Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia Untuk Seberapa Tinggi?

Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia Untuk Seberapa Tinggi?

Seberapa tinggi kita mesti menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM)?

Yah, dari judulnya sepertinya tulisan ini bakal agak berat…  tenang, saya juga ngga suka yang berat-berat. Di tulisan ini juga saya cuma mau bercerita tentang seorang teroris nyentrik dari Norwegia…

Jadi ceritanya ada seorang teroris asal Norwegia; cuman teroris yang ini bukan muslim. Oh ada gitu teroris yang bukan muslim? Ya ada dong, si ini dia nih yang mau diceritain. Namanya Anders Behring Breivik.

Kejahatannya yang pertama: meledakkan bom mobil di luar gedung pemerintahan di Oslo, menewaskan 8 orang… hmm, keji? Belum seberapa dibanding kejahatannya yang kedua… Kejahatannya yang kedua: dia pergi ke sebuah perkemahan musim panas di suatu pulau, nyamar pake seragam polisi yang dia dapet entah dari mana, lalu nembakin remaja-remaja yang lagi ikut acara perkemahan itu; menewaskan 69 orang.

Total 77 orang tewas, dan lebih dari 300 orang luka-luka akibat ulah si teroris ini. Alasannya dia? Yah, intinya dia anti imigran, anti islam, anti multikulturalisme, dan gitu-gitu lah ga ngerti, lagipula itu bahasan beratnya, dan ngga akan terlalu dibahas di sini. Gugling aja sendiri.

Yang ingin saya ceritain adalah kejadian-kejadian unik seudah aksi itu. Tentu dia ditangkap lalu diadili. Nah, coba tebak berapa lama vonis hukuman kurungan penjara buat si doi?  Tentu doi dapet hukuman penjara maksimum di Norwegia… sudah sepantasnya…

Tapi berapa lama hukuman penjara maksimum di Norwegia??? Ternyata eh ternyata… 21 tahun…

Kalian yang setuju koruptor dihukum mati aja, bakal ditertawain di Norwegia. Kalian ngerti HAM ngga sih? Hahaha…

Apakah hukuman 21 tahun penjara itu adil buat kejahatan yang udah dia perbuat? Ngga adil? Yah, kalian bisa punya pendapat sendiri-sendiri. Yang pasti mereka yang jauh di Eropa sana berpendapat bahwa mengurung manusia lebih dari 21 tahun itu melanggar Hak Asasi Manusia.

Saya sih rada kesel… tapi ada beberapa cerita yang bikin saya bener-bener kesel sama si teroris ini.

Pertama,  pas dia ditangkap, sepatunya dia, yang kena darah korban, dijadiin barang bukti, jadi diambil sama polisi. Terus sama polisi dikasih sendal jepit. Eh dia malah nolak, bilang kagak mau pake itu, malu-maluin dia aja. Terus dia ngeluh ada luka di jari-nya. Pas diinget-inget, lukanya itu berasal dari pecahan tengkorak waktu dia nembak kepala seorang remaja dari jarak dekat. “You’ll get no fucking plasters from me.” kata si polisi yang udah bener-bener kesel. Eh, dia ngeyel, katanya bakal pingsan kalo ngga segera diobatin. Akhirnya interogasi berhenti dulu buat ngobatin dia.

Kedua, kondisi penjara Norwegia yang bener-bener cushy. “the prison utopia”, katanya, “the nicest prison on earth”. Napi disana dikumpulin di suatu pulau di selatan Oslo. Mereka bisa jalan-jalan di pulau itu, dan pulaunya di setting kayak perkampungan biasa. Napi-napi bisa bertani, merawat ternak, main tenis, main ski, dan main-main lainnya. Mereka punya pantai sendiri dan bisa main perahu-perahuan. “Daily prison life should not be any different than ordinary life, as far as this is possible.”, kata kepala penjaranya. Kita, orang-orang bebas di Indonesia, standar hidupnya kayaknya di bawah standar hidup Napi di Norway, hahaha… lagian penghuni penjaranya cuma ada 115 orang aja.

Menurut si teroris tadi, di penjara ini, dia punya tiga sel, yang pertama buat tidur, yang kedua buat belajar, yang ketiga buat olahraga. Dia bisa main game, main komputer (tapi ga pake akses internet), nonton TV, dan baca koran. Jadi kebayanglah si teroris tadi hidup tenang dan damai di penjara, mungkin ngelanjutin nulis bukunya tentang kegagalan multikulturalisme yang nanti dia rilis seudah bebas.

Ketiga, walaupun penjaranya enak, dia tetap ngeyel. Ngeluh soal console PS 2, yang ketinggalan jaman, dan mesti segera diganti sama PS 3 (katanya sampe ngancem mogok makan segala). Ngeluh masalah roti yang kurang mentega, atau kopi yang udah dingin. Dia juga ngeluh karena ruangan selnya kurang sentuhan seni. Terus ngeluh karena dia ngga dibolehin ngebales surat-surat “simpatisan dan pengikut”nya. Terus ngeluh sampai dia tulis dan dikirim ke media tentang otaknya yang udah sebegitu rusak gara-gara isolasi penjara sampai-sampai dia jadi suka sama acara reality dating show. Fff… What a guy!

Daaan keempat, April 2016 kemarin, pengadilan memenangkan si Breivik ini, bahwa pemerintah Norway memang sudah melanggar HAM-nya selama dia di penjara; yang berarti kualitas penjara mesti ditingkatin dan dia mesti dikeluarin dari ruang isolasi.

Entahlah, buat saya ga masuk di akal sih… tapi ini emang nyata. Dan saya ga habis pikir gimana perasaan para korban dan keluarga mereka yang udah bener-bener dilanggar HAM-nya sampai habis.

This is an assault on us all”, kata seorang korban yang namanya Hanssen, mendengar putusan pengadilan itu. Waktu kejadian serangan itu, Hanssen baru 17 tahun. Si teroris ini nembak dia lima kali, satu peluru bahkan nembus matanya. Dia kehilangan mata dan beberapa organ tubuhnya rusak permanen. Ajaib dia masih bisa selamat. Sayangnya, teman dekat Hanssen, Simon, tewas tergeletak di samping Hanssen dalam peristiwa itu.

The court has gone a bit too far now, wanting Norway to be the best boy in class when it comes to human rights”, kata Hanssen.

Anders Breivik, si teroris nyentrik dari Norwegia
Anders Breivik, si teroris nyentrik dari Norwegia, jago bicara soal hak asasi manusia mah.

***

Jadi inget petuah abah Martin Luther King Jr., yen “Injustice anywhere is a threat to justice everywhere.

Tapi apalah pula injustice dan justice itu kalau masih kita-kita orang juga yang mendefinisikan… Adilkah menghukum pelanggar HAM dengan melanggar HAM si pelaku? Orang-orang masih berdebat… Di Indonesia masih ada hukuman mati, yang kata banyak orang, melanggar HAM. John Grisham sampe bikin banyak novel yang memperlihatkan bahwa hukuman mati itu bahaya… salah satunya karena kita bisa jadi salah… (seperti di novel the Chamber, yang mana si pengadilan akhirnya menghukum mati orang yang salah)

Yah, itulah kelemahan kita. Seberapa bagus pun sistem yang kita buat, kita masih bisa salah. Newton bikin kesalahan, mungkin Einstein juga. Yang saintifik gitu bisa salah, apalagi hukum-hukum sosial yang coba kita rumuskan bareng-bareng, bahkan konsep-konsep Hak Asasi Manusia itu saya sendiri ngga begitu paham batas-batasnya.

Banyak sekali orang-orang yang ngga dapet kesempatan untuk mendapatkan keadilan dunia… I give my deepest sympathy for them, and for all people who lost their loved one in such injustice manner. Tapi daripada berjuang untuk keadilan kalian, yang sudah pergi, saya lebih memilih mendoakan kalian agar mendapat keadilan di sisi sana. Lagipula hukuman dunia kadang tidak terasa beratnya, seperti Breivik yang penjaranya super nyaman, atau Gayus yang pergi pelesir di masa tahanannya.

Bandingkan dengan penderitaan Hanssen yang kehilangan satu mata, ada pecahan peluru di otaknya, tulang bahu-nya remuk, dan mesti dipasangin ini itu di tubuhnya. Atau Rachel Corrie yang digilas tank. Atau para pedagang Pasar Limbangan. Kejahatan apa yang mereka lakukan sampai pantas mendapat “hukuman” itu? Bagaimana nasib hak asasi manusia mereka?

Nevertheless, I can live with this worldly injustice. Oh, It’s good and noble if you want to make changes about it. But my advice is “don’t get too carried away…”. Yes, at some points in our life, I’m sure you and I will experience that very injustice strikes at ourselves.. whether you’ll fight for your right or not, again it’s up to you. But my advice is still “don’t get too carried away…”.

Don’t worry, we’ll be fine in the afterlife… or I hope so…

Fajrin Yusuf M,
23 Maret 2017
Sumber: awal tahu dari orang norway-nya yang kemarin diajakin jalan-jalan, sisanya dari hasil gugling.

Tentang Hak Asasi Manusia

*******


Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.