Siti Pergi Sekolah

Siti mengurung diri di kamarnya sejak sepulang sekolah, menangis hingga tertidur.

Sebenarnya Siti pulang dengan kabar gembira, bahwa bulan depan sekolahnya akan mengadakan kegiatan study tour ke Dufan khusus untuk kelas 8. Girang tak karuan, Siti membayangkan perjalanan menyenangkan bersama teman geng riweuh-nya. Bahkan mungkin bisa mencuri satu dua kesempatan untuk lebih intens mengirim kode-kode kepada cowok gebetannya, Arif, si ganteng kalem dari kampung sebelah.

Tapi satu kalimat dari Ibunya berhasil mengubah mood Siti dari yang tadinya puja-puji syurgawi menjadi sumpah serapah jahanam. “Naon atuh ngiluan nu kararitu, euweuh duitna ge timana…”, kata Ibunya tanpa tedeng aling-aling, bahkan tanpa memalingkan pandangannya dari piring-piring yang sedang dia cuci.

Hati Siti hancur begitu saja tanpa disadari Ibunya. Dia berlari ke kamar, lalu membanting pintunya sekeras mungkin, hingga Ibunya kaget dan menjatuhkan piring yang sedang dia cuci. Kini Ibunya sadar, hati Siti telah pecah berkeping-keping seperti piring yang ada di hadapannya. Ibunya mencoba memperbaiki keadaan, tapi percuma, yang terdengar dari kamar Siti hanya isak tangis saja.

***

Ayahnya pulang selepas maghrib. Dia kerja di Puskesmas; di bagian pendaftaran.

Malam itu perut Siti keroncongan. Lontong kari di jam istirahat sekolah sudah habis dikonversi jadi air mata. Tapi gengsi juga untuk pergi keluar dan meminta makan kepada Ibunya; Ibunya yang begitu dingin, kejam tanpa perasaan. Satu-satunya yang dapat menolongnya dari dilema ini adalah Ayahnya.

Ayahnya mengetuk pintu kamar Siti dan memanggilnya. Siti hanya membuka selot kunci kamarnya, tanda bahwa Ayahnya boleh masuk dan dia masih terlalu gengsi untuk keluar. Siti kembali ke kasurnya yang sudah basah oleh keringat dan airmata. Ayahnya membawa sepiring nasi sayur dan satu keresek martabak telor kesukaannya.

yeuh, emam heula yeuh.”, kata Ayahnya tenang sembari menyimpan semua bawaannya di meja belajar Siti. Siti tidak beranjak. Dari luar terlihat Ibunya mengamati sambil menggendong Silmi yang baru 2 tahun. Adiknya, Syamsul, yang masih kelas 5 SD juga curi-curi pandang ke dalam kamar. Rasa gengsinya untuk mencicipi makanan semakin bertambah.

Bade studi tour kamana cenah Siti teh?”, kata Ayahnya sambil duduk di kasur dan memijit-mijiti betisnya. Siti tidak menjawab.

Ka Dufan cenah nya?”, Ayahnya melanjutkan. Siti mengangguk kecil.

Iraha cenah?”, ujar Ayahnya terus memancing.

Bulan payun…”, akhirnya Siti menjawab, terselang oleh sisa-sisa isakan tangis yang siap membuncah lagi jika sedikit saja terkena rasa kecewa lagi, “…tapi kedah enjing bayarna.

Sabaraaaha?”, kata Ayahnya enteng, seolah dia adalah milyuner yang tidak akan pernah kehabisan duit.

lima ratus rebu.”, kata Siti pelan.

ah pira atuh lima ratus rebu, yeuh ayeuna ge dikontanan.”, kata Ayahnya congkak, sembari mengeluarkan lima lembar gambar Soekarno-Hatta yang sedang nyengir.

Siti hanya salah tingkah. Ayahnya melesakkan uang itu di tangan Siti. Siti memegangnya; erat. Ibunya sudah tidak nampak di pintu, begitu pula dua adiknya. Jadi Siti bisa menikmati nasi sayur dan martabak telornya dengan damai.

tos emam geura sholat! maenya tos SMP masih can bener keneh sholatna.”, ujar Ayahnya sembari meninggalkan kamar. Dengan senang hati, Siti mematuhinya.

***

Siti masih gengsi untuk bicara pada Ibunya di pagi hari, tapi uang lima ratus ribu di dalam tasnya berhasil membuat wajah Siti kembali merona.

Sekolah akan jadi tempat yang menyenangkan hari ini, setidaknya begitulah pikirnya. Dimulai dengan jalan berlambat-lambat menuju sekolah untuk memperbesar kesempatan dia bertemu Arif dan kemudian menghabiskan perjalanan berdua menuju sekolah. Kemungkinannya bertemu Arif cukup besar karena Arif juga suka berjalan ke sekolah. Tiga dari enam kali dalam seminggu perjalanannya ke sekolah dia habiskan dengan hati berdebar-debar di samping Arif. Sayangnya, hari ini dia tidak bertemu Arif, padahal dia sudah sangat melambatkan jalannya hingga sedikit terlambat.

Arif ternyata telah lebih dulu berangkat, dan telah duduk rapi di kelas. Tidak hanya itu, dia duduk sebangku dengan saingan utamanya, Dinda, si anak Camat yang cantik. Siti hanya telat kurang dari tiga menit, tapi sepertinya dia sudah sangat ketinggalan gosip terhangat satu sekolah. Bahwa Arif telah menembak Dinda kemarin sore, dan sekarang mereka pacaran.

Padahal, Siti berangkat sekolah dengan mengumandangkan puja-puji syurgawi.

***

Siti tidak belajar apapun di sekolah hari itu.

Otaknya telah penuh menahan bom perasaan yang seharusnya dia ledakkan seperti yang dia lakukan pada Ibunya kemarin sore. Dia fokuskan seluruh jiwa raganya untuk menahan letusan air mata, hingga menyebabkan gempa tremor di seluruh tubuhnya. Sampai jam pelajaran berakhir, dia tidak berbicara sepatah kata pun. Dia bahkan tidak bicara kepada geng riweuh-nya. Gengnya juga tidak bicara kepadanya karena takut memperparah, atau hanya takut kena semprot. Untungnya Siti berhasil menahan urai air mata hingga tiba di rumahnya.

Uang lima ratus ribu itu tidak jadi dia berikan kepada gurunya. Siti membawanya kembali pulang, lalu memberikannya kepada Ibunya dengan penjelasan singkat, “Siti moal janten ngiring, mah.”, lalu berjalan ke kamarnya. Ibunya hanya diam terheran-heran melihat Siti yang seolah tinggal rohnya saja, melayang masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Ibunya takut Siti masih marah, jadi dia membiarkannya. Siti menutup kamarnya pelan saja kali ini.

Ibunya tidak tahu kalau di dalam kamar itu, Siti tengah mengeluarkan energi endogen yang seolah telah ratusan tahun dipendam.

***

Selepas maghrib, Ayahnya kembali menghiburnya, menyuruhnya makan, dan shalat. Tapi kini dia gagal total. Siti seolah telah melesak masuk ke dalam ranjangnya dan tak tahu jalan kembali.

***

Malam itu Siti terbangun, kepalanya sakit dan perutnya menjerit-jerit. Kamarnya remang-remang oleh cahaya neon dari ruang sebelah. Dia bangun dan melihat segelas air putih dan paket nasi ayam komplit sudah tersedia di meja makannya. Dia mencoba minum walaupun perutnya kini mual.

Dari luar Ayah dan Ibunya terdengar masih berdiskusi. Sepertinya belum terlalu malam, setidaknya begitulah pikirnya. Siti memutuskan untuk menunggu Ayah dan Ibunya pergi tidur agar dia bisa pergi ke WC dengan damai. Suasana hening membuat percakapan pelan Ayah dan Ibunya terdengar.

ari ieu artosna kumaha atuh?”, kata Ibunya pelan.

nya uihkeun deui we atuh ku mamah ari teu janten mah.”, jawab Ayahnya.

ih, ku bapa atuh, mamah mah teu deukeut jeung Haji Iwa mah.”, suara pelan Ibunya sedikit meninggi.

Terdengar suara ayahnya sedang memasukkan motor tua-nya ke dalam rumah dan mengunci pintu-pintu depan.

nya atos ku bapa enjing.”, kata Ayahnya mengalah. Keduanya pun pergi dari ruang depan.

Sakit kepala Siti mendadak hilang.

Esoknya, Siti pergi sekolah dengan langkah-langkah yang mantap.

***

Fajrin Yusuf M
Garut 25 September 2017

PS. Let’s stop compiling our shattered little heart, dear. Guess what, it will be shattered, again and again. We will lost, we will meet painful moments on our way. It’s a matter of time, sooner or later we will. And guess what, we will endure.

Like a somebody called Yusuf before me, he got a loving father but then he was thrown into a well by his brothers, then got helped only to be sold as a child slave, then got a job only to be convicted to a crime he didn’t commit, and lived his youth life in a desperate jail. Imagine if at that point, he’s busy cursin’ an unfair life that God has given to him. No, He endured. He strived forward and save a nation from catastrophic famine… We will also strive forward, just like him. Yes, there will be pain, maybe much of it, oh, maybe full of it, but guess what, we won’t die as a loser that has surrendered.

Let people do whatever they desired to do, let them be whoever they wished to be, let them marry whoever they wanted to be with, let them dig gold as much as they’re willing to have. As you will continue living as a good human being, no matter how filthy your place are.

Welcome to the world, Siti!




________

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment