Al-Mulk: Perfectly Balanced As All Things Should Be

Setelah nonton Infinity War, saya jadi sedikit paham kenapa orang suka dengan sosok Thanos. Kejahatan yang dia lakukan, tidak seperti banyak penjahat generik di film super hero, punya alasan yang (sekilas terlihat) solid; sampai-sampai orang berdiskusi tentang motif kejahatannya. Dia juga dibuat memiliki perasaan sebagai sebuah karakter yang super kuat dan jahat. Dan salah satu yang paling membuat dia relatable adalah dia yang terobsesi dengan keseimbangan, seperti kita semua juga sedikitnya terobsesi dengan keseimbangan, sampai tahap tertentu.

Walaupun demikian, seperti banyak film lainnya, tentu film ini juga banyak plot holes nya. Banyak orang yang bertanya kenapa tidak begini, kenapa tidak begitu. Kenapa Dr Strange tidak memotong tangan Thanos seperti Wong memotong tangan salah satu anak buah Thanos, dan banyak kenapa-kenapa lainnya. Jawabannya bisa dibuat-buat sih, seperti jawaban “karena Dr Strange udah melihat semua kemungkinan outcome-nya, jadi semua tindakan yang diambil sudah sesuai dengan satu outcome berhasil dari 14 juta outcome gagal yang dia lihat.” Jawaban ini juga bikin saya mengernyit, karena Thanos pun mestinya bisa melakukan itu.

Dengan time stone, Thanos bisa melihat semua kemungkinan masa depan dan mengambil tindakan supaya planet-planet tidak hancur seperti planet Titan tempat tinggalnya; dan tindakannya itu ga mesti genosida. Sayangnya, dia memilih genosida sebagai jalan keluar; yang mana membuat dia menjadi penjahatnya. Saya sih berpendapat si Thanos itu hanya malas mikir saja.

Yah, terlepas dari semua diskursus tentang Thanos, yang membuat saya merenung adalah bahwa bahkan dengan kekuatannya yang seolah omnipoten sebagai sebuah karakter hasil rekayasa imajinasi, Thanos tetap tidak bisa melihat gambaran besar dari kehidupan dan kematian; dan waktu. Ya, dia berhasil melenyapkan setengah dari kehidupan, tapi lalu apa? Mungkin hidup berlanjut dengan lebih baik, tapi sampai kapan? Dia tetap tidak menjawab pertanyaan filosofis terpenting yang tidak pernah bisa dijawab logika hingga saat ini; apa dia hanya menunda kekalahan saja?

At the end of the day, he’s just sitting in his ricefield, smiling to a sunrise, to the beautiful creation that has perfect balance by itself; unaware of the Creator of all things.

***

Keseimbangan dalam Al-Qur’an

Oke, di tulisan kali ini, saya ingin membahas sedikit tentang konsep keseimbangan dalam Al-Qur’an, yaitu yang ada di beberapa ayat pertama surat Al-Mulk.

Sebenarnya, saya bisa memilih banyak surat dan ayat lain untuk membahas konsep keseimbangan, seperti di salah satu surat favorit saya, Ar-Rahman ayat 7-8-9, yang menyebutkan kata unik “Mizan”, sebagai keseimbangan, dan perintah kepada kita untuk memelihara keseimbangan itu. Atau saya juga bisa membahas tentang Ummatan Wasathan (umat pertengahan) yang disimpan tepat ditengah surat Al-Baqarah (ayat 143, dari total 286 ayat), yang membuat saya bergidik dan berujar quote Thanos pada Gamora, “Perfectly balanced as all things should be.” Atau saya juga bisa membahas ayat Kursi yang sangat seimbang dari segi konstruksi argumen, karena dari 9 kalimat di satu ayat itu, kalimat pertama mencerminkan kalimat terakhir, kalimat kedua mencerminkan kalimat kedua sebelum terakhir, dan seterusnya; hingga di tengah (kalimat kelima), Allah SWT berfirman bahwa Dia mengetahui apa yang ada di depan dan apa yang ada di belakang; perfectly mirroring all the sentences, Subhanallah.

Ada banyak sekali pelajaran tentang konsep keseimbangan dalam Al-Qur’an. Di sini, saya ingin membahas sedikit tentang surat Al-Mulk, yang biasa diartikan sebagai kerajaan (atau kekuasaan). Sedikit juga ingin memperlihatkan bahwa ‘kekuasaan’ Thanos, sebegitu dibikin omnipoten oleh imajinasi, tetap tidak bisa mengalahkan Mulk-nya Allah SWT.

Terlebih surat Al-Mulk juga banyak keutamaannya; dari beberapa riwayat hadits yang shahih. Salah satu keutamaannya adalah surat ini nanti bisa menjadi syafa’at di hari akhir untuk siapa saja yang menjadi ashab (sahabat) dari surat ini. Narasi hadits-nya memang ashab, tidak hanya membaca, menerjemahkan, atau mempelajari; tapi sampai jadi sahabatnya. Jadi tulisan ini pun salah satu upaya saya supaya bisa jadi ashab bagi surat Al-Mulk ini. Semoga saya dan anda yang baca juga menjadi ashab bagi surat ini. Aamiin.

Al-Mulk 1:3

Tujuan dari artikel ini adalah ayat ke-3 yang menyatakan, “Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang (tafawut) pada ciptaan Ar-Rahman”. Tapi untuk sampai ke sana, tentu kita harus meniti ayat pertama dan kedua terlebih dahulu. Untuk simpulan, kita juga mesti lihat keterusan dari ayat ke-3 ini dan mungkin sampai ayat keempat yang berupa tantangan unik.

Jadi ayat pertama berbunyi:

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ

Tabarak: Penuh berkah,
Al-Ladzi Biyadihi: Dia yang ditangan-Nya (ada dalam kuasa-Nya),
Al-Mulk: semua kerajaan,
Wa huwa: dan Dia
‘ala kulli syai-in: atas segala sesuatu,
Qadiir: Maha Mengatur

Bisa di lihat, di ayat pertama ini, kata Allah tidak di sebut secara dzahir sebagai yang mempunyai semua kerajaan. Di beberapa ayat lain disebutkan “Tabaarakallah”, tapi di sini kata Allah tidak disebutkan. Kita tahu bahwa sosok yang dibicarakan itu tentu adalah Allah SWT, tapi untuk pendengar yang tidak percaya dengan Allah (pendengar utama: kaum kafir Quraisy), ketika pertama kali mendengar ini, mereka mestinya penasaran dengan siapa sosok yang punya semua kerajaan ini. Mungkin kalau saat itu kaum kafir Quraisy sudah nonton Infinity War, mereka bisa adu argumen dengan penasaran, apakah yang sedang dibicarakan ini si Thanos itu?

Tapi kemudian ada kata “Tabaarak”, yang berarti penuh berkah. Berkah sendiri secara bahasa punya makna “bertambah dengan stabil hingga di atas ekspektasi”. Misal, anda nulis satu artikel, dan karena satu artikel itu jutaan orang mendapat manfaat di luar ekspektasi anda. Nah, boleh anda bilang kalau artikel anda itu berkah dalam artian secara bahasa. Atau jika anda berternak dua ekor ayam, lalu di luar ekspektasi, dalam setahun ayam anda bertambah hingga sampai seratus ekor. Nah, boleh juga anda bilang peternakan ayam anda berkah, walaupun ada satu syarat yang belum terpenuhi.

Syarat itu adalah pertambahannya stabil. Jika dalam setahun anda jadi punya seratus ekor ayam dan anda tidak bisa menyediakan kandang dan pakannya, maka dalam waktu singkat kondisi peternakan anda bisa berubah kacau. Itu berarti masih tidak berkah. Begitu juga dengan kekuasaan, ketika kekuasaan semakin luas, biasanya kondisi semakin tidak stabil.

Semakin kuat Thanos, semakin semua avenger menggebu untuk melawannya. Kekuasaan Thanos bukan kekuasaan yang stabil karena hampir semua manusia (dan mahluk lainnya) memberontak padanya dan mencoba menghentikannya. Selain itu, ketika kekuasaan semakin luas, semakin sulit seseorang untuk mengontrol apa yang dikuasainya. Thanos sendiri sampai harus punya banyak anak buah, the Black Order, yang membantu dia mengumpulkan batu-batu infinity itu. Thanos tidak punya kontrol mutlak atas hal-hal yang berada di luar jangkauannya.

Di ayat pertama ini, dinyatakan bahwa ada satu Sosok penuh berkah yang menguasai semua kerajaan dengan stabil, tanpa ada mahluk yang bisa melawan-Nya, dan Dia Maha Mengontrol atas segala sesuatu; semuanya; dari yang besar hingga yang kecil. Tentu bukan Thanos yang sedang dibicarakan dalam ayat ini; mestinya begitulah kesimpulan dari perdebatan kaum kafir Quraisy yang sudah nonton Infinity War lalu mendengarkan ayat ini.

Di ayat kedua, Allah SWT berfirman

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

Al-ladzi khalaqa: Dia Yang Menciptakan
Al-mauta wa al-hayata: kematian dan kehidupan,
Liyabluwakum Ayyukum: untuk menguji kamu, siapa di antara kamu
Ahsanu ‘amalan: yang lebih baik amalnya.
Wa huwa Al-‘Azizu Al-Ghafur: Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.

Salah satu hal yang menarik dari ayat ini adalah Allah SWT berfirman bahwa Dia ‘menciptakan’ kematian dan kehidupan. Biasanya Allah SWT secara langsung menyatakan bahwa Dia berkuasa menghidupkan (amaata) dan mematikan (ahyaa); tapi di ayat ini Allah SWT ingin menekankan bahwa bahkan kehidupan dan kematian itu adalah sebuah ciptaan, dan Dia yang menciptakannya. Thanos bisa membunuh/mematikan banyak orang dan memutar waktu untuk menghidupkan kembali Vision; tapi menyebut kematian dan kehidupan sebagai sebuah ciptaan itu di luar imajinasi kita. It’s mind-boggling.

Dan Dia menciptakan kematian dan kehidupan itu untuk menguji siapa diantara kita yang lebih baik amalnya. Makna ini tidak pernah dibahas dalam Infinity War. Sebelum bicara tentang keseimbangan kehidupan, mestinya ada fondasi yang solid dulu tentang apa makna kehidupan dan kematian itu sendiri? Dalam hal ini, Allah SWT menyatakan bahwa tujuan penciptaan kematian dan kehidupan adalah untuk menguji siapa diantara kita yang lebih baik amal perbuatannya. Kalau Thanos meyakini itu, pasti tindakannya akan berbeda.

Side note: beberapa pertanyaan filosofis

Mungkin muncul di benak anda, untuk apa Allah SWT menguji hamba-Nya?  Dia sudah tahu segala sesuatu bukan?

Yah untuk menjawab pertanyaan ini saya mungkin harus bikin satu artikel panjang lagi. Hanya saja yang ingin saya tekankan adalah, yang pertama, pertanyaan itu juga sering muncul di benak saya, tapi bukan murni karena ingin pemahaman. Pertanyaan itu muncul akibat dari keluhan-keluhan tentang ujian yang dirasa sulit; padahal bisa dilalui dan selalu terlalui. Jika pertanyaan itu muncul dari keluhan-keluhan saja, maka yang dibutuhkan bukan jawaban dari pertanyaan ini, tapi dukungan moral dan bantuan agar bisa segera lulus dari masa sulit dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan.

Yang kedua, jika pertanyaan itu murni pertanyaan filosofis yang mengganggu benak anda, yang kadang juga muncul di benak saya dalam bentuk seperti itu, maka saya yakinkan anda bahwa anda tidak akan menemukan jawabannya, selain mengakui kelemahan, ketidak-tahuan, dan menundukkan semua intelejensia kita dalam menerima bahwa Allah SWT memiliki sifat Iradah, atau berkehendak. Dia berkuasa atas segala sesuatu; dia bisa saja membuat anda terjerumus dalam kekejian, menghilangkan semua jalan anda pada kebaikan. Dia, sebagai Yang Maha Kuasa, bisa saja membuat anda langsung di neraka cuma buat main-main. But He doesn’t, does He?

Fakta bahwa masih ada iman dalam hati anda, masih ada teman yang mengajak anda pada kebaikan, itu adalah bukti bahwa selain Iradah, Dia pun sangat Pemurah. Dia adalah Ar-Rahman. Fabi ayyi alaa-i rabbikumaa tukadzibaan?

[collapse]

Dia adalah Yang Paling Perkasa, juga Maha Memaafkan. Dia begitu perkasa dalam menguasai semua kerajaan, menciptakan konsep, desain, dan memanufaktur kematian dan kehidupan, untuk menguji siapa dari kita yang lebih baik amalnya; dan dalam hal ujian-ujian itu, Dia Maha Pemurah dalam Memaafkan kita yang mungkin tidak lulus dalam banyak ujian. Orang bilang, “power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.“ Hal itu mungkin berlaku untuk Thanos, tapi tidak untuk Dia yang Maha Memaafkan.

Jadi jangan pernah putus harapan atas ampunan  Allah SWT.  Selama niat kita murni meminta ampunan, dan kita sungguh-sungguh memperbaiki diri, dosa sebesar apapun, Insya Allah, luruh bersih atau bahkan dikonversi menjadi amalan kebaikan (ada riwayat yang menyatakan demikian).

Lalu selanjutnya, Allah berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ

Alladzi khalaqa: Dia yang Menciptakan
Sab’a samawatin: Tujuh Langit
Tibaqan: Berlapis-lapis
Maa Taraa: Tidak akan kamu lihat
Fi khalqi: Dalam ciptaan
Ar-Rahmaan: Yang Maha Pengasih
Min Tafawut: Ketidak-seimbangan (cacat)
Farji’il Bashar: Maka kembalikanlah pandanganmu
Hal taraa: Apakah kamu melihat
Min Futhuur: Kecacatan?

Sebelum ke isi ayat, dapat di lihat bahwa ayat kedua dan ketiga ini dimulai dengan kata Al-ladzi, diartikan “Dia yang”. Kata ini merujuk pada ayat pertama kata pertama, yaitu “tabaarak”. Sehingga kata “Penuh berkah” disematkan selain pada ayat pertama, juga pada ayat kedua dan ketiga. Maksud saya, cara kita melihat ketiga ayat itu mestinya seperti ini:

Penuh berkah Dia yang ditangan-Nya semua kerajaan … (1) (Penuh berkah) Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan … (2) (Penuh berkah) Dia yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, … (3)

Kata berkah yang berarti “bertambah dengan stabil hingga di atas ekspektasi”, disematkan pada-Nya yang menciptakan kematian dan kehidupan dan tujuh langit yang berlapis. It’s all increasingly stable with perfect balanceSubhanallah.

Yang menarik dari ayat ini adalah lompatan dari kematian dan kehidupan, tetiba ke penciptaan tujuh lapisan langit. Dan ini bukan yang pertama kalinya. Di ayat 28 surat Al-Baqarah, Allah SWT juga menjelaskan tentang kematian dan kehidupan, lalu di ayat selanjutnya, ayat 29, penjelasan Allah SWT seolah meloncat ke penciptaan tujuh lapisan langit.

Kata kunci dari loncatan penjelasan ini adalah kata “Tibaqan”, yang diterjemahkan sebagai berlapis-lapis. Secara bahasa, sebenarnya Tibaqan tidak hanya berarti berlapis-lapis, tapi berlapis secara mulus; seamless; tanpa jahitan, tanpa paku, tanpa perekat, tanpa sambungan, tanpa persendian. Yang mana ini menggambarkan batas antara kehidupan dan kematian; seamless.

Dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 28 tadi bahwa kita asalnya mati, lalu dihidupkan, lalu dimatikan, lalu dihidupkan; seolah kehidupan dan kematian itu memang berlapis-lapis secara sempurna tanpa kelim apapun; seperti halnya tujuh lapisan langit yang dicipta sebegitu mulusnya, yang dijelaskan di ayat 29. Orang muslim mestinya percaya, bahwa kematian hanya lapisan berikutnya dari proses kita mewarisi Firdaus yang telah diberikan pada Adam as. Oleh karena itu, kita mesti memaksimalkan hidup sesuai dengan tujuannya; yaitu, menghamba pada-Nya, lalu menghadapi ujian-ujian dan lulus dengan amal kebaikan yang penuh dengan berkah-Nya.

Do you have a more solid base on why do we live?

If we live only to die and go back to what so-called non-existent; then why life matters? Why don’t you just snap off all humanity and end all of this already, O’ mighty Thanos?

***

Tidak akan kamu lihat pada ciptaan Ar-Rahmaan ada tafawut.

Di sini, Allah SWT menggunakan panggilan Ar-Rahmaan, alih-alih lafadz Allah sendiri. Saya sudah pernah menulis sedikit tentang arti kata Ar-Rahmaan di artikel ini, silakan didalami.

Tafawut itu banyak diterjemahkan sebagai ketidak-seimbangan. Memang sepertinya itu kata yang paling mewakili. Namun, mesti dicermati bahwa penggunaan kata seimbang seringkali disama-ratakan dengan istilah fifty fifty, yang mana bukan merupakan penggunaan kata tafawut.

Misal, anda bikin telor dadar untuk pasangan. Lalu si pasangan bilang kalo telor dadarnya kurang garam. Nah, itu berarti ada tafawut dalam si telor dadar; kadar garamnya tidak pas, tidak seimbang. Contoh lain, jika anda bilang film Infinity War itu kenapa begini, kenapa tidak begitu; atau akan lebih bagus jika begini, tidak begitu; itu berarti ada tafawut dalam si film itu. Allah SWT menyatakan bahwa pada ciptaan-Nya tidak ada ketidak-pasan atau ketidak-seimbangan macam itu. Semua sesuai kadarnya.

Thanos pun menghargai keseimbangan itu; atau malah terobsesi. Sayangnya, dari jutaan cara untuk menjaga keseimbangan itu, dia memilih menghilangkan setengah kehidupan agar bisa seimbang dengan sumber daya alam yang ada. Menurut saya, itu merupakan bentuk kemalasan berpikir yang amat sangat laten dan berbahaya; yang memang seringkali ditemukan di dalam pemikiran-pemikiran radikal.

Padahal jika saja dia berpikir lebih jauh, lebih dalam. Seperti yang dianjurkan kelanjutan ayat ini. Farji’il bashar: kembalikan pandanganmu atau lihatlah lagi. Perintahnya bukan “lihatlah!”, tapi “lihatlah kembali!”. Apa yang harus dilihat lagi? Semuanya; semua ciptaannya.

Pertama saya belajar ayat ini, saya langsung melihat buah pisang yang ada di meja saya. Kebetulan siang itu saya baru membahas packaging produk yang paling cocok untuk produk minuman di usaha kecil saya yang baru. Ketika melihat pisang itu, yang langsung terpikir adalah bagaimana Allah SWT menciptakan packaging pisang; luar biasa sempurna. Manusia baru belajar beberapa dekade kebelakang untuk membuat packaging bio-degradable; apa kita tidak pernah belajar bagaimana Allah SWT memberi packaging untuk buah-buahan?

Si kulit pisang melindungi buah pisang di dalamnya, as all packaging should be. Bentuknya menarik, bahkan untuk keponakan saya yang belum sampai dua tahun usianya. Dibuang ke tanah, dia menyuburkan tanah. Dijadikan pakan ternak, dia menyehatkan ternak. Dipelajari, dia punya segudang manfaat. Dijadikan artikel, dia menambah penghasilan adsense yang punya artikel, wkwkwk…

Tidak ada tafawut, bahkan dalam kulit pisang.

Bahkan tidak hanya tafawut, Allah SWT juga menantang dengan pertanyaan, “hal taraa min futhur?” yang biasa diterjemahkan, “Apakah kamu melihat cacat?”

Futhur ini masih satu asal kata dengan fathir (bukan futur yang penyakit malas yah, itu kayaknya pakai ta kalau ini pakai tho). Fathir ini dijadikan nama surat, yang ke 35; dan sering diartikan sebagai pencipta. Padahal secara bahasa, fathir ini aslinya adalah retak atau Yang Meretakkan. Jadi Futhur diartikan sebagai retak atau cacat. Ada sebuah riwayat bahwa Ibnu Abbas RA tidak mengerti apa arti sesungguhnya dari Fathir, sampai beliau melihat dua orang badui yang bertengkar memperebutkan sebuah sumur. Yang satu bilang, “aku ini fathir dari sumur ini”, maksudnya dia yang pertama kali meretakkan dan menggali sumur itu; walau badui yang kedua mungkin yang membuatnya sampai airnya keluar.

Dalam hal penciptaan, biasanya kita membuat sesuatu dari yang sudah ada. Misal, membuat pakaian; awalnya kita merobek kain; membuat retakkan pada si kain, lalu menjahit kainnya dengan potongan kain yang lain. Begitu juga dalam pembuatan hal-hal lain. Ketika Allah SWT menantang manusia dengan pertanyaan, “Apakah kamu melihat suatu futhur?”, itu bisa jadi beberapa pertanyaan tantangan, seperti “apakah kamu melihat retak? Apakah kamu melihat sambungan-sambungan, jahitan, atau apapun yang digunakan Allah SWT untuk merakit dan menyempurnakan ciptaan-ciptaan? Apakah kamu melihat retakan pertama ketika Allah SWT menciptakan semesta ini pertama kali?”

Dari kulit pisang saja saya bisa bilang saya tidak menemukannya. Saya tidak melihat bagaimana atom-atom tersusun dengan sebuah sambungan; kecuali suatu gaya; dan saya tidak pernah tahu dari mana asalnya gaya itu, dari mana asal energinya, dari mana asalnya materinya.

Pertanyaan bernada tantangan ini menurut saya tidak usahlah anda jawab. Jika anda berniat mendalami sains, niatkanlah untuk amalan yang baik, bukan untuk mencari retakan-retakan dalam alam. Percayalah, anda tidak akan menemukannya. Karena di ayat keempat surat Al-Mulk ini, Allah SWT menyatakan kalau upaya seperti itu, tanpa diikuti keinginan untuk mengabdi dan mengagungkan Allah SWT, hanya akan bikin mata lelah saja.

This universe, by itself, is perfectly balanced, as all humans should be.

***

Memperbandingkan Thanos dengan Dia yang memiliki Al-Mulk adalah sebuah perbuatan yang konyol dan tidak penting. Tapi yah, semoga membuat artikel ini menjadi lebih menarik untuk dibaca, mengingat orang-orang suka dengan sosok Thanos. Sayangnya, dari pengalaman empiris saya, saya melihat orang-orang tidak terlalu suka bahasan panjang tentang Al-Qur’an, apalagi bahasannya tidak relatable; apalagi bahasannya mengajak untuk berpikir keras. Banyak orang yang lebih memilih untuk mengisi kepala dengan satu film ke film yang lain, satu game ke game yang lain.

Kemalasan berpikir a la Thanos bisa terjadi dalam diri anda dalam bentuk yang mengerikan. Saya kasih contohnya, misal, istri anda hamil anak ketiga; anggap karena kecolongan; dan anda tidak merasa keuangan anda sanggup membiayai si anak, mengingat anak pertama dan kedua pun belum semua kebutuhannya terpenuhi. Bayangkan jika anda malas berpikir seperti Thanos, keputusan mengerikan apa yang bisa terlintas di benak anda?

Memang betul, alam terganggu keseimbangannya karena ulah tangan-tangan kita; tapi tangan-tangan kita juga yang diberi kemampuan untuk memperbaiki dan menjaga keseimbangan itu kembali.

Bukan untuk semata melanjutkan kehidupan; Dia-lah yang menciptakan kehidupan dan kematian; Kita menjaganya semata agar menjadi orang yang lebih baik amalnya, semata agar kita sendiri lulus pada ujian Ar-Rahmaan, dengan amal yang baik. Semoga kita termasuk orang-orang yang beramal baik dan selalu terlindungi oleh kerajaan (Al-Mulk) Allah SWT. Aamiin.

Tabaarakallah Rabbul’alamin.

Wallahu A’lam.

Fajrin Yusuf M
Garut, 15 September 2018

PS. Yang saya tuliskan di sini adalah hasil pembelajaran saya dari berbagai sumber; saya tidak sedang mengajari sebuah bahan tafsir; yang saya kemukakan hanya mencoba menggali hikmah atau kebijaksanaan dalam Al-Qur’an. Adapun kebenaran datangnya dari Allah SWT, dan kesalahan datang dari diri saya sendiri.



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.