Hidup itu Seperti Hujan

Saya bisa bikin bualan sebuku penuh untuk mengelaborasi judul artikel ini: bahwa hidup itu seperti hujan. Jika anda mencari bualan manis romantis seperti itu, orang bilang, carilah di Tumblr. Sayangnya, tumblr udah diblokir di Indonesia (walau masih bisa diakses pake vpn), dan saya juga udah berhenti nulis di tumblr.

Yang ingin saya bahas adalah bahwa ternyata Allah SWT juga pernah memposting firman-Nya ke dalam Al-Qur’an, yang isinya kira-kira memang begitu juga, bahwa “Hidup itu seperti hujan.” Tepatnya di Surat Al-Kahfi ayat 45, sebagai berikut:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ
 نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia bagai air hujan
 yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, 
kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. 
Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Sebelum membahas ayat ini, ada baiknya saya sedikit bahas dulu tentang cerita dua petani yang dijelaskan sebelum ayat ini. Yah, ayat ini adalah salah satu pelajaran dari cerita tersebut.

Jadi ceritanya, ada dua petani; yang satu diberi dua kebun yang luas dan subur, yang ditengahnya mengalir sungai. Diceritakan dua kebun itu produktif luar biasa. Sementara petani yang satu lagi ngga dijelasin dia punya apa, mungkin saking ngga punya apa-apanya. Nah, si petani yang kaya itu sombong dan bilang ke yang satu lagi kalo Allah lebih memuliakan dia, karena dia dikasih harta banyak dan anak juga; sampai-sampai si petani yang satu lagi ngerasa minder. Si petani yang miskin bilang jangan sombong, karena Allah bisa bikin kebunnya kebanyakan air sampai tanahnya jadi licin atau airnya surut ke dalam tanah sampai kebunnya mati kekeringan. Akhirnya malah kejadian, kebunnya hancur, dan si petani sombong itu menyesal bilang, “Betapa sekiranya dulu aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Gitu ceritanya.

Juga sebelum ke parabel yang akan dibahas, ada banyak juga poin-poin yang bisa digali dari terjemah yang lebih mendalam dari ayat ini. Penggalian makna ini juga nanti akan bikin punch line parabel nya jadi lebih epik. Insya Allah. hehe…

Terjemah

  • wadhrib lahum : Pukullah bagi mereka

Buat kalian yang pernah belajar bahasa Arab, kalian mestinya tahu kalau dhoroba itu artinya memukul, dan idhrib yang merupakan fi’il amr (perintah) itu berarti pukullah (pelajaran sharaf sering pakai kata dasar ini sih dulu mah). Allah SWT sering menggunakan perintah untuk memberi perumpamaan dengan kata perintah untuk “memukulkan perumpamaan” itu.

Ketika mendapat perintah untuk memukul dengan kata-kata perumpamaan, saya teringat dengan para komik stand up comedy; yang setiap tampil dia membangun beberapa narasi, lalu di akhir ditutup dengan punch line yang epik, yang mesti bisa memantik setiap orang untuk tertawa. Kalau kurang epik, ya gagal bikin ketawa, dan malu deh.

Begitupun dengan parabel-parabel dalam Al-Qur’an. Jika perumpamaan ini adalah punch line, maka mestinya kita memberi parabel ini dengan penuh perenungan dan penghayatan tentang parabel tersebut. Karena ini adalah kata-kata dalam Al-Qur’an; yang punya nilai-nilai kebijaksanaan super dalem. Punch line ini sudah ratusan tahun terbukti bisa bikin hidup orang-orang berubah.

  • matsala lhayaati ddunyaa : perumpamaan kehidupan dunia

Kata dunia sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, namun arti yang kita interpretasikan kadang berbeda dengan interpretasi dalam Bahasa Arab. Di beberapa konteks, kita menyamakan arti dunia dengan bumi, planet tempat kita hidup. Tapi di beberapa konteks yang lain, kita menyebut dunia sebagai kehidupan yang kita alami sekarang.

Dalam bahasa Arab, dunya adalah superlatif dari adna; seperti Kubra adalah superlatif dari akbar; atau sughra superlatif dari ashgar. Adna itu berarti rendah, dan Dunya bisa diartikan sebagai yang paling rendah. Yah, begitulah, kehidupan kita saat ini memang adalah bentuk kehidupan paling rendah.

Mungkin terdengar depressing, tapi sebenarnya bisa dilihat secara positif juga. Jika kehidupan paling rendah saja bisa penuh dengan keindahan, kelezatan, kebahagiaan, dan cinta, maka kehidupan selanjutnya akan jauh lebih baik dari ini. Insya Allah…

Side note: kalau dunya itu bentuk kehidupan paling rendah, bagaimana dengan neraka?

Allah SWT mendeskripsikan kondisi di neraka sebagai “laa yamuutu fiiha wa laa yahyaa”, di sana mereka (penghuninya) tidak mati juga tidak hidup. Allah SWT tidak menganggap neraka sebagai sebuah bentuk kehidupan. Entah bagaimana nanti kondisi di sana, semoga kita tidak termasuk orang yang mencicipi tempat tersebut. Aamiin.

[collapse]

  • kamaa-in anzalnaahu mina ssamaa-i : Seperti air yang Kami turunkan dari langit

Bukan hanya air hujan, tapi air hujan yang diturunkan Allah SWT dari langit. Turunnya air dari langit cukup sering dibahas. Lebih dari itu, Allah SWT seringkali menggunakan kata ganti ”Kami” ketika membahas turunnya air dari langit, seolah untuk menekankan bahwa salah satu tanda kebesaran kerajaannya adalah air itu sendiri.

Secara literal, Allah SWT juga menjelaskan bahwa Allah SWT menjadikan segala sesuatu yang hidup dari air (Al-Anbiya: 30).

  • fakhtalatha bihi nabaatu l-ardhi: maka bercampur dengan air itu tetumbuhan di muka bumi

Dalam terjemahan biasa, seringkali frasa ini diartikan sekaligus menjadi “subur karena air itu”. Kata ikhtalatha sendiri artinya bercampur atau larut sampai sulit dipisahkan dan dibedakan. Maksudnya air itu bercampur dengan tetumbuhan di muka bumi hingga tetumbuhan itu menjadi subur. Tapi agar punch line nya lebih ngena, kita artikan dari kata awalnya, yaitu bercampur atau larut.

Kata “Nabati” juga sudah diserap dalam bahasa Indonesia sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan tumbuhan. Arti ini masih relevan karena yang dimaksud dengan nabati dalam bahasa Arab tidak hanya pohon atau tanaman, tapi juga segala yang berkaitan dengannya, misal: bunga, buah, dedaunan, dll.

Ketika kita melihat buah apel, kita tahu didalamnya ada kandungan air, tapi kita tidak melihat air itu. Itu berarti air itu ikhtilat dengan apel. Begitu juga ketika saya melihat wajahmu yang bikin teduh, saya tidak melihat air, walaupun saya tahu kamu itu mengandung banyak sekali air. wkwkwk…

  • fa-ashbaha hasyiiman : kemudian menjadi kering

Hasyim artinya sesuatu yang rapuh, kering, mudah hancur. Nabi Muhammad SAW berasal dari Bani Hasyim, yang secara literal artinya “orang-orang yang membuat sesuatu yang hancur”. Maksudnya sih membuat makanan sejenis bubur (sesuatu yang hancur). Jadi katanya kakek Nabi Muhammad SAW sempat menyelamatkan kaum Quraish dari kelaparan dengan membuat makanan sejenis bubur dari tanaman yang masih ada ketika kekeringan melanda.

  • tadzruuhu rriyaahu: diterbangkan oleh angin

Dalam bahasa Arab, frasa “diterbangkan angin” itu berarti sesuatu itu tidak berharga. Tapi frasa ini juga digunakan untuk rumor; yang juga kita gunakan dalam bahasa Indonesia sebagai “kabar angin”, kabar yang belum tentu benarnya dan tak jelas sumbernya. Mungkin memang kabar angin itu juga merupakan sesuatu yang tidak berharga hingga dapat dibuktikan kebenarannya.

  • wakaana laahu ‘alaa kulli syay-in muqtadiraa : dan Allah atas segala sesuatu Maha Kuasa.

Kita lebih sering membaca bahwa Innallaha ‘ala kulli syai-in Qadiir; yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ya sama saja. Tapi ada perbedaan mendasar antara Qadiir dan Muqtadiraa. Qadiir itu berarti Allah SWT itu Maha Kuasa, sedangkan Muqtadiraa itu berarti Allah SWT Maha Menggunakan Kekuasaannya.

Maksudnya, ketika Allah SWT berfirman bahwa Dia adalah Qadiir, itu mengingatkan kita bahwa Allah SWT itu Maha Kuasa, tapi dia tidak serta merta menggunakan kuasa-Nya dalam konteks tersebut. Misal, dalam Al-Baqarah ayat 20, bahwa ”…Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ayat itu, Allah SWT mengingatkan kita bahwa Dia bisa melenyapkan pendengaran dan penglihatan; tapi Allah SWT tidak serta merta selalu berbuat seperti itu; tidak pada orang-orang beriman.

Nah, dalam ayat 49 Al-Kahfi ini, kata yang dipakai adalah Muqtadiraa. Itu berarti Allah SWT selain Maha Kuasa, Dia juga menggunakan kekuasaannya dalam konteks ini. Konteksnya adalah bahwa Dia menjadikan hidup itu seperti hujan yang diturunkan-Nya.

Hujan kehidupan itu tidak hanya berada dalam kekuasaannya, tapi sudah diturunkan-Nya dan kuasa-Nya terlibat dalam turunnya air itu.

Parabel: Hidup itu seperti hujan

Parabel 1: Air yang diturunkan dari langit

Allah SWT tidak hanya mengibaratkan hidup ini sebagai air, tapi air hujan yang Dia turunkan dari langit. Hidup kita diturunkan oleh-Nya, pemberian dari-Nya. Itu hal pertama yang mesti kita ingat.

Dan hujan ini tidak turun dari sembarang tempat, tapi dari langit, dari tempat yang lebih tinggi; yang juga tempat kita nanti akan kembali, Insya Allah. Itulah tujuan kita pada akhirnya. Di kehidupan dunia ini kita bercampur dengan berbagai hal, tapi pada akhirnya tujuan kita adalah kembali. Seringkali kita lupa tujuan, karena bercampur terlalu dalam; atau terlalu terikat pada dunia.

Jika kita adalah tanaman, maka Allah adalah yang menanam kita. Allah SWT yang menciptakan bumi dan semua isinya, lalu Dia menurunkan air dari langit untuk membuat kita bertumbuh. Dalam pertumbuhannya pun Allah SWT menyebut dirinya sebagai Muqtadira, yang Maha Menggunakan Kekuasaannya; yang berarti bahwa Allah SWT mempraktekkan keMaha-Kuasaan-Nya dalam menumbuhkan kita; dan air yang ada dalam diri kita.

Satu pesan positif ini bisa kita ambil: bahwa kita semua selalu ada dalam pemeliharaan Allah SWT, sejak kita diturunkan dari langit, hingga dikembalikan lagi. Dan tidak ada yang bisa memelihara lebih baik dari Allah SWT.

Parabel 2: Parabel air dari Imam Al-Qurthubi

Berikut beberapa poin kutipan semena-mena dari Imam Al-Qurthubi tentang parabel hidup dunia dan air:

  • Begitu turun sebagai hujan, air tidak diam di suatu tempat; sifat air adalah berpindah atau mengalir; begitu pula hidup terus mengalami perpindahan, perubahan; mengalir.
  • Konsekuensinya, kita tidak boleh menggenang. Air menggenang cepat atau lambat akan rusak, tercemar, atau menguap; begitupula dengan hidup yang menggenang stagnan.
  • Karena air terus berpindah dan mengalir, pada akhirnya air akan menguap kembali ke langit; begitupula dengan hidup, cepat atau lambat kita pun akan ‘menguap’ naik kembali ke langit.
  • Tidak ada orang yang terkena air lalu tidak basah; begitupula dengan hidup dunia; tidak ada yang bisa hidup di dunia tanpa basah terpengaruh oleh hal-hal duniawi. Kabar baiknya adalah basah oleh hal duniawi adalah sesuatu yang boleh-boleh saja selama niat dan tujuan kita terjaga.
  • Terlalu banyak air bisa mematikan, terlalu sedikit air juga mematikan. Begitupula dengan hidup dunia; terlalu banyak kita bisa mabuk, terombang-ambing, atau sesak dengan tekanannya; sementara terlalu sedikit bisa membuat kita kehausan dan mati menderita.
Parabel 3: Bercampurnya air dengan segala jenis kehidupan

Ketika air bercampur dengan bumi, segala macam tanaman tumbuh. Ada yang berbunga indah, ada yang berbuah manis, ada yang tinggi dan kuat menaungi, ada tanaman yang meranggas pelan tapi pasti, ada tanaman yang mampu menahan airnya di kondisi panas ekstrim, bahkan ada tanaman berduri dan tanaman beracun yang melukai jika didekati.

Begitupula dengan kita, yang diciptakan beragam dengan semua sisi baik dan buruknya. Walau esensi diri adalah sama, dari air yang diturunkan-Nya dari langit, tapi kita tumbuh berkembang menjadi pribadi-pribadi yang berbeda-beda.

Nabaatul-Ardh, tetumbuhan di muka bumi dan keberagamannya, mungkin pantas menjadi parabel bagaimana kita pun sebagai manusia dicipta dengan keberagamannya. Usaha untuk menyeragamkan pertumbuhan kita semua adalah usaha yang sia-sia. Yang mesti dilakukan adalah fokus pada memanfaatkan apa yang terbaik dari diri kita sebagai bentuk syukur pada-Nya. Jika anda menghasilkan bunga yang indah, manfaatkan keindahan anda untuk menghiasi ruang-ruang yang butuh keindahan; jika anda menghasilkan umbi berenergi, manfaatkan untuk memberi energi pada ruang yang lemah. Jika anda pohon yang tinggi, kuat, dan rimbun; beri ruang perlindungan bagi yang membutuhkannya.

Kenali diri anda, lalu berilah manfaat terbaik dari diri anda.

Berhentilah membanding-bandingkan pohon anda dengan pohon orang lain. Hal yang seragam dari kita bukanlah pertumbuhan dan kekuatan diri kita, tapi titik balik kita di akhir masa menuju Dia yang menanam kita.

Parabel 4: Air itu adalah Ruh, Tanaman itu adalah Tubuh

Ruh diturunkan dari langit, masuk ke dalam suatu benda mati dan menjadikannya hidup; memberi kita kesadaran diri. Pun juga air diturunkan dari langit untuk bercampur dengan Nabaatul Ardh dan membuatnya hidup bertumbuh.

Ketika saya melihat anda, saya tidak melihat ruh anda, tapi saya bisa cukup yakin bahwa ada sesuatu dalam diri anda yang membedakan anda dengan hewan atau makhluk manapun yang ada di muka bumi. Pun juga ketika anda melihat sebuah pohon, anda tidak melihat air yang mengalir dalam pembuluh xylem dan floem nya. Ketika anda melihat sebuah apel, anda tidak melihat kandungan air di dalamnya. Tapi anda bisa cukup yakin bahwa ada kandungan air di dalamnya, yang membuat apel itu begitu hidup, dan enak untuk dilahap.

Tubuh kita adalah tanaman, dan jiwa kita adalah airnya. Ketika tanaman punya kandungan air yang cukup, dia akan tumbuh dan memberi manfaatnya; entah itu bunga, buah, apapun yang bisa diberikannya. Tapi jika kandungan airnya sedikit; atau lebih buruk, jika kandungan airnya tercemar, maka tanaman pun sakit. Begitu pula dengan jiwa kita, jika dijaga jumlah kandungannya tetap seimbang dan juga dijaga dari penyakit jiwa, maka tubuh kita pun bereaksi memberi kebahagiaan, kesehatan, dan lebih jauh lagi, manfaat.

Ketika air mulai pergi dari tanaman, perlahan tanaman pun layu, mengering, mati, lalu menjadi Hasyim, benda rapuh yang dengan mudah diterbangkan angin. Pun juga ketika jiwa mulai melepas keterikatannya dengan tubuh, tubuh kita pun mulai layu; dan ketika jiwa itu pergi, tubuh kita pun mengering dan tak lagi punya makna. Nama kita pun lambat laun diterbangkan angin.

Pelajaran tentang Fitrah dan Harapan

Jika parabel ini diambil secara sekilas mungkin kita bisa jatuh pada pesimisme yang akut. Maksud saya, bayangkan hidup dunia digambarkan oleh hanya tiga momen, turunnya air dari langit (yang bahkan kita tidak ingat bagaimana kita turun dari langit), bercampurnya air dengan tetumbuhan, lalu tiba-tiba berubah jadi benda rapuh yang diterbangkan angin. Ayat ini hanya menggambarkan fase awal dan akhir saja, seolah ingin menekankan bahwa hidup dunia itu hanya sekejap. Dan bahkan Allah yang mempunyai kontrol atas semua itu.

Mungkin bisa terbit pertanyaan: untuk apa kita hidup? Untuk apa berusaha? Jika diantara dua momen, turunnya kehidupan dan datangnya kematian, itu kita sepertinya begitu tak berdaya, tak berharga. Jika kita meresapi lebih dalam parabel-parabel di atas, mestinya pertanyaan tersebut sudah terjawab. Dan subhanallah, Allah SWT menjelaskan isi dari dua momen tersebut di ayat berikutnya.

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal
lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi 
harapan.

Ruh kita, jiwa kita, diberi anugerah yang luar biasa oleh Allah SWT. Sangat menyedihkan jika kita memaknai eksistensi kita di muka bumi ini hanya semata karena produk dari evolusi. Mahluk mana di muka bumi ini, yang berevolusi, hingga punya sense terhadap keindahan corak warna, sense terhadap kecanggihan desain, atau sense terhadap kelezatan santapan, dan banyak sense lainnya. Makhluk lain hanya berusaha survive dan itu cukup buat mereka. Kita berbeda. Kita ingin keindahan. Kita ingin ada wallpaper yang bagus, atau karpet yang matching dengan warna tembok ruang tamu, atau kerudung yang matching dengan pakaian yang dipakai, atau bahwa nangka itu lebih enak daripada durian. Kita diciptakan dengan air jiwa dalam diri kita yang turun khusus dari langit.

Dari semua keindahan dunia itu, Allah SWT memberi highlight pada dua hal, yaitu harta dan anak-anak. Dari kisah sebelumnya, kita bisa mengambil pelajaran bahwa harta dan anak-anak, sebagai kecantikan kehidupan dunia, bisa menjadi anugerah dan bisa juga menjadi petaka. Pelajarannya adalah apakah air kita kandungannya cukup, hingga kecantikan dunia itu bisa kita nikmati dengan kehidupan yang penuh dan damai.

Yang lebih baik dari harta dan anak-anak adalah Baaqiyaatu-Shaalihaat, yang sering diartikan sebagai amalan baik yang kekal; padahal menurut kaidah bahasa arab, Mausuf dan yang disifati itu tidak boleh terbalik posisinya. Maksud saya, amalan baik yang kekal mestinya ditulis As-shalihaatul-Baaqiyaatu: Amal shaleh/baik yang diberi sifat kekal.

Sedangkan arti dari Baaqiyaatu-Shalihaat itu mestinya sesuatu yang kekal yang punya sifat baik. Yang dengan serta merta menciptakan kebalikannya, yaitu sesuatu yang kekal yang punya sifat buruk. Semua yang telah disebutkan sebagai keindahan dunia: harta, kebun, dan bahkan anak, itu tidak punya sifat kekal. Tapi jika harta dan kebun itu dimanfaatkan untuk kebaikan, dan anak itu dibesarkan menjadi anak shaleh yang mendoakan, maka kebaikan itulah yang akan kita bawa naik ke langit, Insya Allah. Dan kesanalah kita harus menggantungkan harapan dan doa.

Satu hal yang sangat luar biasa dari parabel ini adalah bahwa air dan tanaman itu ber-ikhtilat; bercampur hingga tak dapat dipisahkan. Dalam islam, kita tidak mesti meninggalkan kehidupan duniawi untuk mencapai hal spiritual. Kegiatan fisik kita, seperti mencari nafkah atau mencari ilmu atau mencari jodoh, dapat dihitung juga sebagai kegiatan spiritual yang kekal dalam catatan Allah SWT selama niat kita tulus, bertawakkal sepenuhnya, dan tidak melanggar batas-Nya. Allah juga kadang membuat perumpamaan amalan baik sebagai sebuah biji tanaman; biji tersebut jika disiram air akan memberi kehidupan yang lain bahkan di dunia.

Dijelaskan bahwa Baqiyaatus-Shalihat itu adalah lebih baik di sisi Tuhanmu, sebagai pahala dan harapan.

Jadi jika ingin berharap; berharaplah pada sesuatu yang kekal yang shalih/baik. Jika berharap pada anak; jangan berharap dia jadi insinyur atau dokter hanya karena agar ikut jejak anda. Berharaplah agar anak anda menjadi anak shaleh; lalu ikhtiarlah; didiklah anak itu seoptimal mungkin kemampuan anda dalam mendidik. Begitu pula jika anda berharap pada istri anda atau anggota keluarga anda yang lain.

Jika berharap ingin jodoh; berharaplah pada jodoh yang mendorong pada sesuatu yang kekal dan bersifat baik. Tidak usahlah berharap jodoh pada si A, si B, si C. Mereka bisa mati besok lusa; pun juga kita. Berharaplah seseorang yang cintanya pada kita akan kekal terbawa sampai langit sana.  Berharaplah agar dia menjaga diri dan juga mencari Baqiyaatus-Shalihat, sehingga dipertemukan dalam pencarian yang sama.

Dan yang paling penting, berharaplah hanya pada-Nya.

Epilog: Petrichor

Petrichor, menurut wikipedia, adalah aroma alami yang dihasilkan saat hujan jatuh di tanah kering. I love the word.

Beberapa hari yang lalu, adik saya, Icha, melahirkan bayi perempuan; anak yang pertama. Saya masih sempat menengok bayinya di bidan ketika baru borojol. Entah mungkin perasaan saya, tapi sepertinya bayi itu punya aroma yang khas, ya!? Seolah itu aroma khas ketika jiwa baru dilahirkan ke muka bumi; atau sesuai parabel, aroma khas ketika air itu turun ke bumi; petrichor.

Bukan sembarang air, tapi air yang khusus diturunkan-Nya dari langit dalam keadaan bersih, suci dari dosa. Sementara kalau berkaca pada air dalam diri pribadi; yang tercemar karena menggenang, yang malah dibubuhi racun, yang membuat tanamannya begitu sakit; Astaghfirullah…

Mari belajar berharap. Kita doakan agar anaknya Icha bisa memberi banyak-banyak Baaqiyaatus-Shaalihaat untuk orang tua dan masyarakat lingkungan sekitar, juga untuk dirinya sendiri. Aamiin.

Saya pun juga bertekad untuk belajar berharap hanya pada Baaqiyaatus-Shaalihaat, dan bukan pada hal-hal yang tidak Baaqiyaat (kekal); apalagi Baaqiyaatus-Sayyi-aat; hal kekal yang buruk, na’udzubillahi min dzalik.

Semoga selalu mendapat pengingat; bahwa memang hidup itu seperti hujan. Aamiin.

Wallahu A’lam

Fajrin Yusuf Muttaqin
Garut, 15 Oktober 2018 

PS. Seperti biasa, mengingatkan bahwa artikel ini bukan upaya saya memberi tafsir saya sendiri terhadap Al-Qur’an; saya hanya ingin memetik pelajaran kebijaksanaan dalam Al-Qur’an. Adapun kebenaran hanya datang dari Allah SWT, dan kesalahan datang dari saya sendiri; untuk itu jika salah mohon dikoreksi dengan penuh kasih sayang, karena saya membutuhkannya. Terima kasih banyak. 🙂




****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Yusuf: Kisah Terbaik versi Al-Qur’an; dan Happy Ending

Jika sebelum ini anda bertanya kepada saya apa kisah terbaik dalam Al-Qur’an, mungkin saya akan bingung dan menjawab secara diplomatis: semua kisah dalam Al-Qur’an adalah kisah-kisah terbaik. Saya akan kesulitan memilih cerita mana yang lebih bagus, apakah Nabi Musa vs Fir’aun, ataukah Nabi Ibrahim dan Isma’il, ataukah kisah Maryam dan Nabi Isa, ataukah kisah Nabi Musa dan Khidr, ataukah kisah Ashabul Kahfi; banyak sekali kisah-kisah yang menarik dalam Al-Qur’an. Tapi saya baru tahu, ada satu kisah yang dideskripsikan Al-Qur’an sebagai ahsanal qasas: kisah terbaik. Dan tidak saya duga, kisah itu adalah kisah Yusuf dalam surat yang didedikasikan dengan nama beliau sendiri: Yusuf.Continue Reading

Share