Manusia Seharusnya Ber investasi pada Manusia

Sejauh pengalaman empiris, saya melihat banyak institusi yang cenderung menomor-duakan, jika tidak menyepelekan, investasi pada manusia atau investasi meningkatkan kualitas SDM. Saya melihatnya dari banyak sekali institusi, dari mulai dunia usaha, sampai pemerintahan. Anggaran untuk menambah kualitas sumber daya manusia hampir selalu jauh lebih rendah di bawah anggaran untuk pengembangan, kualitas dan kuantitas, infrastruktur. Cmiiw.

Mungkin saya salah dalam hal itu, tapi di dunia usaha kecil menengah, saya bisa menjamin bahwa mayoritas umkm tidak punya anggaran untuk pengembangan sumber daya manusianya. Jangankan untuk pengembangan manusia, untuk pengembangan usaha pun mereka harus berpikir beberapa kali karena jika salah mengalokasikan uang, cashflow mereka bisa tersendat, dan bisa menyebabkan kematian usaha mereka. Kebanyakan umkm juga tidak punya tangga karir dan standar kualitas manusia yang dibutuhkan. Karena itulah umkm itu banyak yang stagnan dan tidak bisa melakukan lompatan.

Di dunia pemerintahan, proyek untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia juga sering dinomor-duakan, dan malah sering menjadi lahan korupsi kecil-kecilan yang mudah dan aman dilakukan. Kalaupun ada, dalam pelaksanaannya, workshop-workshop yang dilakukan seringkali tidak memiliki gairah dan terkesan hanya untuk memenuhi kewajiban melaksanakan program kerja dan menyerap anggaran; sehingga para peserta bukannya ingin menambah kapasitas diri, malah hanya menunggu sertifikat dan uang transport. Yah, mungkin saya hanya su-udzan, tapi begitulah perasaan saya selama mengikuti berbagai program-program pemerintah.

Alasan dianak-tirikannya ini mungkin karena peningkatan sumber daya manusia sulit diukur tingkat urgensi dan dampaknya. Malah, besar kemungkinan dampaknya tidak terlihat langsung, sehingga berinvestasi di sumber daya manusia sekilas dapat terlihat seperti buang-buang uang saja. Terlebih, seperti investasi-investasi lainnya, ada pula investasi di sumber daya manusia yang tergolong investasi yang buruk, terutama jika analisis kebutuhannya kurang dalam.

Maksud saya adalah, investasi pada manusia itu memang sekilas seperti tidak berdampak sehingga wajar jika dinomor-duakan. Padahal, menurut saya, investasi pada manusia itu lebih penting dan harus didahulukan daripada investasi pada barang atau mesin produksi.

Seorang bapak pernah mengkritik opini saya ini, kata beliau “da jelema mah motèkar, nu penting disadiakeun eupanna.” Maknanya kira-kira begini, bahwa orang itu bisa belajar sendiri yang penting disediakan fasilitasnya (jadi ga perlu bikin program peningkatan SDM). Ada benarnya juga memang, hanya saja, yang paling penting adalah membuat jelema jadi motèkar; membuat orang jadi bisa belajar sendiri; itu juga butuh investasi yang serius.

It is easy to set fire underneath people, but to set the fire within the heart of people, [that] is truly powerful,” kata orang.

Menurut saya, masalah-masalah sosial yang ada saat ini banyak yang membudaya akibat kualitas sumber daya manusia yang stagnan. Katakanlah, masalah budaya buang sampah, budaya berkendara, budaya berdiskusi, budaya literasi, budaya berkomentar di media sosial, budaya dalam memperlakukan sungai dan hutan; menurut saya, itu adalah akibat dari minimnya investasi (uang, waktu, tenaga, program) untuk mengajarkan pada individu-individu di masyarakat tentang urgensi dari hal-hal tersebut.

Sebanyak apapun investasi di mobil pengangkut sampah, itu tidak akan memberi dampak signifikan jika masyarakat masih malas buang sampah ke tempatnya, tidak mau memilah sampah, tidak mau mendaur-ulang, dan menganggap bahwa “saya udah bayar pajak, jadi sampah saya urusan pemerintah”, seperti “saya udah bayar tiket bioskop, sampah saya urusan petugas bioskop”. Orang-orang seperti itu lahir dari orang-orang yang membuang sampah batagor ke kolong bangku ketika sekolah karena berpikir bakal ada orang yang bersihin itu pada akhirnya. Kita tidak cukup keras mendidik dan menanamkan nilai kebersihan dan penanganan sampah itu pada masyarakat, khususnya generasi muda.

Pendidikan kita terlalu fokus pada penyampaian informasi dan pencapaian standar kompetensi, tapi lupa pada penanaman nilai dan pembentukan karakter diri.

Kita harus ingat bahwa tugas kita bukan hanya untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi berikutnya, tapi juga mempersiapkan generasi yang lebih baik untuk dunia selanjutnya.

***

Di akhir hayatnya, diriwayatkan Nabi SAW tidak dapat mengikuti shalat shubuh berjamaah karena sakit. Beliau hanya dapat menyibak tirai kamar beliau yang menempel ke mesjid dan melihat Abu Bakar RA sedang memimpin shalat. Beliau lalu tersenyum; seolah telah yakin, bahwa tugasnya telah selesai. Hari itu juga beliau wafat.

Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan bangunan yang megah, atau lahan pertanian yang luas, atau bisnis yang mengglobal, atau organisasi kemanusiaan yang punya cabang di seluruh dunia. Beliau juga tidak meninggalkan sistem ekonomi yang terperinci atau sistem pemerintahan absolut yang harus diikuti semua umat islam. Beliau hanya meninggalkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta orang-orang terbaik yang akan mewarisinya.

Nabi Muhammad SAW menginvestasikan seluruh waktu dan tenaganya untuk mempersiapkan orang-orang yang akan menjaga kemurnian Al-Qur’an dan Sunnahnya setelah beliau wafat. Mungkin itulah yang membuat beliau tersenyum; para sahabat dengan keteguhan imannya meyakinkan beliau bahwa mereka memang orang-orang terbaik yang telah siap; sehingga hati beliau merasa tenteram akan keberlanjutan islam, yang cahayanya masih bertahan dan memberi petunjuk hingga saat ini.

Sayangnya, saat ini kita terlalu banyak berinvestasi membuat mesjid-mesjid megah yang luas, namun sepi peminat bahkan di waktu shalat-shalat fardu. Kita mencetak Al-Qur’an dan buku tafsir dengan cetakan yang mahal, sehingga terlihat cantik menghiasi lemari ruang tamu. Orang-orang yang memahami Al-Qur’an seolah menjadi orang-orang marjinal yang terlalu tradisional. Guru-guru ngaji dan guru pesantren masih menjadi profesi ikhlas lillahi ta’ala.

Yah, memang tidak semuanya seperti itu. Cuma poinnya adalah kita tidak cukup banyak menginvestasikan sumber daya kita pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jika anda adalah seorang aghniya, tidak usahlah membuat mesjid lagi jika mesjid yang ada masih jarang penghuninya. Pakailah sumber daya anda untuk membuat mesjid yang ada semakin hangat menyambut manusia. Jika anda seorang pekerja, janganlah terlalu banyak menginvestasikan uang dan waktu anda untuk hiburan yang tidak ada akhirnya. Pakailah sumber daya itu untuk memberdayakan komunitas anda atau keluarga anda.

Dan jika kalian tidak bisa meningkatkan sumber daya manusia di sekitar kalian, tingkatkanlah kapabilitas diri anda sendiri. Terutama untuk anak muda, jangan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tak jelas faedahnya. Juga tak usahlah pacaran sebelum waktunya (belajarlah dari saya, wkwkwk). Gunakan waktu sebaik mungkin untuk meningkatkan kemampuan diri kalian. Belajar yang giat, ikuti pelatihan atau seminar yang kalian minati jika perlu, baca buku dan beli buku kalau perlu, berinvestasilah pada diri kalian sendiri; jangan pada hiburan yang tiada habisnya atau lawan jenis yang belum tentu takdirnya.

Memang sulit sekali pada awalnya. Saya sendiri mengalaminya. Membatasi main game sampai betul-betul uninstall, ga nyambung ngobrol sama orang lain yang udah nonton Game of Thrones atau film Avenger terbaru, ga lagi bela-belain begadang nonton pemain bola idola di Manchester United atau Persib Bandung, membatasi diri dari media sosial, dan ga lagi nge-whatsapp lawan jenis yang terlanjur bikin saya patah hati. Tapi percayalah, semuanya akan setimpal dengan pengorbanannya.

Berinvestasilah pada diri kalian. Jadilah yang terbaik di bidang apapun yang kalian geluti. Niatkan perjuangannya sebagai tanggung jawab dan rasa syukur kalian atas talenta dan ilmu yang telah dianugerahkan Allah SWT untuk kalian. Investasikanlah waktu, tenaga, dan uang kalian, untuk kebaikan dunia dan akhirat kalian.

Then life will be fulfilling.

Inshaa Allah.

Wallahu’alam

***

Fajrin Yusuf M
Garut, 4 Agustus 2018

PS. Sedang lanjut nulis novel, lalu tiba-tiba nulis ini, trus dibaca lagi, tulisannya aga’ cringe ya, tapi gapapa lah, belajar beropini, postinglah, biar tenang balik lagi nulis novelnya.

***




****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment