IELTS itu sulit, katanya…

IELTS itu sulit, katanya…

Jadi ceritanya saya baru ikutan tes IELTS, dan kemarin baru keluar hasilnya. Inilah dia hasil IELTS saya.

Hasil IELTS

Buat saya sih hasilnya cukup memuaskan, sesuai targetlah.  Setidaknya nilai ini sudah cukup buat syarat studi. Saya juga latihan cuma sebulan, itupun ngga setiap hari dan waktunya terbatas karena siangnya saya mesti berkegiatan; mencari nafkah untuk diri ini.

Yah, ditampilkan disini bukan buat nyombongin diri sebagai orang kampung yang bisa bahasa inggris. Di artikel ini saya cuma ingin berbagi pengalaman saya dalam mengikuti tes IELTS ini. Siapa tahu bisa membantu kalian, para pembaca yang budiman; yang mungkin punya rencana mengikuti tes IELTS juga.

***

Tes IELTS ini cukup ditakuti, atau setidaknya disegani orang. Yah, biaya untuk mengikuti tes IELTS ini tidak murah. Saya membayar sekitar 2,8 juta untuk mengikuti tes ini (April 2017), belum lagi biaya-biaya lain yang keluar selama saya merantau; mengingat tes ini tidak dilaksanakan di Garut, jadi saya harus pergi ke kota besar terdekat, Bandung atau Jakarta. Jadi saya menganggarkan sekitar 3 juta lebih untuk tes ini. Percayalah, nilai itu sangat besar bagi kondisi finansial saya sekarang sebagai entrepreneur nestapa yang pengeluaran bulanannya cukup banyak (terutama buat internet dan ngopi, wkwkwk..).

Failed in the test was not an option for me; and maybe so for you readers.

Sejak akhir tahun 2016 saya sudah mencanangkan untuk mengikuti tes IELTS sekitar bulan Januari atau Februari 2017. Dengan demikian, saya bisa mengalokasikan waktu latihan sekitar satu bulan, dan saya juga bisa mengumpulkan uang untuk biaya tes-nya. Nyatanya, saya tidak latihan dan tidak mengumpulkan uang hingga akhir Maret. Hahaha…

Sebagai seorang entrepreneur, waktu dan keuangan saya hampir selalu tercurah untuk usaha saya (alesan). Selain itu, saya juga orang yang sangat sulit untuk dikasih motivasi. Dimotivasi untuk nyari cewek saja susah, apalagi untuk ngabisin uang banyak demi tes yang belum tentu bisa dapet hasil yang diharapkan.

Akhirnya, hari itu saya mengambil langkah radikal. Saya daftar IELTS untuk akhir April dan langsung saya bayar dengan sisa-sisa keikhlasan yang tak diikhlaskan. Padahal saya belum latihan sama sekali. Saya telah menyalahi rule peperangan Sun Tzu. Saya telah menyulut peperangan yang belum tentu bisa saya menangkan…

Tapi ketika uang 2,8 juta itu menghilang dari rekening saya, motivasi itu pun mulai muncul menggebu. Sekali lagi, gagal itu bukan opsi; lebih baik mati syahid di peperangan daripada pulang dengan kegagalan (dan mesti ngulang). Satu-satunya opsi adalah dengan latihan!!!

Latihan dengan sungguh-sungguh bisa mengurangi probabilitas saya untuk mati syahid; serta memperbesar peluang saya untuk selamat melewati tantangan ini. Dan di hari itu juga, saya pun menyusun strategi!

***

Strategi latihan IELTS!

Strategi saya sebetulnya sederhana; saya tidak belajar bahasa inggris, saya hanya belajar mengerjakan tes IELTS saja. Belajar bahasa inggris itu lebih sulit daripada belajar mengerjakan tes IELTS. Dari kecil hingga sekarang, saya belum selesai belajar bahasa Inggris; tapi sekarang saya sudah berhenti belajar mengerjakan IELTS, haha… Yep, belajar bahasa inggris tidak akan ada ujungnya, tapi belajar mengerjakan tes IELTS ya sampai tes IELTS-nya selesai saja dan hasilnya bisa sesuai harapan. (pragmatis pisan nya, baewekumaaing.)

Simulasi; mungkin itu kata kuncinya. Sebulan itu saya lakukan simulasi hampir setiap malam, setelah berkegiatan di siang hari; kecuali ketika ada MU main atau ketika memang sudah ngantuk dan lelah karena siangnya berkegiatan fisik lebih banyak dari hari biasa.

Strategi selanjutnya adalah, prinsip low cost (kere cuk!). Persiapan ini sebisa mungkin mesti gratis. Tes ini sudah terlalu mahal buat saya, tanpa saya harus mengeluarkan uang lagi untuk persiapannya. Dalam hal ini, kalian tidak perlu mengikuti strategi saya. Kalau punya uang dan ingin ikut kursus persiapan, ya kenapa ngga? Kasih saja uang kursus persiapan itu ke saya, nanti saya temenin persiapannya, hahaha….

Oleh karena itu, sebisa mungkin saya cari materi simulasi ini di internet; yang gratis-gratis. And God helped me a lot!  He showed me this: materi simulasi IELTS dari Cambridge ini. Download lah semuanya… Kalau tidak salah ada 10 buku, dan setiap bukunya ada 4 tes simulasi. Itu berarti kalian bisa melakukan 40 kali tes simulasi. Saya kalau tidak salah hanya menyelesaikan sekitar 20 tes. Sibuk uy! (alesan deui)

Strategi saya adalah: set nilai simulasi lebih tinggi dari harapan nilai tes sebenarnya. Misal, harapan tes dapat skor 7, maka lakukan terus simulasi hingga dapat skor 7,5 atau 8. Saya pun menetapkan nilai 8 sebagai target nilai simulasi listening dan reading (yang memang sudah ada kunci jawabannya di sana jadi bisa dicocokin).

konversi skor IELTS

Saya juga latihan writing dengan mencoba menulis sesuai dengan jumlah kata yang diminta dalam waktu 20 menit untuk writing task 1 dan 40 menit untuk writing task 2.Simulasi ini juga mesti pakai waktu, jadi jangan lupa selalu set timer hp kalian. Malah kalau bisa, download juga blank answer sheet-nya. Print juga soal-soalnya. Pokoknya sebisa mungkin lakukan simulasi ini semirip tes aslinya. Kalau ga tau tes aslinya gimana, tanya sama yang pernah, ehm, saya misalnya.

Untuk speaking, saya berlatih menjawab dan beropini sendiri sesuai dengan topik yang ada dalam bahan simulasi tadi. Berlatihlah dengan timer kalian. Pastikan kalian bisa lancar menjawab dan beropini minimal dalam 3 menit, tapi tidak ngelantur kesana kemari. Berlatihlah bersama teman. Kalau ga ada yang nemenin (kayak saya), kalian juga bisa nonton video youtube dari Liz dan Emma. Karena saya berlatih sendiri malem-malem di kontrakan, jadi saya ngocoblak sendiri saja depan leptop. Sedih.

Satu hal penting yang patut di garis bawahi adalah, simulasi-simulasi ini pada akhirnya membuat saya merasa pede untuk maju ke medan perang sebenarnya… Target saya adalah dapat 7,5 di tes sebenarnya (7 is acceptable), jadi saya harus dapat skor 8 di simulasinya. Rata-rata listening saya sudah 8 dan reading 8. Writing pun sudah bisa memenuhi syarat jumlah kata dalam waktu yang dibutuhkan. Jadi saya pun pede. Jika belum, saya akan lakukan terus sampai 40 tes-nya, kalau perlu cari materi simulasi lainnya.

Akhirnya, biaya persiapan saya hanya sejumlah biaya kopi-kopi malam dan internet; which is kalau saya ngga persiapan pun si biaya itu akan tetap keluar juga, wkwkwk…

Strategi mengerjakan tes IELTS

Saya memilih tes di Jakarta melalui British Council; setelah disarankan oleh adik saya yang telah mengikuti tes ini sebelumnya, dan kini kuliah S2 di Singapur ngalahin kakaknya. Saya tidak ingat lagi mengapa adik saya menyarankan tes di Jakarta, tapi karena dia sudah berpengalaman, saya akan ikuti saja sarannya. Lagipula kalau tidak salah, tes di Bandung paling cepat itu Mei, dan saya ingin lebih cepat.

Pagi-pagi di hari tes, kalian harus sarapan dan harus siap; minimal setengah jam sebelum tes sudah berada di venue yang ditentukan. Saya yang biasa ga sarapan dan males-males di pagi hari aja jadi semangat di hari itu mah. Malemnya jangan begadang! Kalau belum pup, usahain untuk pup pagi-pagi banget. Kalau ada kopi, minum seudah pup setengah jam sebelum tes.

Saya sendiri pup malemnya. Di pagi hari, seudah sarapan nasi goreng, saya minum long black coffee; beli dari minimarket gaul yang ga ada di Garut mah. Lalu naik gojek sambil nyeruput kopi menuju venue. Panitia dengan baik hati mempersilakan kita untuk pipis sebelum tes. Pipislah, karena Pipis in the middle of the test was not an option!

Kemarin itu venue tes-nya di daerah Cikini-Menteng, di sebuah aula hotel yang nyaman. Suara tes listeningnya jelas, sejelas simulasi-simulasi yang saya lakukan di malam-malam yang panjang, sepi, dan dingin selama sebulan kemarin. Betul saja, tes ini ketat, kita ga boleh bawa apapun selain ID, bahkan dompet pun ga boleh dibawa ke ruang tes. But cheating was never an option either.

Saya mengerjakan tes listening dan reading, dengan bahagia, karena semuanya sesuai dengan ekspektasi. Sesuai dengan apa yang saya pikir akan saya hadapi pagi itu. Ketika kalian melakukan banyak simulasi, kalian bakal tau bagaimana teknik ngerjain soal-soal listening dan reading ini. Bagaimana ngelola fokus ke suara dan jawaban, juga bagaimana cara skimming dan baca cepat serta langsung mengasosiasikannya dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Itu adalah skill yang harus kalian latih dengan praktek simulasi, tidak bisa dengan hanya “belajar bahasa inggris” saja.

Pada saat writing, nanti kalian akan diberi pulpen atau pensil untuk menulis jawaban kalian. Saya sih milih pensil biar bisa dihapus kalau ada salah argumen atau typo. Strategi writing ini adalah kerjakan task 2 terlebih dahulu (karena bobot nilainya lebih besar), sambil terus pantau waktu kalian. Kalian juga membutuhkan waktu untuk task 1. Untungnya, ketika kalian latihan simulasi, kalian mestinya bisa menyelesaikan task 1 dengan lebih cepat. Task 1 adalah tentang interpretasi grafik (bisa bar chart, pie chart, atau chart-chart lainnya). Bahasa-bahasa interpretasi grafik adalah sesuatu yang bisa dilatih dalam simulasi. That’s a huge boost! Sementara di task 2, saya tertolong oleh kebiasaan saya menulis di blog lama saya yang penuh memori kepedihan (lebay).

Saya juga cukup puas dengan writing, walau ternyata hasilnya tidak memuaskan. Saya cukup puas karena saya sudah menulis lebih dari jumlah kata yang diminta (150 kata untuk task 1 dan 250 kata untuk task 2). Saya juga merasa tidak terlalu ngelantur… mungkin… Satu-satunya kekhawatiran saya setelah tes adalah jika si penilai tidak mengerti tulisan saya yang ancur-ancuran jika harus menulis cepat. Walaupun demikian, saya menulis dengan cukup rapi tanpa coretan-coretan karena bantuan penghapus.

Masuk tes speaking, saya kebagian ngobrol dengan seorang ibu-ibu yang ramah. Bukan bule sih sepertinya; lebih mirip dosen bahasa inggris, tapi entahlah, bahasa inggrisnya dapat dimengerti dengan mudah dan suaranya empuk. Tes speakingnya nanti direkam, jadi jangan gugup yah.

Sayangnya, justru kesalahan saya dalam speaking ini adalah saya terlalu santai dan menjawab seperlunya saja, sehingga banyak momen krik-kriknya. Saya pikir, nilai speaking saya bakal jelek (tapi ternyata masih lebih tinggi dari nilai writing saya). Saya sempat cemas juga, tapi yah setidaknya saya berhasil menjawab semua pertanyaan tanpa ngelantur dan tenang. Pertanyaan pertamanya adalah tentang hobi, saya jawab “mm, maybe writing, I have a blog, so I write a lot for my blog.”, lalu dia tanya kenapa suka nulis, saya jawab, “maybe… just because I find it fulfilling… I find myself satisfied after I write things…

lalu krik krik.

Dia pun melanjutkan ke topik selanjutnya. Tentang “quiet place I’d like to go”. Pikiran pertama saya melayang ke Tegal Alun, Gunung Papandayan. Lalu selanjutnya cukup mudah, menjelaskan padang bunga abadi edelweiss; semudah menjelaskannya kepada para turis bule yang biasa saya bawa ke sana. Di pertanyaan tentang where it is, why, how often, when was the last time, dan pertanyaan sejenisnya juga bisa saya jawab dengan mudah, walau tanpa elaborasi, hingga beberapa kali krik krik. :p

Selanjutnya, masih tentang quiet place, kali ini membahas noise and workplace. Kata kunci yang saya gunakan adalah, “it depend on the person…”. Yah memang sebagian bisa kerja dalam suasana ribut, malah sengaja nyetel musik dulu baru kerja. Sebagian lainnya mesti sepi untuk kerja. Argumen yang intuitif tapi setidaknya masih masuk akal.

Di akhir pertanyaan, dia bertanya tentang bisakah pemerintah membuat policy untuk mengurangi polusi suara lalu lintas di kota-kota besar. Saya jawab, “I think so… I think the government should be able to persuade the people… in some way… like… to not honking too much, not speeding too fast, not using a noisy …” disana saya berfikir keras untuk mencari kata knalpot dalam bahasa inggris, dan gagal. Akhirnya malah saya sebutkan, “not using a noisy knalpot…”. wkwkwkwk…

Si ibu itu pun tersenyum… sepertinya tersenyum geli… lalu menyudahi percakapan dengan singkat “Thank you…”. Uh, saat itu, saya ingin sekali minta tesnya diulangi…

(sepanjang perjalanan pulang, saya berfikir kenapa saya ngga pake kata engine saja. “not using a noisy engine”; jauh lebih oke.)

Strategi Tambahan

Strategi tambahan yang tidak kalah pentingnya adalah dengan mengabari orang tua dan meminta doa mereka. Ketika saya mengeluarkan uang untuk tes ini, saya langsung menghubungi ibu saya dan minta doa. Ibu saya malah nawarin uang untuk tesnya, tapi ya gengsi atuh, wkwkwk…

Di hari kepergian saya ke Jakarta, saya sengaja pulang dulu untuk minta doa. Ibu saya siap dengan multivitamin khas MLM yang ga terlalu saya percayai khasiatnya. Saya hanya percaya khasiatnya karena ibu saya yang ngasih; dan kalau ibu saya ridho, insya Allah, hati pun ringan.

Buat yang muslim, Bismillah dulu setiap tes, akhiri dengan hamdalah. Sebelum tes speaking, panjatkan doa nabi Musa dalam Surat Thaha, Ayat 25-28,

Rabbishrahlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdata min lisanii yafqahuu qaulii.”

Yang artinya, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku. Dan mudahkanlah bagiku urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan lidahku. (Supaya) mereka memahami perkataanku.”

***

Alhamdulillah, dengan strategi ini, saya keluar venue tes dengan senang hati. Walaupun ada yang mengganjal, tapi overall saya cukup puas. Dari menteng, saya sempat ngopi dulu di salah satu coffee shop di sekitar sana, lalu jalan kaki ke Monas, menikmati ibu kota.

Setelah puas dengan ibukota, saya pun naik busway ke Cililitan, lalu naik bis primajasa ke Garut dan dapet sedikit jok saja di ruangan merokok yang ngebul dari awal perjalanan sampai Garut. Hati saya sedang senang, bahkan bapak-bapak yang merokok terus di samping saya masih sempat saya tawari tahu sumedang. 🙂



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

2 Comments

  • Kezika

    May 7, 2018 at 9:11 am Reply

    Kang hasilnya brp nih? Soalnya mau liat hasilnya page not found di saya

    Thanks before

    • kangfajrin

      May 7, 2018 at 9:25 am Reply

      Hasilnya dapet 7,5:

      Listening 8,5
      Reading 8,0
      Writing 6,5
      Speaking 7.0
      🙂

Post a Comment