Obituari

Obituari

Saya sebenarnya sudah bertekad untuk tidak membuat obituari, tapi malam ini saya teringat momen terakhir saya bersama dua sahabat saya yang telah meninggal dunia, Fajar dan Alifia. Menulis obituari hanya akan membuka kembali duka atas kepergian mereka, tapi kalau tidak dituliskan bakal terus ada rasa mengganjal di hati. Jadi saya akan menuliskannya saja, momen terakhir saya bertatap muka dengan kedua kawan saya ini.

***

Terakhir bertemu Fajar, di kedai kopi yang kini juga telah tiada, saya teringat Fajar sedang menikmati kopi seduhan saya. Waktu itu beliau sedang berjuang melawan penyakitnya. Beliau terperangkap di Garut karena sakit, bersama saya yang juga memerangkapkan diri di Garut karena ketidak-beresan otak. Saya khawatir kopi saya akan berakibat buruk untuk kesehatannya, karena penyakitnya berhubungan dengan ginjalnya. Tapi beliau bilang bahwa dokter tidak melarangnya minum kopi. Jadilah Fajar teman rutin saya minum kopi di kedai saya dulu.

Sore itu ada seorang anak melintas, membawa satu rancatan (pikulan) jagung rebus. Malu-malu dia masuk ke kedai untuk menjajakan jagungnya. Fajar melihatnya sejenak, lalu memanggil anak itu. Singkat cerita, Fajar membeli semua jagung yang dibawa anak itu, lalu membagikannya kepada semua yang ada di kedai.

Sejak hari itu, teman saya, Fajar Ramadhan, tidak muncul di kedai. Hingga bulan Ramadhan tiba dan pergi, saya tidak lagi bertemu Fajar. Di hari Idul Fitri, saya mendapat kabar bahwa teman saya juga telah pergi, bersama bulan Ramadhan dua tahun yang lalu. Saya bahkan tidak sempat menemaninya di Rumah Sakit.

***

Alifia, diapit saya dan imung, waktu wisudaan Fia di kampus UPI. Dicari-cari, saya ga punya foto-foto sama Fia. Emang jarang main bareng sih, sekalinya main jarang popotoan :/
Alifia, diapit saya dan imung, waktu wisudaan Fia di kampus UPI. Dicari-cari, saya ga punya foto-foto sama Fia. Emang jarang main bareng sih, sekalinya main jarang popotoan :/

Sahabat saya yang satu lagi, Alifia, juga terjebak di Garut menjadi bu dosen di STKIP. Walaupun postur tubuhnya masih mirip anak SMP, Fia itu dosen yang dihormati mahasiswa-mahasiswanya. Momen terakhir saya bersama Fia adalah ketika menghadiri sebuah pameran pendidikan luar negeri di Bandung. Kita memang beda dunia, tapi dalam satu hal, mimpi kuliah lagi ke luar negeri, kita sama.

Tiba di Bandung siang, waktu itu telah masuk waktu Dzuhur. Fia bilang ingin cari mesjid atau mushalla buat shalat. Saya bilang kalem saja, kan lagi safar, bisa dijama’. Tidak saya duga, Fia malah ngotot bilang ingin cari mesjid, ingin shalat dulu. Akhirnya kita shalat dulu di Mesjid pinggir Baltos, sebelum pergi ke acaranya tidak jauh dari sana. Sore-nya, setelah makan-makan bareng adik-adik saya, lalu masuk waktu Maghrib, saya tidak lagi mesti diminta, langsung pergi ke Mesjid pinggir Baltos itu lagi.

Sejak saat itu, komunikasi kita paling via whatsapp dan instagram. Tanggal 23 Agustus lalu, Fia mengomentari postingan instagram saya tentang saya yang baru gagal LPDP. Well, dalam hal melanjutkan pendidikan, kita ini pejuang di sisi yang sama. Saya bilang saya bakal cerita lengkapnya, tapi nanti, karena saya ada agenda untuk bertualang dulu ke Pamulihan. 29 Agustus, di jalan sepulang dari Pamulihan, saya dapat kabar kalau Fia telah tiada. Saya bahkan tidak tahu kalau komentar Fia tanggal 23 Agustus itu dia kirimkan dari atas kasur Rumah Sakit.

***

Kehilangan sahabat itu memang meninggalkan duka yang mendalam, dan menulis obituari ini malah membuatnya semakin menjadi. Tapi setelah mengingat dan meresapi momen-momen terakhir saya bersama dua sahabat Fajar dan Fia, saya merasa jauh lebih baik. Rasanya melegakan mengingat kedua sahabat saya ini telah banyak menanam benih-benih kebaikan yang bisa mereka tuai untuk mencapai kebahagiaan Al-Falah.

Fajar pergi di hari Idul Fitri, sementara Fia pergi di 10 hari pertama Dzulhijjah; dua waktu yang punya banyak keutamaan dalam Islam. Sama sekali bukan waktu yang buruk untuk pergi…

Semoga Allah menerima semua amalan baik keduanya, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa keduanya… Amin…

Fajrin Yusuf M.
Garut, 16 September 2017

PS. Saya, Rizqan, Imung, dan Imam, kumpul di coffee shop di malam setelah menjenguk Fia di rumah terakhirnya. Kita mengobrol kesana kemari, tapi jelas sekali ada rasa gentar di hati-hati kita, bilakah giliran kita? Bilakah satu dari kawan-kawan ini juga ikut pergi? Siapkah kita?

balik heula ah, rek menta hampura ka kolot.”, ujar Imam, mengakhiri percakapan.

Mari menanam dan merawat tanaman kita, kawan. 🙂



Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.