Male Anglerfish

I bet you’ve known this fish, or at least you’ve ever seen it someway; most probably, you found it in Finding Nemo; because you’re too lazy to search for fun facts about animals, and because most children watch Finding Nemo, and because this fish lives in deep and dark water, so if you’re not an ocean biologist or a part-time fisherman, there’s a very little chance that you’ve ever seen this fish as a living.

Anyway, this strong, fierce, and vicious beast is called Anglerfish. She’s quite attractive. She can lure any unlucky fishes with her bioluminescent light that glows in the dark like a heaven calls; and then crush them. Her jaws and her stomach can devour a prey twice her size.

She’s the true horror of the deep and dark ocean. And yeah, she’s a female.

Continue Reading

Tidak Adil

Setiap saya mendengar orang-orang berkata tentang “ketidak-adilan” atau tentang hidup yang tidak adil atau orang yang diperlakukan tidak adil, saya teringat dengan foto yang diambil oleh fotografer asal Afrika Selatan, Kevin Carter, tahun 1993. Foto seorang anak di Sudan yang menderita kelaparan, sedang berjuang merangkak ke arah Feeding Centre, sementara di belakangnya ada burung bangkai mengintai. Carter tidak bisa menolong anak itu karena dilarang, takutnya bisa menularkan penyakit. Jadi yang bisa dia lakukan cuma motret, lalu mengusir burungnya.

Continue Reading

Cerita-cerita Kartika

Cerita-cerita Kartika
oleh: Fajrin Yusuf M.

Namanya Kartika dan dia sudah melihat dunia… Setidaknya, sudah cukup baginya…

Menjadi tua itu pasti terasa aneh; seperti semakin terasing di rumah yang sudah ditinggali puluhan tahun lamanya. Mungkin perasaan terasing itulah yang lambat laun mengikis ingatan. Yah, sekarang ini Kartika sering sekali melupakan banyak hal.

Sebulan yang lalu ada seorang teman yang datang berkunjung; bertanya kabar. Kartika sudah lupa namanya, walau sekilas wajahnya tidak asing. Sang tamu bertanya tentang “teman-teman kita yang masih ada”. Kartika bahkan sudah lupa kalau dia punya teman-teman.

Satu hal penting yang akan selalu ku ingat adalah keluargaku.”, begitu pikir Kartika riang pagi ini, ketika dia ikut membantu memandikan seorang bayi perempuan yang lucu; anak dari cucunya…

Ya, Kartika sudah setua itu…

Continue Reading

Rasanya Hidup di Daerah Paling Rawan Bencana di Dunia

Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana di Dunia. Kata pak Sutopo, dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia itu peringkat tertinggi dunia untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan letusan gunung berapi. Indonesia juga ada di peringkat tiga untuk ancaman gempa, dan peringkat keenam untuk bahaya banjir. Jadi tentulah Indonesia ada di salah satu peringkat tertinggi negara yang paling rawan terkena bencana. Menjadi orang Indonesia berarti harus siap berkelindan dengan peristiwa bencana.

Tapi Indonesia kan luas? ngga semua daerah di Indonesia rawan bencana dong!

Continue Reading

Privatisasi Taman Wisata Alam, Siapa Untung?

Privatisasi Taman Wisata Alam, Siapa Untung?
Studi Kasus Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan

Talagabodas pun akan jatuh ke tangan swasta. Lalu pribumi, sekali lagi, tersingkir…

Begitu kata seorang teman saya ketika terdengar kabar bahwa Talagabodas pun akan terkena privatisasi kawasan konservasi. Kecemasan teman saya bertambah ketika melihat selembar surat edaran tentang sosialisasi kegiatan pengusahaan wisata alam TWA Talagabodas pada pertengahan Maret kemarin. Mungkin memang wajar, teman saya, seorang pribumi asal Wanaraja, merasa resah atas kedatangan orang asing yang seolah akan menginvasi. Seresah Iwan Fals dalam lagunya “Ujung Aspal Pondok Gede”, hehehe…

Continue Reading

Sajak Sunda

Akhirnya bisa bikin sajak sunda sendiri. Walaupun asli sunda, tapi untuk ngerti bahasa sunda itu sulit sekali, terutama kosakata yang udah lama tidak dipakai secara umum. Jangankan buat sajak sunda, buat ngobrol sehari-hari saja udah terkikis. Jadi, ya alhamdulillah bisa bikin sajak sunda punya sendiri.

Balébat
Simkuring borojol mayunan panon poé,
Ibun tikukurubun, taya hawar-hawar bakal turun halimun,
Langit raresik, leuweung lalindeuk.

Hayam jalu patinggorowok,
Barudak digeuing ku ramana, “ibak jang, geura sakola!”

Sing awas kana tincakan, omat,
Niti wanci nu mustari, ninggal mangsa nu sampurna,
émut-émut éta amanat.

Naha ari simkuring borojol bet mayunan panon poé?

Wanci rumangsang, kuring rumingkang,
Lingsir ngulon, asa moal kantos kawon,
Kembang mayang, teu sugan kabayang,
Dugi ka beureumna papayung Agung, wanci sariak layung,

Nyérélék teu karasa, jug tos sareupna,
Ngoléhék teu kawasa,  tumiba qodo qodarna,

Ieu aya liang dina mastaka,
Naha nu nyeri bet haténa?

Ditukangeun simkuring, panon poé ngahariring,
duh, deudeuh teuing anaking… cik teuteup simkuring,
naha ceuk hidep kuring teu muntang sangkan bisa éling?

Sareupna
Basa panon poé harita,
nyuhunkeun kareugreug Nu Maha Kawasa,

Undur, bade surup saurna.

Sok rasrasan keueung ari wanci sareupna,
Sok émut carita-carita baheula,
Nu matak ngocor cisoca,
Nu matak tara kiat nyakseni hieum na,

Harita,
Basa panglima garombolan diliangan waruga na,
Basa putri Citraresmi teu balik deui ka lemah cai,
Basa simkuring miang tina getih pun biang,
Basa manusa leungit kamanusanna.

“Tos mangsana”, saur pun rama,
siga panon poé nu teu pupuntangan,
jug mulih ka handapeun eurih di palih wetan.

Undur, bade sirna saurna.

Kitu ogé urang sadaya,
Taya pamuntangan iwal ti Nu Maha Kawasa.

—Kang Fajrin (2017)

Sundanese don’t write history, we write poems instead! haha… Nanti saya coba bikin translate sajak sunda ini yah. 🙂



*******

Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Refleksi

Refleksi,
Fajrin Yusuf M. 2017

Dulu, Mahatma Gandhi pernah didatangi oleh seorang Ibu beserta anaknya yang masih kecil. Sang Ibu hendak meminta Gandhi untuk menasehati anaknya yang terlalu sering makan permen. Diperlihatkan oleh sang Ibu rusaknya gigi anaknya akibat dari permen-permen tersebut. Gandhi pun sedikit merenung, melihat deretan gigi sang anak yang sudah rusak.

Continue Reading