Nama-nama Kebahagiaan

Nama-nama Kebahagiaan

Kata para filsuf yunani dulu, semua tindak-tanduk manusia itu tujuannya bisa dikerucutkan jadi satu kata, yaitu Eudaimonia, atau yang biasa kita artikan sebagai kebahagiaan. Sokrates dan muridnya (Plato) dan murid dari muridnya (Aristoteles) berpendapat demikian. Saya juga kalau sedang galau berkontemplasi seringnya meng-iya-kan pendapat tersebut. Intuitif sih.

Walaupun demikian, kebahagiaan itu terbukti ada macam-macam, sesuai dengan macam-macamnya interpretasi dan value orang. Mungkin karena itulah, walaupun tujuannya sama (menuju kebahagiaan), tapi arah tiap orang beda-beda. Contoh simpelnya, ada yang mencari kebahagiaan dengan travelling, ada juga yang mencari kebahagiaan dengan diam di rumah bersama keluarga. Contoh ekstrimnya, ada yang mencari kebahagiaan lewat obat-obat terlarang, dan ada juga yang mencari kebahagiaan lewat shalat tahajjud rutin. Jadi memang intuitif juga mengapa kebahagiaan orang beda-beda.

Jika kalian beragama; percaya akan adanya surga dan neraka; maka idealnya kalian juga percaya bahwa kebahagiaan surga lah yang jadi tujuan utama. Tapi bahkan walaupun tujuan kita sama (surga), arah kita masih saja beda-beda. Ada yang percaya bahwa satu-satunya jalan mencapainya adalah dengan berpegang teguh pada agama, ada yang percaya bahwa kalau surga bisa diraih dengan cara banyak berbuat baik dan tidak menyakiti orang lain tak peduli agamanya apa, ada juga yang percaya panduan-panduan lain menuju surga. Dalam hal ini, kita mesti menghargai kepercayaan masing-masing.

Sebagai seorang muslim, saya bisa bilang bahwa tujuan kita, orang muslim, juga untuk mencari kebahagiaan, dan jalannya juga beda-beda. Tapi setiap hari, lima kali sehari, orang muslim dipanggil menuju kebahagiaan lewat adzan. (sepuluh kali sih, karena sekali adzan dua kali panggilan, belum diitung adzan awal, kalau sempet denger, wkwk…) Hayya ‘ala al-Falah… Al-Falah adalah kata ganti “kebahagiaan” untuk orang muslim.

Dari segi bahasa, kebahagiaan itu bisa diartikan jadi kesenangan, kemenangan, kesuksesan, keselamatan, dan banyak lagi macamnya. Di Bahasa Sunda juga banyak, ada bagja, waluya, raharja, dan lain sebagainya. Dalam Bahasa Arab juga sama, kebahagiaan itu bisa diganti jadi Sa’adah, Fawwaz, Najah, dan banyak macemnya. Lalu Al-Falah ini kebahagiaan yang macam apa? Kenapa bahkan saya malah seringkali malas-malasan waktu diajak menuju kebahagiaan macam Al-Falah ini?

Nah, dengar dari khutbah jum’at, sang khotib menjelaskan bahwa dalam Bahasa Arab, kata “Al-Falah” itu sering diterapkan kepada para petani; sebagai kebahagiaannya para petani waktu panen. Kebahagiaan yang diperoleh setelah melalui proses perjuangan yang panjang.

Mungkin memang inilah alasan saya seringkali malas-malasan waktu diajak menuju Al-Falah: karena Al-Falah itu bukan ajakan eksplisit untuk panen menuai hasil; tapi ajakan untuk menanam dan merawat tanaman. Dan setelah melihat bagaimana petani-petani di Garut berjuang, saya tahu kalau menanam dan merawat tanaman itu memang capek dan sulit; kecuali buat mereka yang yakin bahwa tanaman itu bakal jadi kebahagiaan mereka akhirnya, juga buat mereka yang sungguh-sungguh dan khusyuk merawat tanamannya biar tetep kuat ketika diterjang badai, dihinggapi hama, diterpa kekeringan, dan ujian-ujian lainnya.

Tanaman saya pasti merupakan tanaman yang lemah dan layu jika saya masih malas-malasan! 🙁

***

Satu hal lain mengapa khutbah jum’at tadi mind-blowing adalah karena memang kalau baca Qur’an, kita bakal banyak menemukan bahwa Allah SWT seringkali membuat perumpamaan dengan menggunakan analogi tanaman; bahwa kalau infaq dengan benar itu ibarat kebun yang berbuah lebat dan kalau infaq dengan riya itu seperti tanaman yang habis dilalap api (Al-Baqarah: 265-267), bahwa gemerlap duniawi ini seperti tanaman-tanaman yang mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kemudian menjadi hancur (Al-Hadiid:20) atau seperti tanaman yang habis disabit seakan-akan tidak pernah tumbuh disana (Yunus: 24),  dan banyak lagi (Ali-Imran: 117, Al-Fath: 29, Ar-Ra’d: 4, Al-A’raaf: 58, Al-Anbiyaa:15, dst.).

Udah pernah melihat sakit hatinya petani waktu panennya gagal? Atau waktu panennya berhasil tapi hasilnya ga dihargai sama sekali? Well, itu terjadi di Garut, bahkan tidak jarang. Karena itulah lahan pertanian banyak yang dikonversi, dijual oleh para petani, karena pertanian itu susah, capek, dan ga dihargai sama sekali di Indonesia. (curhat oot dikit)

View post on imgur.com

Al-Falah itu adalah kebahagiaan waktu panen kita berhasil dan dihargai tinggi oleh Allah SWT. Itu adalah jenis kebahagiaan yang ditempuh dengan keyakinan, optimisme, keteguhan, kesungguh-sungguhan, juga bertahan setelah ditempa berbagai ujian.

Nah, jika kalian muslim, pastikan kalian menanam hal yang tepat dan memeliharanya juga dengan tepat. Mungkin 10 ayat pertama Surat Al-Mu’minun bisa jadi petunjuk yang bagus.

Di awal surat, Allah SWT memulai dengan kata Qad Aflaha Al-Mu’minuun. “Aflaha” itu masih satu kata dasar dengan Al-Falah; yang memiliki makna “paling”, seperti Akbara yang artinya “Paling Besar” atau “Maha Besar”, Aflaha itu berarti “paling bahagia”, atau mungkin bisa jadi juga berarti “yang panennya paling berhasil”. cmiiw.

Jadi orang mu’min itu yang panennya paling berhasil, karena melakukan hal-hal di ayat berikutnya; yaitu menanam tanaman shalat yang khusyuk, menjauhkan diri dari perbuatan tidak berguna, menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, memelihara amanat-amanat dan janji yang dipikulnya, dan memelihara shalatnya. Merekalah yang bakal panen, yaitu Firdaus, yang disebut di ayat ke-11. Wonderful, isn’t it?

Yah, saya sendiri masih males-malesan, shalat sulit khusyuk, masih banyak melakukan hal yang tidak berguna, masih jomblo, masih punya banyak amanah yang mesti dipertanggung-jawabkan. Semoga dengan bikin artikel ini jadi rada malu. Wkwk…

Semoga bermanfaat.

Wallahu’alam.

Fajrin Yusuf M.
15 September 2017

Ya Allah ingin nikah, tapi ngerasa diri belum pantes. wkwkwk…



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.