Rumput Laut

Rumput Laut

Rumput Laut
cerpen, oleh: Fajrin Yusuf M
(untuk melihat terjemahan teks bahasa Sunda, gerakkan kursor ke teks)

Memang betul, orang datang dan pergi, seperti gulung menggulung ombak. Beberapa ombak datang cukup kuat dan meninggalkan bekas; terkadang berupa kehancuran, terkadang berupa ikan-ikan.

***

Aku terkesan karena banyak sekali orang yang melayat ketika ibuku pergi. Walau agak kesal juga sebenarnya karena para pelayat itu datang ke sini sekaligus untuk berwisata. Memang rumahku hanya lima puluh meter saja dari pantai yang biasa dipenuhi wisatawan di hari libur Lebaran dan Tahun Baru. Tapi sebenarnya aku cukup yakin, mereka datang ke sini memang karena ibu, bukan karena pantai; kecuali anak-anak kecil murung yang menguntit ibu-ibu mereka dan tak henti bertanya pada orang tua mereka, kenapa orang-orang dewasa ini menangis.

Banyak dari para pelayat yang hadir itu memelukku, setelah mengetahui aku adalah anak bungsu dari ibu yang baru pergi. Aku tidak mengenal kebanyakan dari mereka. Mereka datang dari kota dengan mobil-mobil yang bagus; bersama anak-anak dengan pakaian minim; siap untuk main air di pantai. Tampilan mereka kontras dengan rumahku yang sederhana; khas kampung nelayan. Tapi ibu-ibu itu sungguh-sungguh sedih dan menangis atas kepergian ibuku; walau tidak mungkin sesedih diriku dan kakak-kakakku, yang mulai menyandang status yatim piatu.

Tamu-tamu yang melayat itu tidak habis-habisnya datang, bahkan setelah ibu dimakamkan. Kakak perempuanku yang paling besar memanggilku dari dapur, mencoba menarikku dari kumpulan para tamu yang gantian mencoba menghiburku. Aku memasuki dapur yang baru kali itu terasa lebih segar dari ruang tamu yang sesak penuh orang, padahal hawu masih menyala-nyala dan dinding bilik dapur biasanya membuat udara dapur lebih hangat.

Ayi keur ujian lin?” , kata kakakku berbisik. Dia masih segukan; dengan mata merah sehabis menangis hebat. Dia mengulurkan sejumlah uang, “yeuh, geura angkat atuh, kaburu teu aya èlf.

Aku mencoba berpikir, menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku pergi lagi ke Bandung untuk ikut ujian besok pagi atau menemani kakak-kakakku di rumah. Tidak mungkin aku bisa fokus belajar dan ujian dalam keadaan seperti itu, tapi tinggal di rumah juga hanya akan menambah bahan ratapan saja. Lagipula kakak-kakakku sudah punya keluarganya masing-masing yang bisa menemani mereka. Dan Ibu tidak mungkin kembali. Jadi untuk apa berlama-lama di sini. Aku terima uang yang diulurkan kakakku tanpa berpikir. Aku tidak bisa berpikir jernih. Alih-alih menyiapkan barang-barang untuk berangkat kembali ke Bandung, kakiku malah membawaku gontai ke arah pantai.

Bayangan ibu yang sedang menunduk memotongi rumput laut kembali menggenjot kelenjar air mata.

cai Sayang Heulang mah cai mulang.”, kata ibuku dulu, sambil memotongi rumput-rumput laut yang sudah siap panen. Aku hampir bisa mendengar suaranya. Air laut di sini memang kembali pulang, mengalir ke sungai, bukan sebaliknya; fenomena langka yang sering dijadikan takhayul bagi orang-orang yang mencari kesembuhan dari penyakit dan guna-guna. Ibuku tidak pernah percaya takhayul seperti itu. Sejak dia jatuh sakit hingga akhirnya berpulang, Ibu selalu menolak untuk didoakan sambil berendam di air laut Sayang Heulang yang terbawa pulang ini, padahal hampir semua tetangga menyarankannya.

Air laut sedang surut, menampakkan hamparan karang yang luas dan menghijau karena rumput laut. Matahari bergelayut siap-siap pulang ditelan laut. Aku membasahi kakiku dengan air laut yang tergenang di antara karang-karang. Beberapa ikan kecil berwarna biru terjebak di genangan dan bersembunyi di balik karang ketika aku mencelupkan kakiku. “Kasihan sekali ikan-ikan ini. Mereka tidak bisa pulang.”, pikirku, “Bersabarlah, tunggu hingga malam dan air pasang.

Rasa kasihan terhadap ikan itu cepat sekali berganti rasa kasihan pada diriku sendiri. Aku seolah sudah terlarut dalam air garam sejak semalam ibu dinyatakan kritis di RSUD Pameungpeuk; rasanya perih, lalu sangat perih, lalu tidak lagi terasa apa-apa. Lalu kini, aku terjebak dalam genangan air diantara karang-karang. Hanya menunggu malam dan air pasang, ketika aku akhirnya bisa berpulang. Bertemu ibu lagi.

Sayup terdengar kakakku kembali memanggilku. “Wan! Iwan!

Aku menyeka mata dan pipiku dari air mata, lalu berjingkat ke arah datangnya suara itu.

Kadieu ieu aya Bu Haji Euis.”, kata kakakku. “Ayeuna badè uih deui ka Bandung cenah, bilih badè sareng.

Aku masih belum memutuskan, dan masih belum bisa menimbang-nimbang. Aku pikir, kuliah kini tidak lagi penting. Aku malah bingung, apalagi yang penting saat ini setelah ibu dan ayah tidak ada? Apa arti rumah bila keduanya tidak ada? Apa tujuan hidup ini setelah kesempatan menghajikan orang tua sudah tertutup rapat?

Aku tanya balik kakakku, “teu sawios kitu pami dikantun?

Kakakku tersenyum sambil kembali menyeka air matanya. “biasa na ge dikantun ku ayi mah.

Ya, memang, setelah aku kuliah, aku jarang pulang ke Garut Selatan ini. Selain ongkos yang cukup mahal untukku, waktu dan tenaga juga pasti terkuras habis di perjalanan. Agak malu juga sebenarnya aku dengan jawaban kakakku itu.

Jadi sore itu, aku duduk di bangku tengah sebuah mobil Fortuner berwarna silver, di belakang sepasang suami istri paruh baya yang aku pun tidak mengenal keduanya.

***

Masih aya madrasah teh, wan?

Aya bu, alhamdulillah.

Saha atuh ayeuna nu nungkulanna?

Ku pun raka bu, da raka-raka abdi ngawulang sadayana di madrasah.

Alhamdulillah atuh nya. Ari Iwan kuliah di UIN nyandak naon?

Bahasa Arab, bu

Alhamdulillah, sok didu’akeun sing jareneng.

Aku menjawab “amin” pelan, dan Bu Haji Euis berhenti bicara. Kabut di daerah Gunung Gelap sedang tebal-tebalnya. Suaminya yang sedang menyetir terlihat fokus pada jalan. Beberapa kali Bu Haji Euis merapalkan doa-doa. Mobil itu melaju pelan. Ketika hening hampir menelan mereka hidup-hidup, tiba-tiba si sopir nyeletuk.

Kade omat eta madrasah mah kedah majeng teras nya. Sok èmut ka ibu waktos ngarintis na.” (awas itu madrasah harus tetap berjalan ya. Suka ingat ke ibu waktu dulu merintisnya)

Aku tidak menjawabnya. Bu Haji Euis sudah tertidur. Aku pun pura-pura tidur.

***

wan, teu sawios nya nyimpang ka Pasantren heula, Ibu aya candakeun.

mangga atuh ibu teu sawios.

Bu Haji Euis pun pergi. Suaminya berteriak pada pedagang kaki lima di pinggir jalan; minta dibuatkan kopi.

wan, badè kopi?

teu kedah pak, teu sawios.

ngadamel dua!” teriaknya pada si pedagang; semena-mena dia mengabaikan jawabanku.

Lima menit kita menunggu kopi tanpa perbincangan apapun. Ketika kopi hitam itu datang, barulah si bapak yang aku masih tidak tahu namanya ini memulai percakapan.

Èmut kapungkur Mamah Iwan sok ngiring pangaosan ibu-ibu ka Pasantren ieu tèh. Pami badè ngaos tèh saurna Mamah Iwan sok ngempelkeun heula rumput laut ènjing-ènjingna tèh kanggè ongkos ka Garut. Ti Garut, ibu-ibu pangaosan sok udunan ngongkosan kanggè uih na.

Aku tidak menjawabnya. Separuh karena dia kembali membuat kesedihanku membuncah, separuh lagi karena dia menceritakan hal itu di atas mobil mewah; seolah menertawakan perjuangan ibuku. Tapi kemudian, dia menambahkan,

Sohor caritana kapungkur mah Mamah Iwan tèh. Sok dijantenkeun conto ku ibu-ibu nu sèjèn. Dugi ka seueur nu ngiring pangaosan tèh da parebut hoyong ngongkosan Mamah Iwan uih ka Pameungpeuk.

Dia sukses membuatku menangis lagi.

“Pami ngèmutan kana perjuanganna mah… Mamah Iwan tèh ageung jasa na… matak geuning meuni aleut nu ngalayad ti mana-mana…

Memori-memori masa kecil membludak dalam kepalaku. Dulu, aku harus mengumpulkan rumput laut di pagi hari sebelum berangkat sekolah, agar aku punya ongkos untuk berangkat sekolah. Seharusnya aku tahu dari mana aku mempelajari kemampuan itu.

Dalam hati, aku mengutuk Bu Haji Euis karena dia lama sekali meninggalkanku dengan suaminya yang hobi menyiksaku ini. Kopi ku tidak enak rasanya, bercampur air mata dan ingus.

Pah, kè nya, Mamah kedah ngantosan Bu ‘Ai heula. Naretepan heula we jig!

***

Iwan pami kersa mah calik di bumi Ibu we. Di pengker bumi Ibu tèh aya masjid, mung teu aya nu nungkulan. Aya kamar kanggo imam masjid. Sok calikan ku Iwan. Pami tiasa mah bari ngawuruk ngaji barudak bada Maghrib. Emam sareng nyeuseuh tiasa di bumi ibu.

Di Rancaekek macet parah. Kepala dan leherku sakit karena tertidur dalam posisi fisik dan mental yang salah. Aku mencoba mencerna apa yang dikatakan Bu Haji Euis dengan lambat. Dia menawariku tempat tinggal; masalah penting yang aku coba kerdilkan untuk memberi banyak ruang kosong bagi ibu. Naluri kesundaanku menyuruhku untuk menolak tawaran itu.

bilih ngarèpotkeun bu…”, jawabku pendek.

ah, moal atuh wan, Ibu mah nya kabantosan we mun aya nu kersa nungkulan mesjid mah.

Bu Haji Euis membuka kaca jendela mobil dan membeli beberapa bungkus tahu sumedang. Tukang tahu itu menyelamatkanku dari kewajiban merespon tawaran yang harus dipertimbangkan matang.

***

Kita baru berhasil melepaskan diri dari kemacetan sekitar tengah malam.

Wan, uih ka kostan tabuh sakieu moal kunaon kitu? Bakal aya nu gugah kènèh moal?

Wios wèh bu, tiasa da mondok di mesjid atanapi di kampus.

Ah ulah, atos we mondok di teun ibu nya. Bari ninggal masjid tèa

Aku terlalu capek untuk menolak.

***

Bu Haji Euis membuka pintu rumahnya.

Tètèh! Ditiung heula aya Iwan.

Seorang gadis berlari ke dalam rumah. Aku tidak sempat melihatnya, tapi suaranya terdengar dari dalam rumah.

Ari Mamah jeung Bapak kamana waè atuh, ku abi diteleponan teu diangkat. Meni hariwang, sugan teh kumaha onam.

Euleuh, pareum meureun hapè naMacèt, tètèh, di Rancaèkèk, ih meuni teu maju-maju. Si Bapa gè meuni geus kesel, jaba bari nahan hayang kahampangan.

Gadis itu kembali ke ruang tamu dengan kerudung geblus putih. Melihatku, dia tersenyum dan mengangguk sopan. Aku sedikit terpesona, karena dia sangat cantik.

Tah ieu Iwan tèh, Tètèh, putrana Bu Popon nu di UIN tèa.”, kata si Ibu memperkenalkan sambil mencopot sepatunya, “Èrna mah di UPI, Bahasa Inggris, Wan. Semester sabaraha ayeuna tètèh tèh?

Nembè semèster tilu.”, kata Erna malu-malu.

Calik heula, Wan.”, kata si Ibu. Aku pun duduk di ruang tamu. Bu Haji Euis pergi ke dalam rumah. Erna berdiri canggung, seolah tidak tahu apakah harus juga pergi ke dalam rumah atau tinggal menemaniku. Aku agak malu karena tampilanku pasti rusak berat sehabis menangis seharian, jadi aku menunduk saja.

Si Bapak masih sibuk memasukkan mobilnya ke garasi; dan pasti langsung menuju toilet tanpa mengunjungi ruang tamu; membiarkan putrinya ini tidak terjaga dari diriku. Erna masih berdiri canggung diantara ruang tamu dan ruang tengah. Aku merasa sepertinya ada yang ingin dikatakannya padaku, tapi tidak kunjung dia katakan.

Tètèh, ari konci masjid di mana?”, teriak ibunya dari dalam rumah.

Digantung caket rak sapatu.”, balas Erna berteriak. Aku masih bisa merasakan pandangan Erna mengarah padaku sementara dia berdiri di sana. Aku terus menunduk saja.

Erna mendekatiku. Hatiku berdebar kencang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, selain menambah parah kecanggunganku. Aku juga tidak tahu apa yang dia inginkan dariku.

Punten, kang.”, katanya.

Dia mengambil sebungkus snack rumput laut di atas meja ruang tamu, yang sepertinya dia tinggalkan karena terburu-buru mencari kerudung. Ternyata itulah yang membuatnya canggung. Snack rumput laut. Dalam hati, aku tertawa malu sambil melihat punggungnya kembali ke ruang tengah. Untuk pertama kalinya sejak ibu pergi, aku tersenyum.

Aya mah, konci tèh?

Aya. Hayu, Wan.

***

Kamar itu agak pengap karena lama tidak dipakai. Tapi aku sudah terlalu lelah dan langsung melesakkan tubuhku di atas kasur kapuk yang agak bau.

Dia cantik sekali, Bu.”, pikirku. Apakah ibu masih bisa mendengarku?

Air mataku menitik lagi. Terbayang Ibu menyuruhku berdoa sebelum tidur dan berhenti berpikir yang tidak-tidak. Aku menurutinya.

Aku besok ujian Nahwiyah, Bu. Seharusnya tidak sulit bagiku.

***

Mimpiku malam itu aneh. Ada gulung menggulung ombak. Lalu ada ibu yang sedang menjemur rumput laut di pelataran madrasah. Lalu ada Erna yang menawariku snack rumput laut.

Memang betul, Bu, orang datang dan pergi, seperti gulung menggulung ombak. Beberapa ombak datang cukup kuat dan meninggalkan bekas; terkadang berupa kehancuran, meninggalkan duka dan kehampaan, terkadang membawa ikan-ikan dan pulangnya para nelayan… dan benar sekali apa yang kau bilang, Bu. Seberapa besar pun ombak datang, rumput-rumput laut itu masih saja menempel pada karang-karang… dan mereka terus berkembang…

Fajrin Yusuf M.
Garut, 30 Desember 2017

Foto Rumput Laut di Pantai Sayang Heulang oleh Aditya Rangga Pratama. Courtesy: Jelajah Garut, 2014.

***




****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.