Tidak Adil

Tidak Adil

Setiap saya mendengar orang-orang berkata tentang “ketidak-adilan” atau tentang hidup yang tidak adil atau orang yang diperlakukan tidak adil, saya teringat dengan foto yang diambil oleh fotografer asal Afrika Selatan, Kevin Carter, tahun 1993. Foto seorang anak di Sudan yang menderita kelaparan, sedang berjuang merangkak ke arah Feeding Centre, sementara di belakangnya ada burung bangkai mengintai. Carter tidak bisa menolong anak itu karena dilarang, takutnya bisa menularkan penyakit. Jadi yang bisa dia lakukan cuma motret, lalu mengusir burungnya.

Foto ini membuat Kevin Carter diganjar Pulitzer Prize di bulan April 1994, dan mungkin foto ini juga yang membuat Kevin Carter bunuh diri di bulan Juli 1994. Dia bunuh diri di garasinya dengan menghirup gas karbon monoksida buangan dari mobil pick up-nya. Kalau saya bunuh diri, saya bakal ngikutin caranya Kevin Carter. Untunglah saya masih cukup waras dan juga beragama.

The vulture and the little girl - Kevin Carter, 1993. Tidak Adil? (source: http://rarehistoricalphotos.com/vulture-little-girl/)
The vulture and the little girl – Kevin Carter, 1993. Tidak Adil? (source: http://rarehistoricalphotos.com/vulture-little-girl/)

I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain…of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners…”, begitu kata Carter di suicide note-nya. Saya tidak bisa menyalahkannya…

The photograph itself made me weep. Then his suicide note tore my heart apart.

Pertama kali saya melihat foto itu, saya juga dihantui dengan berbagai ketidak-adilan duniawi. Orang-orang yang diperlakukan tidak adil, anak-anak kecil di wilayah konflik yang hidup dalam ketakutan, kawan-kawan mahasiswa yang hilang tak ada kabarnya dari 1998 hingga saat ini, Munir yang dibunuh dalam perjalanannya ke Belanda, Rachel Corrie yang digilas tank oleh tentara Israel, imigran-imigran yang mengambang di lautan tak jelas nasibnya; asal tidak balik lagi ke dalam konflik negaranya, hingga pedagang-pedagang yang dipalakin preman loreng oranye di pasar.

Melihat orang-orang diperlakukan tidak adil selalu mengganggu, terutama untuk seorang yang acap kali over-thinking seperti saya. Foto itu dan kilasan-kilasan ketidak-adilan itu terus jadi beban pikiran. Hingga saya harus menenangkan diri, lalu memantapkan diri dan bilang pada diri sendiri, “I can live with that!

I think, somehow… I killed a part of my humanity there

***

Hari ini teman-teman saya mewarnai timeline media sosial dengan seruan-seruan ketidak-adilan. Satu kubu menjerit mendengar Ahok divonis dua tahun penjara. Menyeru timeline dengan hashtag #RIPjustice, #RIPhumanity, atau malu jadi Indonesia, atau Indonesia telah kalah oleh intoleransi, feeling heart broken, dan seterusnya…

Yah, sudah saya duga sebelumnya. Sudah saya duga Ahok bakal divonis, minimal dua tahun, biar dia ga ikut gonjang-ganjing pilpres nanti. Saya pribadi berpendapat, kita, orang islam, mestinya bisa memaafkan Ahok saja. Ahok memang salah, tapi dia juga sudah minta maaf kok. Kalau mau jatuhin Ahok, pakailah kasus reklamasi atau Sumber Waras. Tapi nyatanya dua kasus terakhir itu kurang gede momentumnya untuk membuat para pemilih muslim naik pitam.

Buat saya, orang-orang diluar gedung pengadilan yang teriak-teriak “Kalau Ahok bebas, siap  sweeping Cina! sweeping kafir!”, dialah yang mestinya ditangkap. Tapi susah kan kalau yang teriaknya banyakan. Mayoritas-lah yang mendefinisikan mana adil, mana tidak kan??

Tidak adil? Maybe you should accept that, and then live with that, just like me.

Teman-teman yang lain marah karena dibubarkannya HTI (Hizbut Tahrir Indonesia); menganggapnya berlebihan, dan menyalahi konstitusi. Muncul di timeline dengan hashtag #KamiBersamaHTI, menuduh rezim Jokowi anti islam, dan sebagainya…

Sudah saya duga sejak lama juga sebenarnya, cepat atau lambat, pemerintah bakal bubarin HTI. “Atas nama Pancasila, siapapun bisa diapa-apakan, mau kiri ataupun kanan.”, kata bang Zen. Toh ngga banyak juga yang dukung HTI; belum banyak. Ironis yah, HTI yang mati-matian minta Ahmadiyah dan Syi’ah dibubarkan di Indonesia, malah dibubarkan duluan sama pemerintah; pakai pasal karet juga.

Tidak adil? Chill… who said the world is fair?

***

Reading their burst of emotion in my timeline, all my reaction was…aw, that’s so cute…

Seperti kata saya sebelumnya, let’s accept that and live with that…

But remember, I never told you to just sit still and watch…

Kalian masih hidup, juga ide-ide yang ada di kepala kalian. Jika kalian merasa punya daya, bantulah mereka yang diperlakukan tidak adil. Kalau kalian tidak ingin ada lagi kasus seperti penistaan agama Ahok dan pembubaran HTI, gunakan daya kalian untuk mengubah pasal-pasal karet yang bisa dimelarkan untuk kepentingan selain hukum. Kalau kalian merasa daya kalian tak cukup, bergabunglah dengan mereka yang punya tujuan yang sama dengan kalian; lidi seikat sulit dipatahkan, bukan? Islam juga menyuruh untuk berjamaah kan?

Sedangkan jika kalian merasa tak punya daya atau tidak cukup peduli, setidaknya hiduplah dengan damai, berbuat baiklah yang banyak, kerja yang jujur, berdoa yang sungguh-sungguh. Jangan sampai memperkeruh…

Saya sendiri hanya punya daya untuk menulis di blog yang mungkin cuma dibaca satu dua orang saja, tapi itu cukup buat saya meneruskan hidup dengan lebih sedikit beban pikiran tuk esok.

***

I watched a loving deer mother, frantically kicking a lion that grabbed her son’s neck; such a casual show on Nat Geo Wild. I realized then, that the nature of the world is never about fair and justice. If it’s not only about surviving it, then it’s just about believing or ignoring.

Fajrin Yusuf M.
Garut, 10 Mei 2017



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

1 Comment

  • […] besok, sebelum kita mencicipi cita-cita apapun. Tidak semua orang memperoleh yang diinginkannya. Seorang anak perempuan di Sudan mati kelaparan sebelum dia bisa memimpikan apapun. Orang bilang dunia memang setidak-adil itu. Tapi saya percaya, […]

Post a Comment