Sains vs Agama

Sains vs Agama
Fajrin Yusuf M.

Kemarin saya lihat tweet yang cukup menggelitik dari Mbah Sudjiwo Tejo, beliau bilang :

“Seorang ta’mir masjid di kampus terkenal nyaranin aku agar kalau soal agama bertanya ke ahli agama. Aku bingung, adakah setitik pun persoalan hidup yg bukan agama? Bagiku kimia, fisika, matematika dll. adalah persoalan agama yaitu cara manusia mengakui kebesaran Tuhan.”

Saya bukan penggemar beliau sebenarnya dan banyak tidak setuju dengan pandangan beliau, tapi dalam tweet ini, saya setuju dengan pertanyaan retorik beliau bahwa memang tidak ada setitik pun persoalan hidup yang bukan agama.Continue Reading

Renungan di Pagi dan Petang

Renungan di Pagi dan Petang.
Jadi pagi ini, seseorang muncul di timeline media sosial saya dengan sebuah doa yang memberi saya beberapa renungan. Doa itu adalah:

“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan”

Arti dari doa tersebut kira-kira begini:

“Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, dan perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu) selamanya”Continue Reading

Ar-Rahman: Membangun Hubungan Personal dengan Al-Qur’an

Di salah satu artikel yang lain, saya pernah bilang bahwa saya punya hubungan personal yang lebih dengan salah satu surat dalam Al-Qur’an, yaitu surat Al-Fajr, karena nama suratnya sama dengan nama yang diberikan ibu saya kepada saya. Kalian mungkin tidak punya keterhubungan yang sama karena nama kalian tidak sama dengan saya, hehe… Tapi ada satu surat yang cukup populer, unik dan ikonik, hingga jadi favorit bagi banyak muslim, tidak terkecuali saya: yaitu surat Ar-Rahman.Continue Reading

Nama-nama Kebahagiaan

Kata para filsuf yunani dulu, semua tindak-tanduk manusia itu tujuannya bisa dikerucutkan jadi satu kata, yaitu Eudaimonia, atau yang biasa kita artikan sebagai kebahagiaan. Sokrates dan muridnya (Plato) dan murid dari muridnya (Aristoteles) berpendapat demikian. Saya juga kalau sedang galau berkontemplasi seringnya meng-iya-kan pendapat tersebut. Intuitif sih.

Walaupun demikian, kebahagiaan itu terbukti ada macam-macam, sesuai dengan macam-macamnya interpretasi dan value orang. Mungkin karena itulah, walaupun tujuannya sama (menuju kebahagiaan), tapi arah tiap orang beda-beda. Contoh simpelnya, ada yang mencari kebahagiaan dengan travelling, ada juga yang mencari kebahagiaan dengan diam di rumah bersama keluarga. Contoh ekstrimnya, ada yang mencari kebahagiaan lewat obat-obat terlarang, dan ada juga yang mencari kebahagiaan lewat shalat tahajjud rutin. Jadi memang intuitif juga mengapa kebahagiaan orang beda-beda.

Continue Reading