Qurrota A’yun: Ekspresi Kebahagiaan Sejati

Qurrota A’yun bukan istilah yang jarang saya dengar. Beberapa teman saya malah diberi nama Qurrota A’yun oleh orang tuanya. Beberapa sekolah islam juga menggunakan istilah tersebut. Saya juga tahu betul istilah tersebut diambil dari salah satu do’a yang ada dalam Al-Qur’an; dan do’a-nya pun saya sudah hafal sejak dulu. Berikut adalah doanya.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami, dari isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S. Al-Furqan 25: 74)

Memang ini juga merupakan do’a yang populer, dan saya awalnya juga merasa cukup mengerti mengapa do’a ini populer. Tentu jika sudah berkeluarga, do’a ini akan selalu relatable bagi semua muslim, khusunya para orang tua.

Tapi justru disitulah letak kesalahan saya. Saya tidak merasa relatable karena belum berkeluarga, dan belakangan ini malah merasa menjauh (lagi) dari berkeluarga (sad). Jadi ketika khatib shalat jum’at kemarin membaca do’a ini, saya pikir, “yah, nantilah baca do’a ini mah, kalau sudah punya anak istri, insya Allah…

Untungnya, Allah SWT memberi saya ilham (bukan ilham akew); berupa rasa penasaran dengan istilah Qurrota A’yun. Awalnya sih sepele, karena Qurrota A’yun terdengar sama dengan Kurrota Al-qadam yang artinya Sepak Bola, wkwk… Saya kira ada hubungannya sama bola, tapi ternyata yang satu pake ق yang satu pake ك, jadi sama sekali beda kata dan beda arti, wkwk… Walaupun demikian, rasa penasaran ini membawa saya gugling ke beberapa artikel, dan seperti biasa, nonton video di Bayyinah TV (yang mana link-nya tak bisa saya berikan karena berbayar), bahkan nonton video ustadz-ustadz di Indonesia, yang mana jarang saya lakukan (bukan karena tidak respect ke mereka, tapi kadang saya merasa kurang sreg saja dengan cara dakwah beberapa dari ustadz-ustadz populer di Indonesia).

Tolong diperhatikan bahwa saya menulis ini berdasarkan sumber sekunder, jadi saya sangat mungkin salah. Jika salah, mohon jangan dibully seperti ustadz Evie Effendie, tapi tolong dikoreksi saja di kolom komentar yah. Saya tidak ingin menggurui, saya hanya ingin berbagi.

So here it is.

Qurrota A’yun: Mata yang Sejuk vs Mata yang Panas

Salah satu yang bikin saya penasaran adalah Qurrota A’yun yang diartikan sebagai “penyenang hati” di Al-Qur’an yang ada di HP saya, yang mana bikin saya mengangkat alis. Karena A’yun itu setahu saya artinya mata, bukan hati. Kata yang sama dengan yang dipakai di frasa ‘Ainal Yaqin  yang bisa diartikan sebagai keyakinan karena sudah melihat dengan mata kepala sendiri, atau ‘Ainul Rohimah (mata yang penuh kasih sayang) yang merupakan nama asli dari penyanyi dangdut Inul Daratista, wkwkwk…

Dan ternyata artinya memang mata. Qurrota A’yun itu jika diterjemahkan ciples bisa diartikan sebagai mata yang sejuk, atau pandangan yang sejuk. Tentu ini merupakan idiom dan bukan arti sebenarnya; seperti ringan tangan, bukan berarti ringan tangannya, atau lidah yang tajam, bukan berarti lidahnya tipis sampe bisa motong kue. Jadi mata yang sejuk bukan berarti matanya baru ditetesin insto jadi sejuk.

Yah kalian juga pasti ngerti lah ya istilah ini merupakan idiom konotatif, bahkan mungkin juga kalian sudah bisa mengartikan istilah “mata yang sejuk” ini secara intuitif. Toh istilah ini juga sering dipake di komentar-komentar Youtube Nisa Sabyan; yang katanya bikin mata dan kuping cowok-cowok jadi adem kayak ubin mesjid.

Tapi yah, itu juga bisa jadi masalah, karena tiap-tiap kalian bisa mengasosiasikan mata yang adem pada banyak hal; bisa adem karena kecantikan/kegantengan, bisa karena budi pekerti, bisa karena harta melimpah, bisa karena hal-hal lain. Nah, dalam hal ini, artikel ini menjelaskannya dengan sangat bagus, ( Sumber ).

Jadi katanya orang Arab dulu itu udah pake istilah “mata yang sejuk” dan juga kebalikannya “mata yang hangat” atau kalau ekstrim mungkin bisa diartikan “mata yang panas” untuk beberapa ekspresi.

Dalam literatur Arab dulu katanya ekspresi “mata yang sejuk” dipake kalo seorang yang lagi bepergian di tengah gurun terkena badai pasir besar, lalu tetiba dia menemukan gua yang bisa dipake berlindung; nah, si traveler ini biasanya pake istilah “qurrota ‘ainayya”, atau akhirnya mataku bisa merasa sejuk. Ekspresi lega karena akhirnya dia menemukan tempat berlindung yang memberi rasa aman, juga rasa tenteram.

Lawan katanya juga sering dipakai untuk mengutuk orang lain yang dibenci, yaitu istilah “adkhanallahu ‘ainahu”, yang bisa diartikan “semoga Allah membuat matanya menjadi panas”. Sejauh pengetahuan saya sih adkhan itu artinya berasap, seperti surat Ad-Dukhan (cmiiw), atau mungkin berdebu jika dimasukkan ke konteks si traveler di dalam badai pasir. Katanya ada prosa dari seorang pembunuh yang ingin menghabisi nyawa seorang kepala suku untuk membalaskan dendam dari suku-nya. Dia bilang, “mata kaum-ku akan terus terasa panas, selama pisau ku belum terasa panas oleh darahnya.” Dalam hal ini, istilah “mata yang hangat/panas” dipakai untuk mewakili perasaan-perasaan negatif, seperti kemarahan, rasa frustrasi, kecewa, atau bahkan dendam.

Ada juga contoh dua orang ibu yang menangis melihat anaknya di bandara. Ibu yang satu menangis karena anaknya akan pergi untuk waktu yang lama, sedang ibu yang kedua menangis karena anaknya yang pergi sejak lama akhirnya kembali. Nah, si ibu yang pertama disebut “matanya hangat”, sedang si ibu kedua disebut “matanya sejuk”, walau dua-duanya menangis. Bisa dibilang istilah yang pertama, mata yang hangat, mewakili perasaan-perasaan seperti sedih dan duka; sedangkan “mata yang sejuk” mewakili perasaan bahagia.

Nah, dari contoh-contoh ini bisa dibilang kalau idiom Qurrota A’yun, atau mata yang sejuk, itu ekspresi ketika mendapatkan suasana yang nyaman, aman, tentram; juga pembebasan dari emosi-emosi negatif, seperti duka atau emosi yang meluap, seperti kemarahan dan kekecewaan. Bayangkan jika kalian pulang ke rumah, melihat anak istri, lalu perasaan apa yang muncul? Sangat beruntunglah jika mata kalian menjadi sejuk karenanya.

Nabi Musa as. : Menyejukkan Mata Sang Ibu

  • Pelajaran pertama:

Saya menyinggung kisah ibu Nabi Musa as dalam beberapa artikel yang lalu. Dikisahkan bahwa ketika menghanyutkan anaknya di sungai, beliau seolah kosong hatinya (Al-Qasas:10), secara emosional beliau lumpuh seketika. Ibu mana yang tega melihat anaknya dibawa arus menuju ketidak-pastian, entah selamat atau tidak, jikapun selamat siapa juga yang memungutnya, dan jikapun dipungut, apakah akan selamat dari kebijakan lalim Fir’aun untuk membunuh setiap bayi laki-laki (yang mana membuat beliau juga tidak punya pilihan).

Tapi pilihan itulah yang diilhamkan Allah SWT kepada ibunda Nabi Musa as (Al-Qasas:7): menghanyutkan anaknya ke sungai. Pilihan yang ga masuk akal untuk menghadapi aturan kejam yang juga tidak masuk akal. Walaupun Allah SWT mengilhamkan juga (dalam ayat yang sama) bahwa bayi itu akan kembali ke pelukannya dan dia tidak usah merasa sedih, tapi tetap saja ternyata hati ibunda Nabi Musa as menjadi kosong. Disebutkan, jika saja Allah SWT tidak meneguhkan hatinya untuk diam melihat anaknya hanyut, lalu bahkan dipungut oleh istri Fir’aun, sudahlah rahasia beliau ketauan.

Qadarullah, hanya dalam beberapa jam, Nabi Musa as kembali ke pelukan ibunya. Ketika bayi kecil itu menangis ingin disusui, tidak ada wanita yang bisa menyusuinya kecuali ibunya sendiri.

Nah, pada kelanjutannya, yaitu ayat 13 surat Al-Qasas, disebutkan bahwa Allah SWT kemudian mengembalikan bayi itu kepada ibunya, كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا , supaya matanya menjadi sejuk. Ya, Allah SWT menggunakan idiom yang sama untuk menunjukkan bagaimana perasaan ibunda Nabi Musa as ketika bertemu kembali dengan anaknya, dalam keadaan aman, memeluknya dan menyusuinya. Bayangkan bagaimana bahagianya perasaan ibu Nabi Musa as saat itu; dan Allah menggunakan idiom itu “taqarra ‘ainuhaa”, matanya menjadi sejuk.

Apakah kita merasakan kebahagiaan atau kesejukan yang sama ketika melihat keluarga kita? Hmmmmmmmm……….

  • Pelajaran kedua:

Tidak hanya kepada ibu kandungnya. Di kisah yang sama, idiom yang sama juga dipakai oleh ibu angkatnya , istri Fir’aun, ketika beliau menemukan bayi yang hanyut di sungai. Tepatnya di ayat 9 surat Al-Qasas, beliau berkata kepada Fir’aun bahwa bayi kecil itu: قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ, penyejuk mata bagiku dan bagimu. Lebih lanjut, beliau meminta suaminya agar tidak membunuhnya, dan bahkan memintanya untuk mengangkat si bayi menjadi anak.

Pak Nouman Ali Khan melihat pesan tersirat dari ayat ini, yang menurut saya sangat sangat menarik.

Jika istilah menyejukkan mata biasa digunakan sebagai ekspresi emosi ketika menemukan perlindungan dari badai pasir, maka istri Fir’aun pastilah selalu dan selalu diterpa badai tersebut, sehingga ketika beliau menemukan bayi yang hanyut disungai, beliau menyebut bayi itu “penyejuk matanya”, seolah dia baru saja menemukan sebuah gua untuk berlindung dari badai; badai yang disebabkan oleh suaminya.

Bahkan dalam ayat tersebut, beliau berkata bahwa bayi itu penyejuk mata bagiku dan bagimua (lii wa laka); padahal untuk sepasang suami istri, beliau mestinya menyebutkan frasa yang lebih sederhana, yaitu lanaa, bagi kita; seharusnya frasa itu menjadi “penyejuk mata bagi kita”. Tapi dalam ayat itu, beliau membatasi aku dan kamu, seolah beliau ada di sisi yang berbeda dari suaminya; dan jika melihat rekam jejak suaminya, Fir’aun, sangat wajar jika memang badainya itu berasal dari suaminya itu. Badainya melanda seluruh negeri dan beliau tidak bisa menemukan perlindungan, karena semua yang ada di negerinya ada di bawah kaki suaminya; kecuali satu bayi kecil tak berdaya yang nantinya akan mengubah dunia.

Sekedar Pengingat Dalam Berkeluarga dan Ber-rumah Tangga

Di bagian ini saya tidak akan terlalu panjang, karena yah, saya sendiri belum ber-rumah tangga dan belum memiliki keluarga sendiri; masih keluarga bawaan. Saya tidak ingin jadi sok tau. Tapi semoga ini jadi pengingat yang bermanfaat.

Bahwa memang kita itu sering diterpa badai ujian dan cobaan yang tak terelakkan. Dan jika badai itu tiba, tentu kita ingin perlindungan, atau setidaknya mencari perlindungan.

Jika rumah kita sendiri, tempat kita dan keluarga kita tinggal, bukan merupakan gua yang menyejukkan mata dari badai-badai di luar, maka sungguh sangat rugilah kita. Jangan sampai seperti istri Fir’aun, yang mendapati badai itu ada di rumahnya sendiri; di ranjangnya sendiri. Jangan sampai terbalik, badai-nya ada di dalam rumah, dan perlindungannya, penyejuk matanya ada di luar rumah.

Sebaliknya, sangat beruntunglah kita jika kita mendapati rumah kita, tempat kita dan keluarga kita tinggal, menjadi gua perlindungan yang menyejukkan mata, menyejukkan hati. Jika ada satu ekspresi kebahagiaan di dunia yang paling besar, yang bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an, itu adalah kebahagiaan Ibu Nabi Musa ketika bisa kembali memeluk dan menyusui anaknya dalam keadaan tenteram dan damai.

Mata yang sejuk, menurut saya, itu adalah salah satu idiom untuk ekspresi kebahagiaan sejati; dan dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa kesejukan mata itu diperoleh dari pasangan dan keturunan; dari keluarga; lewat sebuah do’a yang sangat powerful:

...رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

… “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami, dari pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Penutup: my family

Tadi siang adik saya pulang ke rumah setelah bermotor dari Bandung, dari kampusnya, untuk mengurus entah apa urusannya. Tidak lama setelah dia tiba, saya lihat adik saya itu tertidur; dan handphone-nya masih melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Adik saya ini, walau sedang berkutat dengan studi fisika nya di ITB, masih lanjut menghafal Qur’an; bahkan hafalannya jauh lebih banyak dari saya.  Melihatnya tumbuh menjadi lelaki yang jauh lebih baik dari saya, kakaknya, membuat saya luar biasa bahagia.

Teringat adik bungsu saya, Nafa, yang tahun ini ditakdirkan gagal masuk ke perguruan tinggi yang diidamkannya; dan sekarang memilih untuk mengikuti sekolah tahfidz dahulu. Entah mengapa, saya merasa lebih bahagia juga adik bungsu saya berada di sekolah tahfidz itu tahun ini dan belajar dari pengalaman pahit bernama kegagalan.

Lalu adik saya Icha dan Tasya yang sedang berkutat dengan studinya. Tasya dengan segala keterbatasan dan tantangannya untuk mempertahankan indeks prestasinya; Icha dengan studi S2-nya yang diwarnai masa kehamilan dan rumah tangga baru. Keduanya berjihad mencari ilmu dengan badainya masing-masing. Juga kakak perempuan saya yang tengah berkutat dengan anak-anaknya yang sering tantrum, namun tetap sabar dan terus mengutamakan pendidikan dan pertumbuhan anak-anaknya.

Teringat kakak tertua saya, yang dalam diamnya, sangat dihormati semua adik-adiknya. Sejak saya mulai bisa berpikir, dia sudah memperjuangkan apa yang dianggapnya benar di masyarakat, sembari memperjuangkan kesejahteraan keluarganya, saya dan semua adik-adiknya.

Di kamar depan, ada dua insan yang membuat kita menjadi diri kita saat ini. Ibu dan ayah saya. Ibu yang tetap sabar dan bertahan di sisi ayah, bagaimanapun kondisi ayah saya. Juga ayah yang badainya berasal dari tubuhnya sendiri. Keduanya sedang khusyuk mendengarkan sebuah kajian dari Ustadz Adi Hidayat via Youtube.

I can’t ask for a better family.

Lalu tetiba, mata saya menjadi sejuk. Alhamdulillah. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita, pasangan, keturunan, keluarga, yang menjadi Qurrota A’yun. Aamiin.

Wallahu A’lam.

Fajrin Yusuf M
Garut, 11 Agustus 2018
***




****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.