How many things are we missing as we rush through life?

How many things are we missing as we rush through life?

Hari itu, Jum’at, 12 Januari 2007, pagi pukul 07.51, di Metro Station, Washington D.C., tempat berlalu lalangnya para eksekutif menuju tempat kerjanya, seorang pria muda bermain biola di samping tempat sampah, dengan tas biola terbuka di depannya.

Dengan celana jins, kaos lengan panjang, dan topi baseball-nya dia mulai memainkan biolanya. Well, tidak ada yang aneh, kita di Indonesia menamai mereka pengamen.

45 menit kemudian, enam lagu telah dia selesaikan. Selama waktu itu, 7 orang berhenti dan mendengarkan selama beberapa saat kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantornya, 27 orang memberi uang, beberapa bahkan tidak berhenti untuk mendengarkan, dan total ada 1070 orang sibuk yang melewati sang pria.

Setelah selesai, tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang bertepuk tangan…

Tidak ada yang tahu bahwa si pemain biola adalah Joshua Bell, salah satu violinis paling hebat di dunia saat ini. Dia memainkan enam karya masterpiece paling brilian yang pernah dibuat manusia*, memakai biola Stradivarius seharga 3.5 juta US dollar yang dibuat langsung oleh tangannya Antonio Stradivari di tahun 1713.

Ketika diwawancara setelah selesai, Joshua Bell tertawa,

“It was a strange feeling, that people were actually, ah . . .”
(The word doesn’t come easily.)
“. . . ignoring me.”

Bell is laughing. It’s at himself.

***

Cerita di atas adalah kisah nyata. Diabadikan dalam sebuah tulisan berjudul “Pearls Before Breakfast” yang dimuat sebagai cover story-nya Washington Post bulan April 2007. Beberapa saat setelah dimuat, cerita ini menjadi bahan diskusi internasional di bidang seni, khususnya musik. Mungkin saking menggelitiknya kisah ini, Gene Weingarten (yang mengabadikan cerita ini), diganjar Pulitzer Prize for Feature Winning.

Leonard Slatkin, Direktur Musik dari National Symphony Orchestra, sebelum eksperimen Bell ini dilakukan, ditanya pendapatnya mengenai prediksinya, apa yang akan terjadi jika seorang musisi terkenal bermain sebagai pengamen jalanan dan memainkan musik klasik yang luar biasa.

Jawabannya adalah, “yah, kalaupun si musisi ga dikenal, jika dia bisa main dengan bagus, dari 1000 orang mungkin ada 35 sampai 40 orang yang bakal sadar segimana kualitas dia. Yah, mungkin 75 sampai 100 bakal berhenti dan mendengarkan…

ketika ditanya lagi, “jadi bakal terbentuk kerumunan orang yang mendengarkan?“, Slatkin bilang, “Oh ya, dia mungkin bisa mengumpulkan hingga $150.” lanjutnya, “memangnya musisinya siapa?

Ketika sang pewawancara menjawab Joshua Bell, Slatkin setengah kaget tak percaya bilang “NO!!!
seolah dia harus merevisi jawabannya tadi dan menaikkan angka-angka yang sudah dia sebut.

Nyatanya, tidak pernah ada kerumunan. Dan Joshua Bell hanya mengumpulkan recehan sebanyak $32.17.

***

Dari beberapa perdebatan, setidaknya di internet, muncul beberapa pertanyaan :

*In a common-place environment, at an inappropriate hour, do we perceive beauty?
*If so, do we stop to appreciate it?
*Do we recognize talent in an unexpected context?

Dan satu pertanyaan retorik paling menohok dari perdebatan ini adalah :

If we do not have a moment to stop and listen to one of the best musicians in the world, playing some of the finest music ever written, with one of the most beautiful instruments ever made . . . How many other things are we missing as we rush through life?

***

Tulisan ini tadinya akan saya bikin dua part. Dan paragraf ini adalah paragraf pertama dari part 2. Tapi mari tak usah buat tulisan yang panjang-panjang…

Disini saya hanya ingin menumpahkan buah pikiran saya saja tentang pertanyaan diatas.

Ya, kita mungkin melewatkan hal-hal terbaik. Kakak ipar saya A Agung, mungkin melewatkan banyak wanita luar biasa sebelum tertambat di kakak saya. Saya juga mungkin telah melewatkan banyak tawaran pekerjaan yang luar biasa sejak saya di wisuda hingga sekarang. Saya juga melewatkan konser Metallica padahal ada dua orang yang menawarkan tiket gratis untuk saya…

Yah, that’s life… untuk menuju satu tempat, anda harus melewati atau melewatkan banyak hal… untuk menjadi dokter, anda harus melewatkan kesempatan untuk menjadi insinyur di Ujian SNMPTN. Untuk mendapatkan uang, anda harus rajin bekerja dan datang tepat waktu, dan untuk datang tepat waktu anda tidak boleh berhenti mendengar Joshua Bell bermain biola di stasiun… Begitulah…

Well, memang bukan itu pelajaran dari cerita di atas. Pelajarannya adalah mari jalani hidup dengan lebih tenang, agar kita bisa lebih peka terhadap sekeliling kita, agar kita tidak melewatkan hal-hal terbaik, hal-hal luar biasa di sekeliling kita.

Tapi apa itu hal terbaik?

Bagi orang muslim, selama dia beriman, maka semua yang menimpanya adalah hal terbaik untuknya, bukan?

Ah, entahlah… kadang memang sesal mengalahkan syukur…

dan khawatir akan kehilangan menyelimuti keyakinan akan kemenangan…

***

Stacy Furukawa, seorang ahli demografi, muncul menjelang akhir permainan biola Joshua Bell di Metro Station. Dia mengenali Joshua Bell. Furukawa menonton konser Bell di Library of Congress tiga minggu sebelumnya. Furukawa tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi disanalah dia, sang virtuoso internasional tengah menjadi pengamen jalanan, dan hampir saja dia melewatinya begitu saja.

Furukawa menonton Bell hingga selesai sembari meringis,

“It was the most astonishing thing I’ve ever seen in Washington, Joshua Bell was standing there playing at rush hour, and people were not stopping, and not even looking, and some were flipping quarters at him! Quarters! I wouldn’t do that to anybody. I was thinking, Omigosh, what kind of a city do I live in that this could happen?”

Fajrin Yusuf M
Garut, 28 November 2013

P.S. Yang suka baca harus baca cerita lengkapnya. Tulisannya bagus banget, ada wawancara dengan Bell sebelum dan sesudah kejadian di Metro Station, ada wawancara dengan para commuters, juga potongan-potongan twistnya. A great writings…
Cerita lengkap baca di :
http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2007/04/04/AR2007040401721.html
http://www.joshuabell.com/news/pulitzer-prize-winning-washington-post-feature

*ini list lagu yang dimainkan Joshua Bell di Metro Station (videonya juga ada, cari aja) :
– “Chaconne” dari Johann Sebastian Bach’s Partita No. 2 in D Minor. Bell menyebut lagu ini, “not just one of the greatest pieces of music ever written, but one of the greatest achievements of any man in history. It’s a spiritually powerful piece, emotionally powerful, structurally perfect. Plus, it was written for a solo violin, so I won’t be cheating with some half-assed version.”

-“Ave Maria,” dari Franz Schubert, yang mengagetkan banyak kritikus musik di debutnya tahun 1825. Schubert yang jarang menampilkan sisi religius dalam komposisinya tiba-tiba membuat komposisi lagu yang menjadi “the most familiar and enduring religious pieces (musical prayer) in history.”

-“Estrellita,” dari Manuel Ponce

– Jules Massenet

– “Gavotte” Johann Sebastian Bach a joyful, frolicsome, lyrical dance. It’s got an Old World delicacy to it; you can imagine it entertaining bewigged dancers at a Versailles ball, or — in a lute, fiddle and fife version — the boot-kicking peasants of a Pieter Bruegel painting.

– Lalu 2nd “Chaconne”, yang ditulis “Bell didn’t say it, but Bach’s “Chaconne” is also considered one of the most difficult violin pieces to master. Many try; few succeed. It’s exhaustingly long — 14 minutes — and consists entirely of a single, succinct musical progression repeated in dozens of variations to create a dauntingly complex architecture of sound. Composed around 1720, on the eve of the European Enlightenment, it is said to be a celebration of the breadth of human possibility.”

*******


Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment