Cerita Nabi Musa dan Khidr

Salah satu resolusi saya tahun ini adalah menghafal surat Al-Kahfi. Nah, saat ini saya sudah tiba di ayat-ayat tentang cerita Nabi Musa as yang bertemu dengan seseorang misterius yang digadang memiliki ilmu melebihi Nabi Musa as sendiri, yaitu Nabi Khidr as.

Sebelum saya mulai ke cerita, perlu diketahui bahwa salah satu poin dari Surat Al-Kahfi adalah tentang cara kita menyikapi cerita-cerita ini. Ditekankan dari cerita pertama, yaitu cerita tentang Ashabul Kahfi, yang membuat orang-orang begitu tertarik dan penasaran; tentang berapa jumlah mereka, mengapa mereka membawa seekor anjing, benarkah itu anjing betulan, di mana letak gua mereka, bagaimana mereka bisa tidur selama tiga ratus tahun, dan pertanyaan-pertanyaan semacamnya. Allah SWT menjelaskan bahwa nanti akan ada orang yang berdebat tentang hal-hal tersebut, dan memang terjadi hingga sekarang, perdebatan itu masih ada, padahal jelas sekali pelajaran dari cerita Ashabul Kahfi bukan tentang jumlah mereka, atau warna anjingnya, atau di mana letak gua-nya.

Apa pelajaran dari cerita Malin Kundang? Ya tentu agar kita tidak durhaka pada orang tua. Pertanyaan-pertanyaan tentang di mana setting kejadian, seberapa kaya Malin Kundang, dia bikin bisnis apa, nama istrinya siapa, dan yang semacamnya, itu tidak begitu relevan dan jangan sampai menjadi pusat perhatian apalagi perdebatan.

Begitu pula dengan cerita perjalanan Nabi Musa as mencari ilmu kepada Nabi Khidr as. Banyak yang terjebak pada mistisisme cerita ini, menggali-gali riwayat-riwayat lain yang tak jelas sumbernya, berdoa ingin dipertemukan dengan Nabi Khidr as, menurunkan ilmu-ilmu lain yang begitu saja disematkan pada nama beliau, dan lain semacamnya.

Perlu diketahui bahwa bahkan di dalam cerita ini, di Surat Al-Kahfi ayat 60-82, nama Nabi Khidr as tidak disebutkan. Nama Nabi Khidr as bahkan tidak pernah disebutkan dalam Al-Qur’an dan cerita tentang beliau memang hanya ada di Surat Al-Kahfi ini. Fakta ini cukup buat saya untuk mengambil kesimpulan bahwa bahkan nama beliau bukanlah pelajaran utamanya; atau lebih jauh, tentang siapa beliau, bagaimana beliau bisa memperoleh ilmunya, dan bisakah saya mendapatkan ilmu itu, dst dst. Itu bukan nilai-nilai dari cerita ini.

Nilai-nilai dari cerita ini terdapat dari apa yang diceritakan. Let’s focus on that!

Prolog Cerita

Nama Khidr diterangkan dalam sebuah hadits shahih Bukhari yang mengisahkan lebih detil cerita ini dari Ubay bin Ka’b, bahwa Nabi SAW pernah bercerita tentang kisah ini.

Suatu hari, Nabi Musa as ditanya oleh pengikutnya dari Bani Israil, “Siapa manusia yang paling berilmu diantara semua manusia yang ada? (saat itu)” Dari pertanyaan ini saja sudah terlihat kebiasaan jelek dari Bani Israil yang sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan tak penting hanya karena rasa penasaran. Tapi atas kehendak Allah SWT juga pertanyaan-pertanyaan mereka jadi pelajaran untuk kita.

Nabi Musa as menjawab, “Aku yang paling tahu.”

Jawaban ini ditegur oleh Allah SWT karena Nabi Musa as tidak menyematkan Allah SWT sebagai yang menguasai semua pengetahuan. Beliau lupa menyematkan nama Allah SWT saat itu. Dan keberlupaan adalah salah satu tema utama di dalam Surat Al-Kahfi karena sejak awal pun Allah SWT menegur Nabi Muhammad SAW agar jangan mengatakan akan mengerjakan ini dan itu, kecuali dengan “Insya Allah” (an-yasyaa Allah), lalu agar kembali mengingat Allah SWT ketika lupa (ayat 24).

Allah SWT memberi wahyu pada Nabi Musa bahwa di suatu tempat bernama “Majma’al Bahrain” yang berarti pertemuan dua lautan ada “seorang hamba dari hamba-hamba Kami” (‘Abdan min ‘Ibadina) yang diberi kelebihan ilmu dari Nabi Musa as. Selain disebutkan dalam hadits, ungkapan ‘Abdan min ‘Ibadinaa ini juga tertuang di ayat 65 surat Al-Kahfi ini. Jika ada satu profil utama yang dijabarkan Allah SWT tentang Nabi Khidr as, maka dia adalah “salah seorang hamba dari hamba-hamba Kami”, seolah beliau adalah hanya salah satu hamba biasa diantara lautan hamba-hamba Allah yang lain.

Tapi itulah salah satu pelajarannya, ungkapan “hamba” atau “budak” mungkin merupakan ungkapan paling menghinakan yang bisa diterima manusia. Apa status yang lebih buruk dari budak/hamba sahaya? Lebih baik nganggur daripada kerja paksa kan? Perbedaannya dengan Allah SWT adalah, status hamba Allah adalah status tertinggi yang bisa kita terima sebagai manusia di hadapan-Nya. Setiap shalat, kita bertekad untuk menghambakan diri lewat ucapan “iyyaka na’budu” dalam Al-Fatihah. Bahkan kita juga menyebut bahwa Nabi Muhammad adalah juga hamba Allah selain juga rasul-Nya (‘abdullahi wa rasuluhu).

Terlebih di ayat 65 ini, sang orang misterius yang di hadits dijelaskan dengan nama Khidr, diberi profil tambahan bahwa dia telah diberi rahmat dan diberi ilmu dari sisi-Nya. Hal inilah yang membuat Nabi Musa as sontak terperangah. Beliau pun ingin menemuinya. Allah SWT mewahyukan agar Nabi Musa as pergi mencari dengan membawa seekor ikan dalam ember dan bahwa Nabi Musa as akan menemui orang ini tepat di tempat beliau kehilangan si ikan.

Jadi dimulailah petualangan Nabi Musa as, yang diriwayatkan membawa seorang asistennya yang masih muda bernama Yusha bin Nun (dari penuturan Kristen disebut Joshua).

Cerita Nabi Musa as dan Asistennya

Petualangan ini dimulai dari ayat 60 Al-Kahfi. Nabi Musa as berkata pada si asistennya bahwa “aku tidak akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua laut, atau aku akan berjalan terus sampai bertahun-tahun”. Dari ayat ini kita memetik pelajaran bagaimana tekad kuat Nabi Musa as untuk menuntut ilmu. Sesuatu yang harus kita tiru. Nabi Musa as adalah nabi yang paling banyak dikisahkan, paling banyak disebutkan, dalam Al-Qur’an. Beliau adalah guru besar bagi kita semua, dan di kisah ini, kita diminta memperhatikan bagaimana sikap beliau ketika ingin menuntut ilmu, berguru pada orang lain. Saya membayangkan sebuah cerita di mana Dumbledore mempelajari ilmu-ilmunya hingga jadi penyihir terhebat dalam dunia fantasi karya J.K. Rowling; this story must be awesome.

And this story is magical as well. Nabi Musa as dan asistennya itu lalu menemukan sebuah batu besar dan mereka berdua tidur di bawah batu tersebut. Saat itulah si ikan loncat dari ember dan entah bagaimana loncatannya bisa terus membawa si ikan melaju hingga mencapai air laut (ayat 61). Sebenarnya hal itu membuat Nabi Musa as dan asistennya bangun, tapi mungkin karena kejadiannya begitu aneh, mereka berdua tidur lagi. Mungkin mereka menganggapnya mimpi; atau mungkin saya saja yang salah interpretasi, hehe, mohon koreksi bila salah.

Ketika bangun, mereka berdua lupa sama sekali tentang ikannya dan lanjut berjalan hingga tengah hari. Di tengah hari, Allah SWT memberi rasa lelah kepada Nabi Musa as hingga beliau menyuruh asistennya untuk membawakannya makanan bekalnya (ayat  62). Saat itulah sang asisten menyadarinya dan memberi-tahu Nabi Musa as bahwa dia lupa tentang ikannya, dan tak ada yang membuat dia lupa kecuali setan (ayat 63). Sekali lagi, keberlupaan adalah salah satu tema utama dalam Surat Al-Kahfi. Nabi Musa as pun ingat bahwa tempat yang dijanjikan adalah tempat ketika beliau kehilangan ikannya; maka segeralah mereka berdua kembali ke batu besar tersebut (ayat 64) dan menemukan seorang pria misterius. Nah, biasanya, ketika orang bercerita kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidr as, cerita dimulai dari sini. Di sini juga diceritakan bahwa Nabi Musa as dan Nabi Khidr as melakukan perjalanan berdua saja, yang berarti si asisten tidak ikut lagi.

Cerita Nabi Musa as dan Nabi Khidr as

Nabi Musa as memberi salam, tapi langsung diserang dengan pertanyaan retorik oleh Nabi Khidr, “begitukah salam di negerimu?”, seolah Nabi Musa as menyapanya dengan kurang sopan, wkwk… Nabi Musa as memperkenalkan diri dengan bilang, “Saya Musa”.

“Maksudmu, Musa dari Bani Israil?” kata Nabi Khidr as, seperti yang tidak menyangka akan bertemu Nabi Musa as. Nabi Musa as mengiyakannya. Nabi Khidr as berkata, “Kau punya ilmu Allah yang diberikan khusus padamu, dan aku tidak tahu apapun tentang ilmu tersebut, dan aku punya ilmu Allah yang diberikan khusus padaku, dan kau tidak tahu tentangnya.”

Salah satu pelajaran dari percakapan ini adalah kerendahan hati dari kedua nabi ini dalam hal ilmu. Keduanya tidak mengagungkan ilmu masing-masing seperti yang sering kita lihat di masyarakat kita saat ini.

Btw, percakapan ini yang dinarasikan hadits ya, tidak dalam Al-Qur’an. Percakapan selanjutnya dinarasikan dalam Al-Qur’an.

Nabi Musa as bertanya “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku apa yang diajarkan kepadamu sebagai petunjuk?” (ayat 66)

Dari ayat ini kita bisa memetik poin bahwa proses pembelajaran mesti diikuti dengan tujuan. Ilmu tanpa tujuan hanya bakal jadi ide saja, seperti sains tanpa teknik. Lebih buruk, ilmu tanpa tujuan bisa mengarah kepada hasil akhir yang salah. Belajar mestinya bisa lebih mendekatkan kita pada Sang Pencipta. Seperti Nabi Musa as yang menggebu-gebu untuk mencari Nabi Khidr as, bukan hanya karena penasaran dengan ilmunya, tapi karena dengan ilmunya Nabi Musa as berharap beliau bisa mendapatkan lebih banyak petunjuk (dan beliau sudah punya Taurat!!). Ini adalah pesan yang sangat kuat yang nanti di akhir cerita bisa kita petik pelajarannya.

Selanjutnya Nabi Khidr as menjawab “Sungguh kau tidak akan sanggup untuk bersabar bersamaku.” (ayat 67) “Dan Bagaimana engkau dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (ayat 68)

Sekarang bayangkan apa yang telah dialami Nabi Musa as selama hidupnya, semua cobaan yang dilaluinya, ketidak-adilan dan kekejian Fir’aun yang dihadapinya, kejahilan Bani Israil yang tidak ada habis-habisnya, dua kali harus terusir dari negerinya, berjuang sendiri di negeri orang dalam kefakiran, dst dst. Lalu Nabi Khidr as dengan semena-mena bilang bahwa Nabi Musa as tidak akan sanggup sabar? Please!

Buat kalian yang sudah tahu jalan ceritanya, pasti juga sudah tahu kalau plot twist-nya adalah ternyata bahkan Nabi Musa as pun tidak berhasil bersabar atas ilmunya Nabi Khidr as. Yang menarik adalah Nabi Khidr as yang membawa konsep sabar dalam menuntut ilmu. Biasanya, kita menerapkan konsep sabar itu ketika kita menghadapi cobaan. Nah, dalam menuntut ilmu pun ternyata kita mesti punya kesabaran juga. Kalau ingin belajar kalkulus, kita mesti sabar belajar aljabar dulu; begitu kan? Jadi soson-soson lah bersabar dalam belajar.

Selanjutnya kita mesti belajar dari sikap Nabi Musa as yang alih-alih tersinggung beliau dengan rendah hati menghadapi Nabi Khidr as. Beliau berkata, “Insya Allah (Jika Allah menghendaki), kau akan mendapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun.” (ayat 69)

Kali ini, Nabi Musa as menyematkan nama Allah SWT; menyiratkan bahwa kesabaran beliau adalah semata pemberian dari Allah SWT, dan tanpa intervensi dari Allah SWT beliau pun tidak akan berdaya. Ini juga bisa jadi penekanan pelajaran yang sama dengan ayat 24 sebelumnya. Sikap seperti ini mesti kita pupuk dalam kegiatan sehari-hari; agar jiwa kita selalu tersadar bahwa setiap saat, kita bergantung penuh pada-Nya. Dan jika dipikir-pikir, salah satu sifat pribadi Nabi Musa as sepertinya memang dalam hal tempramen; pernah sekali membuatnya dalam masalah ketika beliau memukul seorang anak buah Fir’aun sampai tewas. Di lain waktu, beliau sampai berdoa meminta ditemani oleh Nabi Harun as dengan alasan bahwa Nabi Harun as adalah pembicara yang lebih baik dan lebih tenang daripada beliau; padahal Nabi Musa as adalah nabi yang paling banyak diambil quote-nya dalam Al-Qur’an.

Anyway, Nabi Khidr as menjawab, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku menerangkannya kepadamu.” (ayat 70) Syarat inilah yang sulit dipenuhi nantinya oleh Nabi Musa as. Di tiga kasus yang dihadapi, Nabi Musa as selalu mempertanyakan tindakan Nabi Khidr as yang boleh dibilang di luar akal sehat; yang nantinya menjadi ilmu tersendiri untuk kita petik.

Maka berjalanlah keduanya, hingga mereka bertemu dengan sebuah perahu. Keduanya berbicara pada si pemilik perahu agar bisa ikut nebeng. Si pemilik perahu ternyata mengenal Nabi Khidr as jadi dia mempersilakan keduanya untuk ikut nebeng tanpa mesti bayar. Di tengah perjalanan, ada seekor burung pipit hinggap di ujung perahu, beberapa kali si burung mencelupkan paruhnya ke dalam air. Nabi Khidr as kemudian berkata kepada Nabi Musa as, “Ilmu yang kamu dan aku miliki dari lautan ilmu Allah itu tidak lebih dari beberapa tetes air yang ada di paruh si burung itu”. Ini narasi hadits ya, tidak ada di Qur’an. Walau demikian, ya kita mesti berucap Subhanallah, maha luas ilmu yang ada di sisi Allah SWT.

Uniknya, setelah berkata demikian, Nabi Khidr as mengambil kapak dan melubangi perahunya, wkwkwk. Nabi Musa as berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya?” Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar. (ayat 71) Siapapun yang punya akal sehat pasti punya reaksi yang sama dengan Nabi Musa as ketika itu.

Tapi Nabi Khidr as malah membalikkan pertanyaannya, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” (ayat 72) Kalau beliau jadi dosen, pasti beliau ini dosen killer.

Nabi Musa as berkata, “Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.” (ayat 73) Kembali, tentang keberlupaan. Walau sebenarnya Nabi Musa as sangat logis dalam mempertanyakan hal tersebut, Nabi Musa as memilih untuk menahan diri dan mengakui kesalahan dirinya yang lupa. Kalau Soe Hok Gie ada di sana mungkin dia sudah berujar quote “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah.” He surely won’t have patience, wkwkwk…

Lalu keduanya berjalan lagi; hingga keduanya berjumpa dengan seorang anak dan tetiba Nabi Khidr as membunuhnya. Di hadits malah disebutkan bahwa beliau mematahkan leher si anak (so disturbing).

Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat munkar.” (ayat 74) Sekali lagi, siapapun yang punya akal sehat, pasti reaksinya sama atau malah lebih kaget dari Nabi Musa as. Saya sendiri jika sedang bersama Nabi Khidr as saat itu mungkin saya sudah lari ketakutan dan melaporkan beliau ke polisi. I don’t have that sabr as well.

“Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?” (ayat 75) Nabi Khidr as kembali memberikan pertanyaan tersebut.

Nabi Musa as berkata, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku.” (ayat 76) Sepertinya di sini Nabi Musa as mulai menyadari bahwa ilmu ini, apapun itu, akan sangat sulit diterima. Maksud saya, jika saat ini ada suatu ilmu yang memperbolehkan seseorang untuk membunuh seorang anak kecil, seluruh dunia pasti mengutuknya. Saya pun akan mengutuknya. Saya akan kehilangan kesabaran di titik ini; atau bahkan mungkin dititik pertama ketika beliau melubangi perahu. Ilmu yang dimiliki Nabi Khidr as jelas bukan sesuatu untuk diajarkan dan dipraktekkan oleh orang lain, apalagi saya, dan kamu yang alhamdulillah masih membaca. Kenyataan bahwa Nabi Musa as masih mampu mengikuti Nabi Khidr as hingga kasus ketiga adalah bukti bahwa Nabi Musa as memiliki kesabaran dan kegigihan yang luar biasa dalam menuntut ilmu.

Lalu kemudian keduanya berjalan lagi; hingga keduanya sampai ke suatu negeri, mereka berdua meminta makanan kepada para penduduknya, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka dan bahkan memberikan kesan yang tidak bersahabat. Jadi mereka tidak makan.

Di negeri itu pula keduanya melihat sebuah rumah yang dindingnya hampir roboh. Nabi Khidr as menegakkannya kembali dengan tangannya sendiri. Melihat Nabi Khidr as bekerja keras untuk membangun kembali dinding rumah itu agar kembali tegak, Nabi Musa as hanya melihatnya; bukan karena tidak ingin membantu, tapi karena segan pada Nabi Khidr as. Hanya saja kemudian Nabi Musa as berkata, “Orang-orang penduduk negeri ini tidak memberi kita makan dan tidak memberi kita keramah-tamahan, jika kau mau, kau bisa dapat imbalan untuk pekerjaan itu (membangun dinding)”. Itu narasi haditsnya; kalau narasi Qur’annya lebih singkat; yaitu bahwa “Dia (Musa) berkata, ‘Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu.’ ” (ayat 77)

Nabi Khidr as berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya. (ayat 78)

Di sanalah akhir perjalanan itu; sudah tiga kasus dan Nabi Musa as tidak habis pikir di setiap kasusnya. Di kasus terakhir bahkan Nabi Musa as tidak memberi pertanyaan apapun; hanya mengutarakan yang dipikirkannya; tapi itu terhitung bentuk ketidak-sabaran juga ternyata. Di hadits-nya, Nabi Muhammad SAW memberi komentar, “Semoga Allah merahmati Musa; Aku sangat berharap Musa dapat terus menunjukkan kesabarannya agar kisah keduanya itu bisa diceritakan (lebih banyak) pada kita.” Saya juga berharap hal yang sama, tapi Allah SWT memutuskan bahwa pelajarannya telah sempurna hingga sampai di sana. Lagipula pelajaran tentang kesabaran dalam menuntut ilmu mestinya sudah bisa kita petik sebelumnya.

Begini penjelasannya:

Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu. (ayat 79)

Dan adapun anak itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. (ayat 80) Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) lain yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya). (ayat 81)

Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.” (ayat 82)

Dari penjelasan ini, sepertinya jelas bahwa Allah SWT telah memberi Nabi Khidr sedikit ilmu dari yang ghaib, yaitu masa depan.

Pelajaran dari cerita

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, bahwa dalam pencarian ilmu, kita mesti punya tujuan; dan tujuan itu adalah untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Ilmu itu haruslah memberi petunjuk. Pada cerita ini, Nabi Musa as tidak berhasil mendapatkan ilmu Nabi Khidr as, tapi mendapatkan pelajaran dan petunjuk-Nya. Pelajaran dan petunjuk-Nya inilah yang begitu penting sampai dimunculkan kembali dalam kitab kita, Al-Qur’an.

Bahwa terkadang, kita bisa dihadapkan pada realita yang begitu pahit; kehilangan, kegagalan, pemandangan ketidak-adilan, dan banyak macamnya. Realita itu bisa membuat kita ragu akan keberadaan Tuhan, seperti banyak dipertanyakan orang; “Jika Tuhan itu ada, bagaimana mungkin Dia mengizinkan hal seperti ini terjadi? Bagaimana mungkin Dia menciptakan orang-orang hanya untuk kelaparan atau peperangan atau ketidak-adilan yang begitu menjijikan ini?” dan banyak lagi pemikiran-pemikiran semacam itu yang kini membuat banyak orang lebih memilih untuk jadi ateis atau jadi agnostik saja. Saya pribadi pernah punya pikiran-pikiran seperti itu, terutama ketika sedang diuji dengan ujian yang cukup berat, atau melihat pemandangan ketidak-adilan seperti di tulisan saya yang dulu ini.

Ketika realita itu datang, kesabaran kita-lah yang sesungguhnya sedang diuji. Nabi Musa as pasti bisa memahaminya, bahwa bahkan beliau yang merupakan seorang Rasul tidak pernah bisa mendapat gambaran besar (bigger picture) dari semua hal yang terjadi, terutama yang ada di masa depan. Dalam hal ini, satu konsep penting yang harus dimiliki semua orang yang beriman adalah kerendahan hati dalam ketidak-tahuan. Sains tidak pernah betul-betul tahu gambaran besarnya; sayangnya, para pemuja sains menolak untuk mempercayai apa yang tidak mereka ketahui; mereka menolak untuk bersikap rendah hati dalam ketidak-tahuan dan berserah diri.

Jika diberi poin-poin, menurut saya ada beberapa poin penting yang bisa kita petik dari cerita ini, sebagai berikut:

  1. Sabar dan berprasangka baik terhadap ketentuan Allah SWT
  2. Keberlupaan dan kesegeraan untuk kembali mengingat Allah SWT
  3. Kerendahan hati dalam ketidak-tahuan
  4. Sikap-sikap dalam pencarian ilmu; yaitu
Trivia: How this story unfold

Jarang orang bertanya, apa tujuan cerita pertama, cerita Nabi Musa as dan asistennya, yang menjadi pendahulu cerita Nabi Khidr as ini?

Allah SWT mewahyukan pada Nabi Musa as bahwa beliau akan menemuinya ketika beliau kehilangan ikannya. Ada kesesuaian cerita awal ini dengan cerita besarnya.

  • Nabi Musa as pergi bersama muridnya; lalu melanjutkan perjalanan bersama Nabi Khidr as sebagai murid.
  • Sang murid lupa bahwa ikannya telah hilang, Nabi Musa as pun lupa untuk berpegang pada kesabarannya; seolah ikan itu merupakan simbol dari kesabaran yang dimiliki.
  • Nabi Musa as diberi rasa lapar untuk mengingatkannya pada si ikan, pun begitu pula di kasus ketiga, Nabi Musa as mengeluh bahwa si penduduk tidak memberinya makan dan kalau Nabi Khidr as mau, mereka bisa dapat makanan untuk pekerjaan itu.
  • Di titik ketika Nabi Musa as merasa lapar dan sang murid kembali ingat pada si ikan, mereka berdua kembali meniti jejak hingga sampai pada batu pertama. Pun juga ketika Nabi Musa as sebagai murid sampai di titik ketiga, Nabi Musa as dan Nabi Khidr as kembali meniti pelajaran hingga titik pertama.
  • Allah SWT menjanjikan sang pemberi pelajaran kepada Nabi Musa as ketika beliau kehilangan ikannya; Nabi Musa as mendapat pelajarannya ketika beliau kehilangan Nabi Khidr as.

This is a very eloquent speech of the Qur’an!

Subhanallah, Wallahu A’lam.

Semoga Allah menjadikan kita orang yang senantiasa bersabar dan bersyukur, gigih dalam pencarian ilmu, serta senantiasa diberi pengingat dalam keberlupaan. Aamiin.

Fajrin Yusuf M
Garut,
Minggu, 2 September 2018



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.