Maharaja Marcapada

Maharaja Marcapada

Maharaja Marcapada
cerpen oleh Fajrin Yusuf M

“Kamu bisa lihat matanya?” tanya Mike dalam bisikan yang sangat pelan.

“Tidak, tidak, aku tidak berani,” jawab Ralf tercekat, tubuhnya bergidik, matanya hampir tidak mau dibukanya.

“Kita sudah sampai sini, Ralf, kuatkan dirimu,” desis Mike sambil mengintip ke balik dinding tempat mereka berdua bersembunyi. Dua hari ini mereka telah melarikan diri dari ibu mereka, menuju Kebebasan. Tinggal satu ruangan lagi yang harus mereka lalui, Ruangan Abu-abu.

Mike sudah mendengar banyak tentang ruangan ini dari teman-temannya; teman-temannya yang pengecut. Hari ini dia melihat ruangan itu dengan mata kepalanya sendiri dan akhirnya tahu betul mengapa ruangan itu disebut Ruangan Abu-abu. Lantai marmer dan tembok batu yang dingin, juga perabot-perabotannya, semuanya memantulkan cahaya abu-abu yang entah dari mana asalnya. Semua jendela di ruangan ini tertutup dan langit-langitnya sehitam langit malam.

Ruangan ini cukup luas memanjang. Di ujung yang satu ada Pintu Putih, tempat Ralf dan Mike bersembunyi, sementara di ujung yang lain ada Pintu Hitam; pintu menuju Kebebasan. Di tengahnya ada tangga spiral yang meninggi, mengerucut ke suatu titik perspektif di suatu bidang di atap yang hitam tidak berbatas, seolah atap itu menampakkan dalamnya jurang yang diputar-balikkan ke atas. Konon, di puncak tangga spiral itulah Maharaja Marcapada bersemayam. Matanya selalu mengintai mengawasi. Lebih menakutkan lagi, matanya membakar. Sekali matanya menangkapmu, kau tidak mungkin selamat. Begitulah kata orang.

“Kita hanya punya satu kesempatan, Ralf,” bisik Mike tidak sabar. “Kita akan berjalan pelan, tanpa suara. Aku didepanmu. Kau ikuti aku. Jika ada sesuatu yang turun dari tangga spiral terkutuk itu, kita lari sekencang mungkin ke pintu terdekat. Oke?”

Ralf menarik nafas dalam-dalam, membulatkan tekad, lalu mengangguk. Semua bulu roma di tubuhnya berdiri ketakutan. Mike balas mengangguk lalu mulai melangkah. Ralf mengikutinya.

Ralf merasakan sensasi aneh di langkah pertamanya memasuki ruangan itu. Lantai marmer itu ternyata tidak dingin. Telapak kakinya yang telanjang terasa menjejak sesuatu yang hangat dan halus. Di langkah kedua, dia mulai menyadari adanya lukisan-lukisan di dinding. Lukisan seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun pesta menawan  berwarna hijau sedang tersenyum kepadanya. Kecantikan senyumnya menggetarkan hati Ralf seolah senyum itu hanya diciptakan untuknya. Tanpa dia sadari, tangannya menggapai lukisan itu dengan penuh kecintaan. Saat itu, tidak ada yang lebih penting bagi Ralf selain wanita bergaun hijau dan senyumnya yang mampu meruntuhkan dunia.

Wanita itu menarik dagunya dengan anggun ketika tangan Ralf menyentuh pipinya. Senyumnya semakin menggoda. Dia berjalan dengan anggun di sepanjang dinding, seraya mendelikkan kepalanya menyuruh Ralf untuk mengikutinya.

Ralf melangkahkan kaki untuk mengikutinya, tapi di langkah pertama dia merasakan hentakan ingatan dari ibunya yang pernah berkata, “wanita terburuk yang bisa kau temukan adalah wanita yang bergerak dalam lukisannya. Kau menyimpan lukisan itu dalam kepalamu dan dia menari-nari setiap malam.”

Hentakan ingatan itu membuat dada Ralf berdebar kencang. Dia menutup matanya, merasakan aliran keringat dingin mulai membasahi dahinya, lalu membukanya kembali. Ruangan itu kembali berwarna abu-abu, tidak ada lukisan, tidak ada apapun, selain lantai marmer, beberapa perabot, dan tangga spiral meninggi ke atap hitam tak berbatas.

Entah apa yang dipikirkan Ralf, tapi gerakan pertamanya, seolah spontan, adalah melihat ke atas, ke puncak tangga spiral. Lalu di sanalah Ralf melihatnya, sesosok berjubah hitam dengan sepasang mata paling menakutkan yang pernah dilihat Ralf menyala dari balik tudungnya yang hitam pekat. Ralf jatuh berlutut; kakinya tak lagi mampu menahan rasa takut.

Anehnya, Ralf mendengar suara nyanyian nyaring. Dia mencari sumber suara itu dan melihat Mike-lah yang sedang bernyanyi. Tidak hanya itu, dia juga menari-nari. Kakinya begitu lincah, tapi matanya tidak fokus; seolah sesuatu sedang merasukinya. Ralf ingin memanggilnya dan membawanya kembali dari entah apa yang merasukinya, tapi suaranya tidak keluar. Ralf terlalu takut pada sosok bertudung yang kini bertengger di tangga spiral itu, seolah siap untuk menghabisinya.

Mike masih menyanyi dan menari. Kakinya yang lincah membawanya ke ujung ruangan yang lain. Ketika sampai di Pintu Hitam, alam bawah sadarnya membuyarkan nyanyian dan tariannya. Dia kembali sadar. Ternyata Pintu Hitam itu bukan betul-betul pintu, melainkan hanya tabir tipis menuju sesuatu yang tidak diketahuinya; sesuatu yang orang-orang menyebutnya dengan nama Kebebasan. Mike sadar, dia telah sampai. Hanya satu langkah lagi, lalu perjuangannya selesai.

Mike berbalik ke belakang dan melihat Ralf terbaring jauh di ujung ruangan yang lain. Dia bahkan belum mencapai tangga spiral itu. Saat itulah Mike melihat apa yang sedang bertengger di tangga spiral. Dua mata membara itu menatapnya lekat. Ketakutan menyergapnya, tapi dia sadar, satu langkah saja dan mata itu tidak akan bisa mengikutinya. Mike tahu Ralf tidak akan selamat. Jadi saat itu juga Mike meminta maaf pada sahabatnya dan melesat ke balik tabir hitam.

***

Perlu waktu lama bagi Mike untuk menyadari apa yang ada di sekelilingnya. Dua orang pria sedang mamapahnya menjauh dari rumah terkutuk itu. Dia berjalan lemah di sebuah taman. Ketika matanya mulai fokus, dia bisa melihat orang-orang lain di ujung taman dengan wajah-wajah yang memerah, seolah menahan tawa.

Lalu meledaklah gelak tawa orang-orang itu. Beberapa meniup terompet. Setiap orang mencoba mendekati Mike untuk menepuk bahunya, seolah dia baru saja menjuarai sebuah laga.

“Selamat datang di Kebebasan, boy!” ujar seorang pria gendut terkekeh dengan sebotol vodka di tangannya. Seorang wanita muda cepat mendekatinya dan memberinya kecupan di pipi, menyelamatinya dan menyebutnya pria berani yang sungguh cerdas. Mike tersenyum. Dia adalah idola orang-orang bebas di hari itu, dan Mike sungguh menikmatinya. Dia bahkan lupa bahwa beberapa menit yang lalu dia baru saja meninggalkan temannya dalam keabu-abuan.

Di hari pertama, setiap orang menyelamati Mike dan menawari Mike apapun yang diinginkannya. Mike betul-betul senang luar biasa. Perjuangannya tidak sia-sia, tentu saja.

Di hari kedua, setiap orang bercerita pengalamannya melarikan diri dari rumah terkutuk itu. Mike akhirnya tahu bahwa mata yang membara itu hanya perwujudan dari ketakutan yang ada di kepala manusia. Jika Mike melihat ke arah rumah itu, Mike hanya melihat sebuah rumah biasa. Di puncak rumah itu memang ada patung arca dari makhluk yang menakutkan itu, patung arca Maharaja Marcapada yang agung. Tapi dia hanya patung. Patung itu malah dipahat sedang berlutut seolah sudah takluk pada orang-orang bebas yang ada di luar rumah.

Di hari ketiga, Mike mempelajari bahwa Kebebasan itu ternyata adalah sebuah pulau yang dikelilingi lautan tak berbatas. Belum pernah ada yang mengarungi laut itu dan kembali untuk menceritakan apa yang sebenarnya ada di balik horizon; selain air. Lagipula tidak perlu juga mengarungi laut itu karena pulau Kebebasan sendiri punya daya tariknya sendiri, yang dipelajari Mike di hari keempat.

Di hari keempat, Mike mempelajari bahwa pulau Kebebasan selalu menumbuhkan tanaman yang baru setiap harinya, hari ini tumbuh tanaman yang bisa menari, esoknya tanaman yang buahnya bisa memuaskan birahi, esoknya ada tanaman yang lain lagi. Mike tidak akan pernah bosan hidup di sini.

Esoknya, Mike melihat ke arah tabir hitam menuju ke Ruang Abu-abu itu. Dia berharap, suatu hari Ralf akan muncul dan jadi idola di hari itu, seperti di hari kedatangannya. Mike bertekad untuk terus menunggu Ralf setiap malam dan berharap Ralf akan muncul. Di malam hari keenam, Mike mendengar sayup suara Ralf memanggil dari dalam rumah. Mike bergidik dan menganggap itu hanya sihir terkutuk dari rumah itu. Mike akhirnya bertekad untuk tidak berada dekat-dekat rumah terkutuk itu dan menunggu Ralf dari jauh.

Tapi Ralf tidak pernah muncul.

***

Karena di hari ketujuh, sesuatu terjadi pada Kebebasan. Mike bangun pagi itu dan mendapati semua orang tiba-tiba hilang. Mike mencari ke seluruh penjuru pulau tapi tidak menemukan siapapun. Seharian Mike berkeliling pulau untuk menemukan seseorang, tapi tidak ada siapapun. Hari sudah senja ketika Mike kehabisan tenaga dan suaranya, setelah seharian mencari jawaban atas hilangnya orang-orang bebas.

Tidak mungkin semuanya kembali ke dalam rumah terkutuk itu, pikir Mike. Tapi akhirnya dia melangkahkan kaki juga ke arah rumah itu karena penasaran.

Saat itulah Mike melihat patung arca di puncak rumah itu telah berdiri dari posisi berlututnya. Dia hidup, benar-benar hidup. Dia melebarkan tangannya seolah sedang meregangkan otot-ototnya yang kaku. Lalu dari punggungnya mengembang sayap hitam yang seolah telah beribu-ribu tahun tertutup. Mike melihat adegan yang mustahil itu dengan mata nanar. Makhluk itu mengembangkan tubuhnya, berlatar langit senja yang penuh keagungan.

Lalu tiba-tiba matanya menyala. Ketakutan Mike memberi tahunya bahwa itulah mata yang bisa membakar. Mike segera menutup matanya dengan sepenuh kekuatan dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Tapi terlambat, mata itu telah menangkapnya.

“Waktumu sudah habis, Mike,” suara itu tidak berasal dari arah rumah, suara itu melengking terdengar langsung di kepala Mike; membuat semua bulu roma di tubuh Mike berdiri.

“Tidak, tolong…,” Mike dirasuki ketakutan yang terasa mencengkeram jiwanya.

“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tinggal di dalam rumah? Aku sudah menyediakan semua yang kau butuhkan di sana.”

“Tidak, kumohon… Aku tidak tahu siapa dirimu… maafkan aku,” ratap Mike.

“Ah, jangan kau berdusta, Mike, ibumu sudah memberi-tahumu tentangku. Setiap malam, kalau aku tidak salah dengar. Ibumu sudah menyampaikan semua pesanku untukmu.”

“Tolong, aku tidak tahu apapun…”

“Sudahlah, Mike,” ujar suara itu dingin. Mike merasakan makhluk itu mendarat di dekatnya. Angin dari sayapnya menerpa wajah Mike, merasukinya dengan berkali-kali lipat tambahan ketakutan.

Mike bisa merasakan tangan Sang Maharaja Marcapada, sedingin es, menyentuh lehernya.

“Selamat datang di Hari Pembalasan. Bukalah matamu, nak.”

Maharaja Marcapada
cerpen oleh, Fajrin Yusuf M
***




****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.