Sains vs Agama

Sains vs Agama

Sains vs Agama
Fajrin Yusuf M.

Kemarin saya lihat tweet yang cukup menggelitik dari Mbah Sudjiwo Tejo, beliau bilang :

“Seorang ta’mir masjid di kampus terkenal nyaranin aku agar kalau soal agama bertanya ke ahli agama. Aku bingung, adakah setitik pun persoalan hidup yg bukan agama? Bagiku kimia, fisika, matematika dll. adalah persoalan agama yaitu cara manusia mengakui kebesaran Tuhan.”

Saya bukan penggemar beliau sebenarnya dan banyak tidak setuju dengan pandangan beliau, tapi dalam tweet ini, saya setuju dengan pertanyaan retorik beliau bahwa memang tidak ada setitik pun persoalan hidup yang bukan agama.

Dalam suatu diskusi intra keluarga, saya juga pernah mengemukakan pendapat bahwa saya tidak setuju dengan dikotomi yang diberikan orang melalui pernyataan, “jangan melulu belajar masalah dunia, banyakin belajar agama juga dong.

Alasan ketidak-setujuan saya (atas pengkotakan masalah dunia dan masalah agama) sederhana saja, dengan pengkotakan tersebut, orang juga akan terkotakkan. Ketika belajar sains secara terpisah dari agama, orang tidak akan merenung tentang penciptaan Yang Agung. Pun juga ketika belajar Al-Kitab tanpa sains, kita tidak betul-betul menghargai penciptaan (dengan menganggap remeh fenomena-fenomena alam dan sosial di sekitar kita).

Ambil contoh ‘masalah dunia’ yang saya temui waktu SMP, tentang hukum kekekalan energi, bahwa energi bisa berubah bentuk tapi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Bayangkan, saya mempelajari hal itu di pesantren, setelah pelajaran Al-Qur’an yang mengajarkan saya bahwa Allah SWT. yang mencipta semuanya. Tapi tidak ada murid yang komplain dengan kontradiksi itu karena siapa pula yang mencampur-adukkan fisika dengan agama ketika kedua hal itu beda kotaknya?

Pengkotakkan ini lah yang membuat diskursus sains vs agama terjadi. Pengkotakkan ini akan menghasilkan stereotip, bahwa orang terpelajar itu lewat pikirannya yang kritis dan skeptis ujungnya jadi agnostik atau ateis, dan orang agamis itu lewat pikirannya yang tertutup dan irasional, jadilah orang-orang bodoh intoleran tak terdidik, ujungnya paling jadi kaum bumi datar. Sayangnya, stereotip ini sudah muncul saat ini.

***

Ilmu Bukti vs Ilmu Tanpa Bukti

Saya lebih suka menyebut sains dengan sebutan ilmu bukti, setelah baca buku Madilog-nya Tan Malaka dulu waktu kuliah, hehe… Saya ingat, seorang teman pernah mewanti-wanti saya jangan sampai jadi kbelinger setelah baca buku itu.

Salah satu bagian yang bisa bikin kbelinger adalah di bab awal, tentang Logika Mistika, dimana penulis mencoba mengajak pembaca untuk berpikir tentang kemaha-kuasaan Dewa Ra dan mana yang lebih dulu, zat atau rohani. Yang pada akhirnya berujung pada simpulan bahwa adanya hakikat seperti Dewa Ra itu bertentangan dengan akal. Seperti menenun kain sarung, jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut akan berputar-putar saja. Jujur saja, masuk akal pula narasi yang dibangunnya.

Dari narasi itu juga dikuatkan dengan argumen bahwa peradaban manusia menjadi luar biasa maju setelah ilmu materi (matter/materialism) dikedepankan dibandingkan ilmu agama. Zaman kegelapan eropa ditandai dengan memimpinnya peran agama dalam masyarakat dan zaman renaisans ditandai dengan munculnya ilmu pengetahuan. Dengan demikian, jika ingin maju peradaban kita, maka ilmu bukti harus dikedepankan daripada ilmu tanpa bukti.

Perlu saya beritahukan bahwa saya setuju dengan premis bahwa “jika ingin peradaban kita maju, maka ilmu bukti harus dikedepankan daripada ilmu tanpa bukti”. Here’s why.

Kembali pada premis pertama bahwa saya tidak setuju dikotomi ilmu dunia vs ilmu agama; bagi saya keduanya adalah satu. Jadi ketika ada perdebatan ilmu bukti dan ilmu tanpa bukti, maka saya melihat Islam adalah gabungan kedua hal tersebut. Al-Qur’an menyuruh kita melihat langit, gunung, laut, pergantian siang dan malam, hujan, hewan-hewan, lebih lanjut, Al-Qur’an menyuruh kita bertebaran di muka bumi untuk belajar dan mengenal bangsa-bangsa lain, untuk mempelajarinya sebagai tanda kebesaran Allah SWT. Yang semuanya adalah ilmu bukti atau ilmu materi, sains.

Jika anda berpendapat bahwa Islam adalah ilmu tanpa bukti, maka saya tidak setuju. Bagi saya, ilmu tanpa bukti hanya berlaku untuk hal-hal ghaib saja, seperti jin, malaikat, kehidupan setelah kematian, dll. Hal-hal tersebut tidak untuk dibuktikan, tapi untuk dipercayai. Di sanalah kita menundukkan intelejensia kita dan merendah di hadapan-Nya, lalu menjadi islam (berserah diri). Tapi Islam tidak hanya tentang hal-hal ghaib bukan?

Jadi alih-alih membangun premis,

ilmu bukti       = sains, ilmu sosial, dll. (ilmu materi)
ilmu tanpa bukti = Islam

ilmu bukti       > ilmu tanpa bukti

Saya berpegang pada persamaan,

             ilmu bukti       = sains, ilmu sosial, dll. (ilmu materi)
       ilmu tanpa bukti       = hal ghaib (ilmu immateri)

ilmu bukti + ilmu tanpa bukti = Islam

Ilmu tentang hal yang ghaib tidak boleh dipelajari secara saintifik, tapi harus secara spiritual. Kepercayaan kita pada-Nya harus meresap pada diri dan menjadi pagar moral universal yang tidak pernah bengkok. Hal ini menurut saya tidak boleh dinihilkan. Karena membuka sebelah mata lebar di ilmu bukti dan melakukan pembutaan terhadap ilmu yang ghaib akan berakibat munculnya kebenaran relatif atau kebenaran sesuai konsensus, mengalahkan kebenaran absolut yang tegak. Kebenaran yang ada saat ini, belum tentu menjadi kebenaran esok hari. Hal ini telah terjadi, dan saya memprediksi, bahwa kebengkokan ini akan terus melenting menjauhkan kita semua dari kesempurnaan islam.

Jadi saya setuju, jika ingin peradaban maju, maka fokuslah pada ilmu bukti. Tapi jika ingin peradaban menjadi peradaban yang bahagia, penuh cinta, rahmatan lil alamin, maka kedua ilmu tersebut harus dipelajari sesuai dengan porsinya, di kepala dan di hati.

Tentang Tan Malaka, Madilog, dan Islam

Side note: tentang Tan Malaka dan Islam
Sebelum anda berpendapat bahwa Tan Malaka ini menyudutkan islam dan melakukan penistaan agama, ada satu tulisan lain Tan Malaka yang khusus tentang islam, yaitu “Islam dalam Tinjauan Madilog” (1948). Berikut saya kutip pendapat beliau tentang islam:

“.. Itulah maka saya anggap bahwa Agama Monotheisme nabi Muhammad yang paling consequent terus lurus. Maka itulah sebabnya menurut logika maka Muhammad yang terbesar diantara nabinya monotheisme. … Jadi menurut Madilog Yang Maha Kuasa itulah bisa lebih kuasa dari undang alam. Selama Alam ada dan selama Alam Raya itu ada, selama itulah pula undangnya Alam Raya itu berlaku. Menurut undang Alam Raya itu bendanya itulah yang mengandung kodrat dan menurut undang itulah caranya benda itu bergerak berpadu, berpisah, menolak dan menarik dan sebagainya. Kodrat dan undangnya yang berpisah sendirinya tentulah dikenal oleh ilmu bukti. Berhubungan dengan ini maka Yang Maha Kuasa jiwa terpisah dari jasmani, surga atau neraka yang diluar Alam Raya ini tiadalah dikenal oleh ilmu bukti, semuanya ini adalah diluar daerahnya Madilog. Semuanya itu jatuh ke arah kepercayaan semata-mata. Ada atau tidaknya itu pada tingkat terakhir ditentukan oleh kecondongan persamaan masing-masing oran

g. Tiap-tiap manusia itu adalah merdeka menentukannya dalam kalbu sanubarinya sendiri. Dalam hal ini saya mengetahui kebebasan pikiran orang lain sebagai pengesahan kebebasan yang saya tuntut buat diri saya sendiri buat menentukan paham yang saya junjung.”

Saya berpendapat buku Madilog karya Tan Malaka ini luar biasa, apalagi jika membayangkan masa ketika beliau menulis buku ini. Yah, memang bahasannya sangat filosofis di bab-bab awal, tapi setelah dibaca lebih jauh, ternyata saya malah merasa sedang baca buku-buku olimpiade matematika yang sudah saya cerna di SMA. Baca tentang metode-metode pembuktian, pengambilan kesimpulan, logika matematika, induksi, deduksi, verifikasi, dan semacamnya. Saya sudah kbelinger mempelajari hal-hal tersebut sejak SMA. (but seriously, if you want to read a book that can teach you how to think in a good scientific and logical way, read this book!)

Beberapa hal yang menarik bagi saya justru ada di bagian Pendahuluan (dan beberapa bab awal), yang diantaranya berisi tentang kritik penulis terhadap Soekarno dan Hatta yang tidak punya visi bangsa Indonesia dan malah menjalankan Indonesia “dibawah pedang samurai” (1942), lalu tentang Madilog yang dibuat untuk mengundang kaum proletar agar berpikir dan mempunyai pandangan dunia (Weltenschauung), juga tentang beberapa pemikiran filsafat yang pernah saya baca di novel Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, serta jembatan keledai yang menjadi asal nama Madilog, yaitu adalah tiga terminologi unik Materialisme, Dialektika, dan Logika (jadi MaDiLog).

Buku yang sarat nutrisi.

[collapse]

Sains vs Agama: The Origin

Sains vs Agama = Faith vs Fact
Sains vs Agama = Faith vs Fact

Untuk membahas mula dari perdebatan sains vs agama ini, saya juga harus membahas sejarah sekularisme yang panjang. Saya tidak tahu harus mulai dari mana dan saya juga bukan ahlinya. Jadi kalau salah, mohon dikoreksi.

Kira-kira begini, mungkin kalian pernah baca ilmuwan-ilmuwan yang dihukum mati gereja di Eropa zaman pertengahan. Atau mungkin kalian pernah baca tentang zaman kegelapan yang digantikan zaman renaisans. Di zaman-zaman renaisans inilah pemikiran-pemikiran muncul, dan salah satunya adalah pemikiran untuk memisahkan agama dari pemerintahan, yang merupakan reaksi alerjik dari apa yang terjadi di zaman sebelumnya.

Di abad ke-13, masyarakat Eropa mulai melahirkan pemikiran-pemikiran filosofis, dan orang menjadi kritis terhadap bibel dan mulai memberontak terhadap gereja. Abad berikutnya, Renaisans, tidak hanya melahirkan banyak sekali kemajuan di bidang pemikiran dan ilmu pengetahuan, tapi juga melahirkan dua gerakan baru, yaitu gerakan protestan, yang ingin lebih mendemokratiskan kristen, dan gerakan renaisans itu sendiri yang menyatakan bahwa agama tidak boleh ada dalam kekuasaan atau pemerintahan, yang mana itulah sekularisme.

Jadi pada saat itulah sains menang dari agama. Tapi yang sesungguhnya menang adalah induk dari si sains, yaitu ilmu materi alias Materialisme (Ma dari Madilog).

Maksud saya begini, misal contoh seorang petani; dulunya negara/kerajaan menyuruh si petani berdoa tiap hari selama berbulan-bulan untuk minta panen yang bagus, tapi yah hasilnya segitu-gitu saja. Setelah renaisans, pemerintah lebih memilih fokus pada wujud yang ada, yaitu tanamannya, bagaimana cara merawat yang terbaik, tanahnya harus dipupuk pakai apa, irigasi yang terbaik seperti apa. Salah satu pemikiran era renaisans adalah bahwa ada atau tidak adanya Tuhan itu tidak terlalu penting, tapi jika kita mengalihkan fokus pada apa yang ada, yaitu semesta fisik/materi, maka kemajuan peradaban yang diperoleh sangat signifikan.

Contoh lain, orang-orang berdiskusi masalah jiwa atau roh dan hubungannya dengan tubuh makhluk hidup. Diskusi itu tidak membawa mereka kemana pun dan tidak memberi manfaat apapun pada peradaban. Tapi jika orang-orang itu fokus pada tubuhnya saja, yang wujudnya ada, bisa diteliti dan bisa dipelajari, lihatlah pesatnya perkembangan dunia medis, yang dibuktikan dengan meningkatnya harapan hidup, meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat, dll.

Orang-orang juga mulai berpikir bahwa adanya surga dan neraka itu tidak lagi relevan, yang penting adalah peradaban yang ada terlihat di depan mata ini menjadi lebih baik di masa depan. Selama hampir satu milenia (abad ke-4 sampai abad ke-14), gereja menjadi suar peradaban, tapi peradaban malah terjun dalam kegelapan; tapi ketika sains memimpin, lihat hasilnya, peradaban yang luar biasa: revolusi di Prancis, revolusi industri di Inggris, dan di seluruh dunia.

Termasuk Indonesia. Kita adalah masyarakat renaisans, masyarakat materialistik. Lihat saja kalau anak-anak mau masuk kuliah, mana yang jadi pilihan favorit? Teknik, Kedokteran, Ekonomi, Manajemen, Desain, dan ilmu materi lain yang menjadi pilar peradaban. Kalau anak milih jurusan sastra, filsafat, teologi, atau keagamaan, mungkin si orang tua bakal mengernyit dan nanya, “emangnya kamu mau jadi apa ntar?

Prediksi saya, jika kita terus membutakan sebelah mata dan fokus pada dunia materi, peradaban akan maju, tapi bakal makin banyak terjadi kebengkokan di sisi moral, karena kebenaran saat ini, bukanlah berarti kebenaran saat nanti, kebenaran bukanlah kenyataan. (Dewa 19 – Hidup adalah Perjuangan; I’ve said this before, I don’t like Ahmad Dhani, but I have to admit that he is a damn genius bastard)

Sains vs Agama: yang Seimbang vs yang tidak seimbang

Salah satu kritik terhadap gereja di zaman pertengahan adalah bahwa mereka membutakan mata pada hal materi, dan terlalu fokus pada yang immateri;  gentar ketika dihadapkan pada pemikiran rasional, sehingga malah melakukan penindasan yang tidak perlu. Sedangkan kritik bagi materialisme adalah membutakan sebelah mata pada dunia immateri, dan terlalu fokus pada materi; sehingga menciptakan kebengkokan pada kebenaran dan malah tidak menganggap kebenaran atau hidup setelah kematian itu penting.

Islam (mestinya) menjadi umat yang seimbang, ummatan wasathan (2:143). Islam tidak pernah menutup mata pada sains; sebaliknya, Al-Qur’an menyuruh kita merenungkan fenomena-fenomena alam, menyuruh kita makan yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh, bahwa jasad punya hak-nya (Al-hadits), sembari dibarengi dengan merendahkan diri di hadapan Allah SWT dengan mempercayai semua hal tentang-Nya dan semua ciptaan-Nya yang ghaib.

Al-Qur’an adalah kompas moral seorang muslim yang tidak akan pernah bengkok (Al-Kahfi 1-2).

Sayangnya, stereotip yang saya kemukakan di awal terasa sangat nyata saat ini akibat dari ketidak-seimbangan dalam melihat hidup. Banyak orang yang hanya membuka satu mata. Di satu sisi, ada orang yang menutup matanya untuk ilmu hal ghaib, dan membuka lebar mata untuk sains dan kemajuan peradaban. Mereka kini memegang kendali dunia. Di sisi lain, ada kaum agamis yang eksklusif, menganggap sia-sia semua kemajuan peradaban dan fokus pada perbaikan ibadah kepada Allah demi hari akhir yang lebih baik. Mereka ini kini tersisih, dianggap kaum tradisionalis yang terbelakang dan tidak siap menghadapi dunia modern, dan tidak jarang juga tersisih secara ekonomi.

Dan cendekiawan muslim yang membuka kedua matanya malah kehilangan kredibilitasnya. Dianggap terbelakang oleh sisi yang satu dan dianggap tidak kredibel sebagai ulama oleh sisi yang lain.

Inilah fitnah terbesar yang ada saat ini. Fitnah Materialisme.

Epilog: The People of The Cave vs Al-Masih Ad-Dajjaal

Saya ingin menutup artikel panjang ini dengan salah satu diskursus yang bagi saya agak menyeramkan. Diskursus ini muncul ketika saya mempelajari surat Al-Kahfi lewat programnya Bayyinah TV, karena kebetulan lagi menghafal surat itu. Ada sebuah hadits tentang keutamaan surat Al-Kahfi yang bunyinya begini, barangsiapa yang hafal 10 ayat pertama dari surat Al-Kahfi, dia akan terbebas dari fitnah Dajjal.

Walaupun ulama mayoritas sependapat bahwa Dajjal adalah betul-betul orang, yaitu manusia yang ada wujud fisiknya, tapi ada juga yang berpendapat bahwa dajjal adalah sebuah ide. Mana pendapat yang benar, saya harus ikut pendapat ulama mayoritas. Tapi pendapat kedua memiliki poin-poin yang membuat saya merenung panjang dan tidak bisa begitu saja saya abaikan.

Yaitu tentang tanda-tanda dan keajaiban yang dimiliki Dajjal. Dalam berbagai riwayat, Dajjal diberi kemampuan oleh Allah untuk menumbuhkan tanaman di tempat yang tidak biasa; sains sudah bisa melakukan itu. Kemampuan lainnya adalah bahwa dia dapat memperlihatkan dan memanifestasikan keindahan kehidupan dunia; itu kunci materialisme yang berlaku saat ini. Lalu bahwa sumber daya bumi akan berada di tangannya; hari ini juga bumi ada di bawah teknologi dan ekonomi. Lalu bahwa dia bisa menyuruh langit untuk menurunkan hujan dan menyuruh bumi untuk menumbuhkan tanaman; sains juga sudah mempelajari hal itu. Satu kemampuan yang sepertinya belum terjadi adalah bahwa dajjal dapat menghidupkan kembali orang yang telah dia bunuh; mungkinkah sains dapat melakukan hal itu di masa depan?

Argumen-argumen itu berujung pada pendapat bahwa Dajjal adalah sebuah ide tentang materialisme; dan fitnah Dajjal, yang darinya kita minta perlindungan Allah SWT setiap tasyahud akhir di dalam shalat, adalah fitnah ilmu materi yang buta terhadap yang ghaib. Dajjal itu buta mata sebelah kanannya, seolah buta pada hal immateri, dan fokus pada semua hal berwujud, sedangkan orang muslim disebut sebagai golongan kanan.

Jika sekularisme akan menciptakan kebengkokan dalam kebenaran, maka di awal surat Al-Kahfi secara tegas dinyatakan bahwa kitab Al-Qur’an tidak akan bengkok, selalu lurus (qayyima). Mungkin karena itulah 10 ayat pertama surat Al-Kahfi dapat melindungi kita dari fitnah Dajjal.

Lebih lanjut, di dalam surat Al-Kahfi ada 4 cerita yang silih berganti, cerita tentang para penghuni gua, cerita tentang seorang yang memiliki dua kebun yang produktif, cerita tentang Nabi Musa dan Nabi Khidr, dan cerita tentang Raja Zulkarnain yang memenangkan semua peperangannya. Kalau direnungkan, saya melihat bahwa keempat cerita ini fokus pada keseimbangan yang materi dan yang ghaib.

Cerita penghuni gua yang tidur 309 tahun lamanya; adalah hal ghaib bagaimana bisa mereka tidur dan tetap hidup selama itu, tapi tubuh mereka utuh dan sistem sosial di luar gua tetap bejalan. Cerita Nabi Musa yang tidak sabar dengan ilmu ghaib yang dimiliki Nabi Khidr juga memperlihatkan bahwa ada dua ilmu, yang dzahir dan yang ghaib, dan yang ghaib itu sangat sulit kita terima dengan akal. Juga cerita tentang seorang yang punya kebun yang produktif lalu menjadi sombong dan pada akhirnya kebunnya lenyap, memperlihatkan ketidak-seimbangan seseorang yang terlalu fokus pada yang berwujud materi, sedangkan Zulkarnain yang kerajaannya membentang dari timur ke barat tetap tunduk pada Allah SWT dan menjaga keseimbangan antara yang materi dan yang ghaib.

Cerita-cerita tersebut memang penuh hikmah yang bisa kita ambil, namun diskursus yang saya tulis sebelumnya tentang Dajjal membuat saya merinding. Bila memang fitnah Dajjal adalah fitnah materialisme, maka kita harusnya sangat khawatir akan makin dekatnya kedatangan Hari Yang Dijanjikan.

Wallahu a’lam.

Sains vs Agama
Fajrin Yusuf M.

Garut, 8 Juni 2018



****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

1 Comment

  • Aliyyan Wijaya

    June 25, 2018 at 8:12 am Reply

    Nice share kang,

    Sampe bisa menarik kesimpulan mengenai cerita didalam surat al-kahfi mengenai keseimbangan antara yang gaib dan yang materi.

    Mengenai hari akhir, saya pernah mendapat kalimat dari teman saya bahwasanya ada yang mengatakan bahwasanya “Tahun hijriah tidak akan sampai 1500 tahun”. Jika tahun 2018 ini adalah 1438 H maka sisa umur bumi ini kurang lebih 62 tahun !
    Namun tenang karena Nabi Muhammad pernah bersabda tiada yang mengetahui hari akhir kecuali Allah SWT, namun yang perlu direnungkan adalah apakah kita siap untuk menghadapi hari akhir atau kematian itu?

    MQA

Post a Comment