Distant World: Final Fantasy of the odd Past, Present, and Future

Distant World: Final Fantasy of the odd Past, Present, and Future

Sedikit cerita, dulu di pertengahan tahun ’80-an, perusahaan video game ternama asal jepang, Square, tengah menghadapi kebangkrutan. Salah satu desainer game di sana, pak Hironobu Sakaguchi, berniat mau kembali dunia akademik saja kalau perusahaannya ini bangkrut. Tapi sebelum bangkrut, pak Sakaguchi ingin bikin sebuah game yang berarti secara personal buat dia; tanpa embel-embel ingin laku dipasaran. Game ini adalah usaha terakhir dia di Square; setelah game ini saya balik ke kampus, begitulah dulu niat beliau. Makanya game ini dia beri nama Final Fantasy.

Sejak saat itu, sudah dibikin lebih dari 15 game Final Fantasy di berbagai konsol (yang jadul sampai yang modern), juga sudah dibikin sedikitnya 6 film Final Fantasy. Sepertinya belum ada franchise game RPG yang bisa lebih sukses dari franchise Final Fantasy.

Saya juga main Final Fantasy, dulu, di masa-masa paling aneh dalam hidup saya.

Masa kecil saya penuh dengan video game; percaya atau tidak, saya pernah drop out sekolah Ibtidaiyah (setara SD) karena dari rumah pake seragam, tapi ngga pergi ke sekolah, alias mabal, lalu main PS; sendiri, di rental PS; terus begitu selama se-semester. Beberapa game yang saya mainkan dulu itu memang beberapa RPG juga, kayak Resident Evil, Medal of Honor, Driver 2, dan Tomb Raider. Tapi kebanyakan sih game-game ringan kayak Harvest Moon, atau kalau di rumah main Sims, SimCity, dan semacamnya.

Tidak, saya tidak main Final Fantasy pas masih SD, walaupun sudah bisa sebenarnya karena game Final Fantasy pertama itu rilis tahun 1986. Lagipula kalau saya main Final Fantasy pas masih SD pun saya ga akan ngerti karena game ini perlu mikir; tidak hanya dari segi gameplay, tapi juga dari segi cerita. Game ini butuh pemain yang sudah matang secara intelektual supaya bisa dinikmati secara total. Game ini tidak hanya menyuruh anda membunuh monster-monster, game ini ingin anda berpikir tentang monster-monster itu, tentang darimana si monster berasal, tentang semesta didalam game ini, dan awal mula dari semuanya.

Saya memainkan game ini di semester akhir perkuliahan saya di ITB dulu. Jika di SD dulu, saya sampai drop-out karena sering mabal main PS; maka di ITB dulu saya sampai mesti telat satu semester karena kerjaan saya selama satu semester itu hanya makan, melamun, main Final Fantasy, dan tidur (dan galau sampai kejang-kejang).

Jadi wajar jika anda bertanya, game apa yang paling bagus yang pernah saya mainkan, saya akan menjawab Final Fantasy (tepatnya Final Fantasy IX yang rilis tahun 2000 di konsol PlayStation; ya saya main game PS jadul pake emulator di laptop; di saat temen-temen yang lain main game yang grafisnya canggih-canggih). Lebih jauh, game Final Fantasy ini tidak hanya terbaik buat saya, tapi juga jadi game yang paling berarti buat saya.

Game ini yang menemani saya melewati masa-masa paling aneh dalam hidup saya. Sepertinya kurang tepat dibilang seperti itu; karena masa-masa itu jadi aneh karena saya banyak melewatkan hidup di dalam fantasi itu.

***

Hari ini ada dua hal aneh yang mengingatkan saya pada masa-masa penuh fantasi dalam hidup saya.

Yang pertama dari video Bayyinah TV yang belakangan sering saya akses. Di salah satu video itu, pa Nouman menjelaskan salah satu penyebab kita kurang fokus dan kurang khusyuk itu karena di kepala kita terlalu banyak informasi yang tidak bermanfaat. Beliau melanjutkan dengan contoh yang tidak saya duga, game Final Fantasy; beliau secara spesifik menyebutkannya.

Beliau bilang kalau kepala kita seringkali malah jadi ahli dalam hal yang tidak bermanfaat, seperti kalau main game Final Fantasy. Si pemain mesti tahu karakter yang dimainkan, kekuatannya apa, gimana jalan ceritanya, gimana cara mengoptimalkan kekuatannya, armor dan senjata apa yang harus dipakai; dan semacamnya. Kita jadi ahli dalam hal-hal seperti ini, bukan hal yang betul-betul bermanfaat.

Mendengar hal itu, saya ketawa sih. Pertama karena yang beliau ucapkan itu cukup ngena di saya; yang dulu pernah main game Final Fantasy ini sampai betul-betul menyelami cerita dalam gamenya; yang kedua, karena saya punya pikiran kalo beliau pun main game itu sebelum beliau jadi ustadz sampai-sampai beliau tahu kalau game ini memang game yang lumayan kompleks.

Hal yang kedua yang mengingatkan saya adalah teman saya; teman yang memperkenalkan saya pada game ini, sekaligus salah satu teman yang paling berjasa mengeluarkan saya dari masa-masa paling aneh dalam hidup saya; juga teman yang membuat saya telat studi hanya satu semester saja ngga lebih. He’s Allah’s mercy for me. Teman saya ini mengirim saya dua berita; yang pertama bahwa dia akan menikah minggu ini, dan berita yang kedua adalah tentang salah satu composer musik legendaris yang musiknya telah mengisi hampir semua game Final Fantasy; pak Nobuo Uematsu; dia pensiun dari berkarya karena sakit.

Untuk kabar yang pertama, saya berbahagia untuknya; walaupun agak bikin hati gentar juga sih, karena tidak nyangka dia bakal lebih dulu nikah dari saya, hehehe… Untuk kabar yang kedua, saya cukup sedih juga mendengarnya; sampai-sampai saya merasa harus melakukan nostalgia mendengarkan musik-musik soundtrack Final Fantasy.

And it’s just odd, how old music can tear open remembrance of the past… that particular odd past…

***

Sudah beberapa lama ini, saya merasa kembali hidup dalam dunia fantasi. Bukan fantasi tentang apa yang saya inginkan seperti yang biasa saya bayangkan. Tapi fantasi betul-betul fantasi, yang coba saya tulis dalam bentuk sebuah novel. Yah, dari dulu saya sudah bikin naskah-naskah novel dan gagal bahkan sebelum si naskahnya selesai. Kali ini saya ingin menyelesaikannya.

Percaya atau tidak, novel ini juga bagi saya seperti Final Fantasy bagi pak Sakaguchi di tahun 1987; terlebih, salah satu inspirasi cerita saya untuk novel ini adalah cerita dari Final Fantasy juga. Saya bertekad untuk berhenti berfantasi jika novel ini telah selesai dan ternyata tidak ada atau sedikit yang mau baca. Menulis cerita adalah salah satu hal yang masih bisa memberi saya rasa percaya diri, dan kali ini saya ingin memaksimalkannya.

Saya ingin bikin sesuatu yang berarti buat diri saya sebelum saya menyerah dan menutup dunia yang penuh warna di kepala saya ini. Di hati kecil saya, tentu saya ingin mengikuti jejak kesuksesan Final Fantasy di ranah video game; tapi saya ingin menempatkan keinginan itu tidak ditempat utama. Yah, saya tahu, Allah SWT yang Maha Mengatur dan Maha Memberi; ini justru adalah ikhtiar terakhir saya untuk memaksimalkan kemampuan saya dalam menulis dan bercerita; kemampuan yang telah Allah SWT anugerahkan pada saya. Saya akan mencoba tawakkal dan ridha dengan semua hasilnya.

Jika saya gagal, ya mungkin saya pun akan kehilangan kepercayaan diri untuk menulis; dan mungkin itu yang terbaik buat saya; biar saya berjuang di medan tempur yang lain.

But until then, I’ll sit down in front of my keyboard, and bleed my stories open ‘til the last drop of it… Until I can see myself in the future, seeing those red blood of mine, and tell my self, I’m proud to be able to fight in this battle…

Fajrin Yusuf M
Garut, 30 September 2018

PS. Some say, writing is the loneliest job. Now, I can see why Allah grants me this love and devotion to write. If the first command Allah gave to Muhammad was to read, I guess, His first command for me would be to write. And I may be actually unable to write as Muhammad was unable to read. Here to find out. 🙂




****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.