Al-Insyirah dan Ad-Dhuha: Tentang Harapan dan Syukur

Jika kalian mencari ayat yang berbunyi bahwa Allah akan memberikan kemudahan setelah kesulitan, maka yang kalian cari itu Surat At-Thalaq ayat 7; yang mana memang merupakan ayat yang menarik untuk dibahas, terutama jika sedang bicara tentang konsep rezeki. Sayangnya, di artikel ini saya tidak akan membahas ayat itu. Di sini saya ingin membahas ayat lain tentang kesulitan dan kemudahan, di surat yang lain, yaitu Al-Insyirah dan Ad-Dhuha, yang merupakan dua surat berurutan dan erat berkaitan.

Trivia sedikit. Cobalah dulu baca Surat At-Thalaq ayat 7 (di bagian akhirnya) itu dan bedakan dengan Al-Insyirah ayat 5-6. Mirip kan? Serupa tapi tak sama memang. Perbedaannya kalau di At-Thalaq ditulis bahwa yusrin atau kemudahan itu ba’da usran; setelah kesulitan; sedangkan di Al-Insyirah ditulis bahwa yusrin; kemudahan; itu ma’a al’usri; bersama kesulitan.

Ba’da (setelah) dan Ma’a (bersama) tentu merupakan dua kata yang berbeda. Kalau seseorang bilang “saya akan datang ba’da dzuhur”, maka anda tidak akan berharap dia datang pas waktu dzuhur, tapi setelah dzuhur; dan anda mungkin akan jengkel kalau ternyata dia datang beberapa menit menjelang ashar. Tapi jika dia bilang, “saya akan datang bersama fajar”, maka anda boleh berekspektasi dia akan datang bersama seseorang bernama fajar, atau datang tepat di waktu fajar seperti Gandalf dan pasukan berkuda Rohirrim dari Rohan datang menyelamatkan Helm’s Deep dari pasukan Orc kiriman Saruman, setelah berjanji akan datang bersama fajar di hari ketiga. (jika anda belum nonton The Two Towers, bilang alhamdulillah)

Dan Qur’an tidak pernah typo; jadi perbedaan satu kata seperti itu pun bisa kita cermati untuk kita ambil hikmahnya. Subhanallah.

Mungkin kita agak sulit membayangkan dua hal yang berkebalikan datang bersamaan, tapi memang begitulah menurut ayat ini. Seperti istilah ada gula ada semut, atau ada asap ada api, kesulitan pun ada bersama kemudahan. Ketika Allah memberi cobaan berupa kesulitan, percayalah bahwa Allah mendatangkan kesulitan itu bersama kemudahannya sebagai satu paket; bahkan disebutkan dua kali biar kita betul-betul meresapinya.

Jadi mari kita resapi lebih jauh.

Al-Insyirah dan Ad-Dhuha: Tentang Harapan dan Syukur

Ada riwayat yang menyatakan bahwa beberapa sahabat, seperti Ibnu Abbas RA, sering melantunkan surat Al-Insyirah ini sekaligus dengan surat sebelumnya, yaitu Ad-Dhuha, dalam satu raka’at shalat. Jadi baca Ad-Dhuha dulu, lalu lanjut langsung baca Al-Insyirah. Tujuannya supaya yang mendengarkan dapat memahami betapa erat keterkaitan antara dua surat yang berurutan ini (93-94).

Memang, dua surat ini adalah dua dari hanya beberapa surat yang full isinya ditujukan untuk Nabi Muhammad SAW dan terlihat sekali tema-nya masih sama, terutama karena disimpan secara berurutan.

Di surat Ad-Dhuha, Allah berfirman:

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu (6) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan (8)

Lalu di awal surat Al-Insyirah, Allah seolah melanjutkannya:

Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? (1) dan Kami telah menurunkan bebanmu darimu (2) yang telah memberatkan punggungmu (3) dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu (4)

Ayat-ayat tadi, walaupun ditujukan khusus untuk Nabi Muhammad SAW, masih sangat relatable ke kehidupan kita. Sudah berapa kali kita terlepas dari kesulitan-kesulitan kita? Kita punya jutaan alasan untuk bersyukur, tapi sudahkah kita menyebutkan nikmat Allah itu dalam rasa syukur kita? Pertanyaan-pertanyaan retorik tadi adalah pengingat bagi Nabi Muhammad SAW atas beberapa anugerah dari Allah, yang juga bisa kita induksi ke dalam hidup kita; agar kita juga ingat bahwa Allah juga memberi kita anugerah dalam masa-masa sulit kita.

Ayat-ayat tadi seolah menjadi bukti, bahwa memang kesulitan datang bersama kemudahan. Kita saja yang sulit untuk mencernanya dari awal.  Dan hal lain yang terpenting adalah bahwa nanti kesulitan itu pasti hadir lagi, dan Allah ingin kita percaya bahwa ketika si kesulitan itu hadir lagi, dia pasti hadir bersama kemudahannya. Allah tidak memberi kesulitan untuk menghancurkan kita, tapi semata agar kita selalu ingat dan kembali berharap pada-Nya; yang merupakan simpulan dari surat Al-Insyirah; lalu menyematkan semua kenikmatan dan anugerah kemudahan sebagai rasa syukur hanya pada Allah; yang merupakan simpulan dari surat Ad-Dhuha.

Itu juga salah satu tema dua surat ini, Syukur dan Harapan. Malah sebetulnya itu tema dari agama islam; kita memulai fatihah dengan syukur alhamdulillah, dan ditutup dengan harapan akan jalan yang lurus.

Dua surat ini memberi harapan dan mengingatkan akan beberapa (dari tak terhitungnya) alasan untuk bersyukur, pada siapapun yang membacanya; terutama Nabi SAW sendiri. Dalam surat Al-Insyirah, harapan itu ada dalam bentuk pernyataan bahwa kemudahan datang bersama kesulitan, sedangkan dalam surat Ad-Dhuha, Allah memberikan harapan itu secara eksplisit, bahwa Dia tidak meninggalkan dan tidak pula membenci Nabi Muhammad SAW (yang waktu itu sedang gelisah karena tidak ada wahyu yang turun dalam selang waktu yang cukup lama), dan bahwa yang akhir itu lebih baik daripada yang awal, dan bahwa nanti Dia akan memberi (karunia-Nya), dan Nabi SAW akan merasa ridha.

Sekilas, kita bayangkan cerita fiksi ini saja; misal, Budi punya sahabat, salah satu orang paling kaya di dunia; sekelas Bezos, Buffet, atau Gates, you name it. Biasanya sebulan sekali minimal teman Budi yang tajir ini nge-whatsapp Budi, nanyain kabar. Tapi suatu saat dia ngga nge-whatsapp Budi; dan udah beberapa bulan. Akhirnya Budi whatsapp duluan; nanya kabar, sekaligus minta maaf kalau-kalau Budi udah bikin salah sampai dia berhenti nge-whatsapp. Lalu si temennya ini balesnya gini, “kamu ngga bikin salah kok, dan saya ngga kenapa-kenapa. Sebaliknya malah, saya lagi nyiapin sesuatu buat kamu, kamu pasti seneng deh ntar.” Now, how happy will he be? Dan kita tidak sedang bicara tentang orang paling kaya; kita bicara tentang Dzat yang maha memiliki semua hal. Nabi Muhammad SAW pasti sangat bahagia saat itu, dan berharap-harap sambil penasaran, apa yang akan diberikan Allah SWT untuk beliau.

Nah, mari kita induksi lagi; apakah kalian percaya bahwa Allah juga sedang menyiapkan sesuatu untuk kalian? Saran saya, seburuk apapun kondisi kalian saat ini, ingatlah beberapa (dari tak terhitungnya) alasan untuk bersyukur pada-Nya, lalu kembalilah pada-Nya, dan berharaplah sambil terus berusaha.

***

Dua surat ini memang punya kesamaan tema, yang satu (Ad-Dhuha) dibuka dengan harapan, lalu diberi ayat tentang beberapa nikmat Allah untuk Nabi Muhammad SAW; sedangkan yang satu lagi (Al-Insyirah) dibuka dengan ayat-ayat tentang beberapa nikmat Allah untuk Nabi Muhammad SAW, diikuti ayat tentang harapan bahwa kesulitan akan datang bersama kemudahan.

Tapi satu hal penting yang tidak boleh luput dari perhatian adalah bagian akhir dari kedua surat ini; yaitu cara untuk bersyukur dan berharap.

Di surat Ad-Dhuha, kita diberi tahu beberapa cara untuk bersyukur; yaitu dengan berlaku baik kepada anak yatim dan orang yang meminta, tidak menghardik atau bersikap buruk terhadap mereka; serta agar kita menyebut-nyebut nikmat Allah dalam rasa syukur kita. Sedangkan di surat Al-Insyirah, kita diberi perintah untuk melanjutkan setelah selesai dalam suatu urusan, lalu agar kita selalu berharap pada Allah semata, seolah kita sedang disuruh untuk menghadapi kesulitan berikutnya, dengan keyakinan bahwa Allah menghadapkan kesulitan itu dengan kemudahannya, hanya agar kita menaruh penuh harapan hanya pada-Nya.

This, I believe, will lead us to excellence in life.

Mari bayangkan lagi satu diskursus. Bayangkan Budi baru selesai S1, sayangnya si Budi kemudian sulit mencari kerja; katakanlah sudah setahun ga dapet-dapet. Lalu Budi mulai merasa frustrasi, putus asa, dan mentalnya down. Budi mulai kehilangan harapan. Disitulah Budi perlu diingatkan atas apa yang menjadi anugerah Allah untuk si Budi di masa lalu; bersyukur. Ingatkan bagaimana Allah melancarkan skripsi, bagaimana Allah memberi Budi relasi pertemanan, bagaimana Allah memberi Budi lebih banyak ilmu dibanding banyak orang yang tidak diberi kesempatan mencicipi perguruan tinggi, dan banyak lagi. Rasa syukur pada Allah itulah yang akan memberi harapan di hati Budi.

Lalu katakanlah Budi diberi kemudahan yang dijanjikan. Budi dapat kerjaan, malang melintang, dipromosikan sampai punya jabatan tinggi; atau Budi malah berhenti cari kerja, lalu mulai berbisnis, dan sukses besar. Di posisi seperti itu, sangat mudah bagi Budi untuk kehilangan syukur dan malah menjadi sombong; menganggap semua itu dilewati karena kekuatan, kepintaran, dan kemampuan Budi saja.

Di sini, menurut saya, setelah belajar dari kedua surat ini, jangan sampai kita mengingatkan Budi agar kembali ke bumi dan menjauhi kesuksesan yang melenakan itu. Tapi ingatkan Budi akan tiga hal, yang pertama katakan bahwa jika dia telah mencapai sebuah kesuksesan, maka lanjutkanlah ke jenjang berikutnya. Aim higher. Yang kedua, ingatkan bahwa capaian yang lebih tinggi itu akan membawanya ke jalan yang penuh kesulitan, dan hanya Allah yang bisa mendatangkan kemudahan bersamanya, seperti Allah mendatangkan kemudahan bagi Budi sebelumnya. Itulah yang akan mengembalikan syukur ke hati Budi. Lalu ingatkan agar Budi mengekspresikan rasa syukurnya dengan berbuat baik pada anak yatim dan mereka yang membutuhkan.

Insya Allah, Budi akan mendapatkan hasanah di dunia, serta hasanah di akhirat; seperti yang kita semua harapkan. Jadilah seperti Budi.

***

Semoga kita dijauhkan dari sifat sombong dan angkuh, semoga kita selalu diberi pengingat untuk selalu berserah diri dan bersyukur pada Allah SWT semata.

Wallahu a’lam

Fajrin Yusuf M
Garut, 10 September 2018

***

Al-Insyirah dan Ad-Dhuha: Tentang Harapan dan Rasa Syukur



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

1 Comment

  • […] Jikapun anda merasa mantap dengan niat yang baik, lalu ikhtiar telah dirasa maksimal, dengan tetap berserah diri pada Allah SWT, maka mestinya anda tidak begitu terpengaruh dengan hasilnya. Karena apapun hasilnya, anda akan menerimanya dengan ridha; kembalikan pada niat baik anda, pergiat lagi usaha; cari jalan lain jika perlu, lalu melanjutkan urusan anda ke urusan berikutnya sembari terus berharap pada Allah SWT; seperti simpulan surat Al-Insyirah. […]

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.