kepintaran itu, dia mesti bersusah payah mencari ilmu. Dan jika hampir tidak ada orang yang bisa lebih pintar dari pada seseorang, lalu si orang itu (merasa) memperoleh banyak harta akibat kepintaran itu, disanalah kesombongan tumbuh subur. Dan sombong itu adalah salah satu bentuk riya; na’udzubillahi min dzalik. Pun pada akhirnya, harta Qarun dibenamkan ke dalam bumi

Menurut saya, ini sangat relatable dengan kehidupan saat ini. Banyak sekali Qarun-qarun kekinian yang berjalan di muka bumi saat ini; bahkan mungkin bersemayam dalam diri-diri kita; dalam diri-diri para cendekia dan hartawan yang sama sekali tidak memiliki rasa rendah diri di hadapan Allah SWT atau bahkan mengingkarinya; menganggap apa yang diterima di rekening mereka adalah murni hasil jerih payah mereka. Semoga kita dijauhkan dari kesombongan yang demikian.

Di sini juga ada tips buat kalian yang ingin kaya dan berkah; pertama, cari ilmu yang luas seperti Qarun, kedua, bersyukur dengan ilmu itu biar ngga kayak Qarun, wkwkwk. Caranya dengan mengakui bahwa tidak ada yang dapat melapangkan dan menyempitkan rezeki, selain Allah SWT (28:82). Insya Allah, kalaupun ga kaya harta, kaya hati dan selalu dicukupkan kebutuhannya serta diberi rasa cukup.

  1. Beberapa Kisah Pengalaman Pribadi

Cerita Sukses IELTS:

Dulu saya pernah bikin tulisan tips-tips mengikuti ujian IELTS (di tautan ini). Setelah dibaca lagi, ternyata memang saya ini waktu itu sedang cukup waras dalam berikhtiar dan berserah diri pada-Nya. Saya latihan hingga melakukan lebih dari 20 kali gladi atau simulasi full test, sebagai ikhtiarnya. Saya sebenarnya cukup pede dengan kemampuan bahasa inggris saya (kemampuan bahasa inggris yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada saya), saya sudah cukup sering menulis dalam bahasa inggris dan cukup sering bercakap dengan turis mancanegara ketika jadi guide. Tapi waktu itu saya sadar betul bahwa kemampuan itu sama sekali tidak cukup; tidak tanpa latihan simulasi dan tidak tanpa doa-doa dan ketundukan pada Yang Maha Mengatur.

Jadi, sebagai bentuk tawakkal-nya, saya sempurnakan dengan minta doa ibu, banyak berdoa ketika shalat, dan juga berdoa sebelum test-nya. Saya bahkan menyimpan doa khusus sebelum tes speaking; doa yang dipanjatkan Nabi Musa as ketika harus menghadapi Fir’aun biar ngga kelu lidahnya karena nervous!

Hasilnya sesuai target, dapat 7,5. Alhamdulillah… 🙂

Sayangnya, ada kemungkinan hasil tes ini hanya akan jadi hasil tes saja; karena saya gagal LPDP dan Chevening, dan sekarang malah bimbang apakah memang saya harus memaksimalkan ikhtiar melanjutkan studi ke luar negeri sesuai dengan hasrat saya dulu; ataukah studi di Indonesia saja, biar dekat sama keluarga; dekat sama Bapak; dekat sama usaha kecil yang belum bisa saya tinggalkan. Saya sedang sangat galau tentang masa depan saya, tapi yah, artikel ini bukan media untuk bercerita tentang hal itu. Yang jadi pelajaran adalah kegagalan ini sepertinya terjadi karena kurang tawakkal; berikut ceritanya.

Cerita Gagal LPDP:

Cerita ini adalah kelanjutan dari cerita pertama. Bedanya, di kasus ini, saya begitu pede bakal lolos. Saya begitu pede bakal lolos seleksi dokumen dan seleksi kepribadian, sehingga di kepala saya hanya ada pikiran-pikiran tentang tes selanjutnya, apa yang mesti saya siapkan ketika wawancara, focus group discussion, dst. Saya tidak minta doa kepada ibu saya; bahkan tidak ngasih tahu kalau saya sudah nge-apply dokumen ke LPDP. Ibu saya juga protes, karena dia tahu-tahu melihat saya galau setelah saya memposting kegalauan saya di instagram.

Saya tidak lolos seleksi kepribadian. Teman-teman saya menghibur saya macam-macam, seperti bilang bahwa pasti ada kesalahan di seleksi LPDP ini, atau saya ini terlalu spesial untuk beasiswa LPDP. Yet, I know that I just don’t deserve it, because I’m too cocky; which is why I didn’t pass the personality test.

“Akang mah songong,” begitulah kata seorang gadis yang sudah melakukan riset tentang saya; dan jadinya ga mau nikah sama saya. Saya pribadi, waktu itu, tidak merasa demikian. Tapi memang kadang kesombongan itu tidak terasa oleh si orang yang sombong; sampai-sampai dia mesti ditampar biar sadar.

Saya begitu yakin bakal lulus LPDP, setidaknya di seleksi awal, sampai saya lupa bergantung dan menyandarkan urusan saya pada Allah SWT. Mungkin karena itulah Allah SWT menjatuhkan saya ke tempat rendah di mana seharusnya saya berada; sebagai hamba-Nya yang tidak punya kemampuan sedikit pun untuk mengatur apa yang akan dan tidak akan saya peroleh. Walaupun terasa pahit, saya mesti bersyukur atas pelajaran itu.

Hingga saat ini saya masih belum memperoleh keseimbangan antara kepercayaan diri untuk mencapai sesuatu dan rasa berserah diri yang total. Saat ini, karena kasus kegagalan-kegagalan yang saya alami, saya lebih sering berdoa saja dan mempelajari islam, tapi merasa ikhtiarnya kurang dan kesulitan untuk bisa percaya diri. Dulu, saya lebih sering ikhtiar dan pede dengan kemampuan diri, tapi doa-nya kurang; seolah merasa aman dengan ikhtiar. Na’udzubillahi min dzalik.

  1. Batas dan Garis Finish dari Tawakkal

Karena rukun pertama dalam hal ikhtiar adalah tentang kepercayaan kita pada Allah SWT, maka ikhtiar kita pun dibatasi oleh apa yang Allah SWT gariskan untuk tidak kita lampaui batasnya. Misal, anda ingin masuk jadi PNS; tentu anda mesti ikhtiar untuk  bisa lolos, tapi ada batas-batas yang tidak boleh dilalui; contohnya nyogok, itu ga boleh.

Jika anda ga lolos jadi PNS gara-gara ngga nyogok, maka itu pasti lebih baik buat anda. Insya Allah, sudah disiapkan jalan yang lebih baik untuk anda. Maka dari itu, garis finish dari tawakkal adalah ridha. Ketika kita sudah ikhtiar dan sudah berserah diri, lalu kita tetap tidak mendapatkan yang diinginkan, maka yang pertama mesti dilakukan adalah evaluasi, apakah ada yang salah dengan tawakkal kita? Apakah ada yang salah dengan niat ingin jadi PNS? Jangan-jangan niatnya cuma biar bisa kerja ringan dan dapat gaji, lalu menghabiskan waktu dengan main zuma.

Jikapun anda merasa mantap dengan niat yang baik, lalu ikhtiar telah dirasa maksimal, dengan tetap berserah diri pada Allah SWT, maka mestinya anda tidak begitu terpengaruh dengan hasilnya. Karena apapun hasilnya, anda akan menerimanya dengan ridha; kembalikan pada niat baik anda, pergiat lagi usaha; cari jalan lain jika perlu, lalu melanjutkan urusan anda ke urusan berikutnya sembari terus berharap pada Allah SWT; seperti simpulan surat Al-Insyirah.

Jika anda sudah lolos PNS karena nyogok, atau sudah kepalang tanggung melakukan transaksi riba, ya yang sudah-sudah apa boleh buat, banyak-banyak istighfar memohon ampun saja kepada Allah SWT dan minta segera dibersihkan dari hal-hal yang tidak diridhai Allah SWT. Saya juga sering kepikiran sih tentang orang-orang yang saya sogok; kebanyakan polisi; semoga Allah SWT mengampuni saya dan kita semua.

Nah, jika anda belum sampai garis finish dan anda sudah tahu batas-batasnya, maka jangan berhenti perjuangkan, sembari terus berserah diri pada-Nya dengan mempergiat ibadah dengan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa memberi ketentuan selain Allah ‘Azza wa Jalla. Seperti kata pepatah para penikung ulung, selama janur kuning belum melengkung, masih ada harapan; berharaplah pada Allah SWT. wkwkwk….

Side note: Ikhtiar bareng non Muslim? Apakah masih masuk Tawakkal?

Dari satu riwayat tentang peristiwa Hijrah, Nabi Muhammad SAW menyewa seorang guide dari kaum musyrikin (non-muslim) untuk menunjukkan jalan dari Mekkah menuju Madinah. Allah SWT bisa saja menurunkan wahyu, atau memberi ilham dalam menunjukkan jalan. Tapi tidak, ikhtiar Nabi SAW adalah dengan menggunakan jasa guide; dan dia dari orang non-muslim; dan peristiwa hijrah bukanlah peristiwa yang kecil.

Jadi berikhtiarlah dengan sesama manusia tanpa membeda-bedakan, nanti kan bisa sekaligus menunjukkan bagaimana kebaikan akhlaq kita sebagai seorang muslim. Siapa tahu jadi jalan datangnya petunjuk Allah SWT kepada mereka yang belum memperolehnya.

[collapse]

Penutup: Optimisasi tawakkal

Bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuannya, itu memang betul. Tapi yang paling tahu kemampuan kita, itu bahkan bukan kita, Allah-lah yang mengetahuinya. Kita hanya punya tanggung jawab untuk menunjukkan usaha maksimal kita.

Pa Ustadz Nouman Ali Khan berargumen, jika ayat ini berbunyi “laa yukallifullahu nafsan illa bi wus’ihaa”, maka memang artinya “Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya”, tapi karena ayat ini berbunyi “laa yukallifullahu nafsan illa wus’ahaa”, maka mestinya ayat ini diinterpretasikan seperti ini: “Allah tidak membebani seseorang melebihi potensinya,” which makes a lot of sense.

Islam itu mudah, kita semua pastinya diberi kemampuan untuk melakukan tugas-tugas inti dan menghindari larangan-larangan utama yang disyariatkan; atau setidaknya kita diberi potensi untuk melakukannya. Sepertinya tidak mungkin seseorang yang sehat fisik dan jiwanya memberi dalil bahwa Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya, untuk kenyataan bahwa dia belum bisa shalat wajib tepat waktu. Ibadah yang wajib itu mudah. Yang sulit adalah amalan hatinya, ikhlas hanya untuk Allah SWT dan tawakkal dalam prosesnya (yang mana merupakan bahasan bab 1 dan bab 2 buku I’maalul Qulub). Di tingkat lebih lanjut, mengoptimalkan dan menyempurnakan tawakkal itulah yang mesti jadi target.

Yaitu, dalam hal ikhtiar, kita mesti memaksimalkan potensi yang kita miliki; sebagai bukti syukur atas anugerah yang Allah SWT berikan kepada kita; dan dalam hal berserah diri, kita mesti berserah diri secara total pada Allah SWT sebagai bentuk penghambaan kita kepada-Nya dan percaya atas sifat-sifat-Nya yang Maha Kuasa atas segala sesuatu; serta di garis finish, kita mesti ridha atas semua jalan yang telah dipilihkan-Nya dan percaya bahwa itulah jalan terbaik bagi kita. Sepertinya memang begitulah tuntunan perfect balance dalam ajaran yang luar biasa ini. Subhanallah.

Perfectly balanced as all things should be, eh?

Wallahu A’lam.

Fajrin Yusuf Muttaqin
Garut, 18 September 2018




****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.