Cerita-cerita Kartika

Cerita-cerita Kartika
oleh: Fajrin Yusuf M.

Namanya Kartika dan dia sudah melihat dunia… Setidaknya, sudah cukup baginya…

Menjadi tua itu pasti terasa aneh; seperti semakin terasing di rumah yang sudah ditinggali puluhan tahun lamanya. Mungkin perasaan terasing itulah yang lambat laun mengikis ingatan. Yah, sekarang ini Kartika sering sekali melupakan banyak hal.

Sebulan yang lalu ada seorang teman yang datang berkunjung; bertanya kabar. Kartika sudah lupa namanya, walau sekilas wajahnya tidak asing. Sang tamu bertanya tentang “teman-teman kita yang masih ada”. Kartika bahkan sudah lupa kalau dia punya teman-teman.

Satu hal penting yang akan selalu ku ingat adalah keluargaku.”, begitu pikir Kartika riang pagi ini, ketika dia ikut membantu memandikan seorang bayi perempuan yang lucu; anak dari cucunya…

Ya, Kartika sudah setua itu…

Tapi setua apapun, aku tidak mungkin lupa dengan keluargaku.”, ulangnya meyakinkan diri sambil menghempaskan diri ke sofa. Tidak lama dia bisa ikut membantu memandikan bayi itu; kadang tubuhnya tidak lagi mengikuti perintah. Untungnya Kartika masih bisa berjalan dengan normal, berkat puluhan tahun jalan kaki setiap pagi dari rumah ke pasar pulang pergi. Untuk seorang yang sudah amat tua, Kartika ini luar biasa sehat.

Jadi ketika cucu perempuannya yang paling kecil, Salsa, memberitahunya bahwa ada seorang tamu menunggu di rumah, Kartika pun langsung beranjak pulang. Rumah Kartika masih satu komplek dengan rumah anak dan cucunya; hanya berjarak beberapa rumah saja. Rumahnya dibelikan beberapa tahun yang lalu oleh anak perempuan satu-satunya yang kini bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Di rumah tipe 45 sederhana itu kini Kartika tinggal berdua bersama suaminya yang juga dianugerahi umur panjang.

Jalan di komplek perumahan ini teduh dinaungi pohon-pohon mangga. Berjalan kaki di komplek perumahan yang asri selalu bisa membuat Kartika merasa aman dan nyaman. Cucunya, Salsa, yang baru masuk SMA, berjalan di sampingnya; membuatnya merasa hangat. Sekilas teringat kehidupan sulit di rumahnya yang dulu di suatu perkampungan kumuh di Bandung. Kartika bergidik, tapi langsung berucap syukur.

Terlihat di depan rumahnya terparkir sebuah mobil sedan. Kartika jadi penasaran dengan si tamu ini. Tidak setiap hari ada yang bertamu ke rumahnya, dan kini sang tamu datang membawa sebuah mobil mahal. Sang tamu tampak menunggu di teras rumah. Kartika tidak bisa melihat jelas dari kejauhan sehingga dia harus mendekat untuk melihat wajah sang tamu yang ternyata adalah seorang laki-laki paruh baya.

Bi Ika.”, sambut sang tamu mendekat. Dia langsung mencium tangan Kartika.

Kartika masih menerka-nerka siapa lelaki ini. Jaket dan sepatu kulitnya mengkilat. Tubuhnya tinggi besar. “Jelas dia lelaki berada.”, pikir Kartika. Dia melepas kacamata hitamnya ketika Kartika mendekat. Walaupun dia memasang senyum, dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang terlihat sangat lelah.

Lelaki ini memanggilnya dengan nama kecilnya, Ika. Saat ini, sedikit orang yang memanggilnya dengan nama itu. Setengah dari dirinya curiga karena dia tidak mengenali lelaki ini, dan setengah lagi bersiap untuk menerima rasa malu karena dia mungkin memang lupa saja dengan lelaki ini. Tapi sebelum Kartika bertanya siapa, lelaki ini sudah menjelaskannya.

Abdi Agus, putrana Mah Asih.” katanya. (“Saya Agus, anaknya Mah Asih.”)

Asih…” pikir Kartika, banyak sekali wanita Sunda dulu yang bernama Asih, mungkin ada satu dua temannya yang bernama Asih. Dia tidak yakin. Agus pun bukan nama yang jarang digunakan.

Mah Asih, ti Samarang. Berarti Abdi ka Bi Ika mah nyebatna Bibi…”, katanya menjelaskan. (“Mah Asih, dari Samarang. Berarti ke Bi ika saya harus memanggil Bibi…”)

Seketika itu pula Kartika terhentak. Ada seorang dari masa lalunya yang bernama Asih, dan dia tidak percaya dia telah melupakannya… melupakan seorang keluarga… Asih adalah kakaknya; kakak dari ibu yang berbeda; dan sudah puluhan tahun Kartika tidak lagi mendengar kabarnya.

Kilasan-kilasan masa lalu yang kelam kini memenuhi pikirannya; kepedihannya seakan dapat menyambung dan memperkuat kembali saraf-saraf ingatannya yang telah rapuh. Kini ingatan akan kepedihan itu kembali jelas, seolah baru terjadi kemarin. Emosi membuat tubuhnya melemah. Tahu-tahu Kartika sudah dibantu oleh lelaki itu untuk berbaring di sofa ruang tamunya. Sekilas Kartika melihat suaminya tertatih-tatih panik membawa baki minuman hangat.

Cucu-cucunya mulai berdatangan. Subhan, cucu lelakinya yang paling besar, datang dengan mengendarai motor, padahal rumahnya cuma beberapa meter saja jaraknya. Dia mengoceh tentang pergi ke Puskesmas. Sementara lelaki itu, Agus, menawarkan mobil sedannya agar bisa cepat pergi. Raisa, cucunya yang sebentar lagi masuk kuliah, juga datang dan mulai memijit-mijit kaki Kartika, seolah itu akan membantu. Salsa sedang mencoba menelepon ibunya. Rumahnya yang biasa sepi, kini riuh rendah oleh para pengunjung.

Kartika mendengarkan hiruk pikuk di rumahnya itu sembari mencoba mendapatkan kembali nafas dan tenaganya. Dalam satu tarikan nafas, Kartika mencoba bangkit dan duduk di sofa itu. Para pengunjung tetiba berhenti berkata-kata.

teu kudu ka Puskesmas, teu kunanaon…”, (“Tidak perlu ke Puskesmas, tidak apa-apa…”) ujar Kartika lemah, mencoba menenangkan. Dia mencoba meraih gelas air minum hangat di atas meja, tapi Subhan jauh lebih cekatan dan meraihnya lebih dulu, lalu memberikan gelas itu ke tangannya. Kartika meminumnya dengan lambat, lalu mendesah. Subhan kembali membantunya menyimpan gelas itu di atas meja.

hayu enin, urang parios heula bisi kunanaon.”, (“Ayo nek, kita periksa dulu takut ada apa-apa.”) bujuk Subhan yang kini duduk di samping Kartika.

Kartika hanya menggeleng. Dia mencoba mengatur kembali nafasnya. Tidak seharusnya peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu lama bisa memberi perubahan emosi yang begitu cepat bagi seorang yang sudah teramat tua seperti dirinya. Dia seharusnya sudah melupakannya, dan memang sudah, tapi ternyata memori itu bisa datang kembali begitu saja. Dia tidak pernah lagi memikirkan kakaknya, Asih, sejak lama sekali.

Kumaha Asih ayeuna?” tanyanya berat, kepada Agus.

Melihat kondisi Kartika, Agus tampak agak ragu untuk menjelaskan, tapi dia kemudian mendekat dan duduk dihadapan Kartika. Dia sudah mencari alamat Kartika ke banyak tempat; dengan susah payah; ke Tasikmalaya, ke Bandung, hingga sekarang dia telah menemukannya, di kotanya sendiri, Garut. Tujuan pencariannya juga sama mendesaknya dengan kondisi kesehatan Kartika. Bagaimanapun, dia harus menjelaskan maksud kedatangannya.

Bi Ika, hapunten bilih kumawantun, Mah Asih ayeuna nuju répot. Tos sasasih kamari dirawat di Bandung… mung dokter sadayana tos angkat tangan, janten ayeuna tos dicandak uih ka rorompok di Sukarégang. Saurna hoyong pendak sareng Bi Ika, saurna Mah Asih gaduh sametan ka Bi Ika… sareng hoyong nyuhunkeun dihapunten sadaya kalepatanna nu kapungkur…

(“Bi Ika, mohon maaf sebelumnya, Mah Asih sekarang sedang dalam masa sulit – sakit parah. Sudah sebulan ini dirawat di Bandung… Hanya saja dokter semua sudah angkat tangan, jadi sekarang di bawa pulang ke rumah di Sukaregang. Katanya ingin ketemu dengan Bi Ika… Mah Asih bilang masih punya hutang ke Bi Ika… juga ingin minta dimaafkan semua kesalahannya yang sudah lalu…”)

Agus menceritakannya dengan sedikit tercekat. Ibunya sedang sekarat, dan seorang yang ingin ditemuinya sebelum mati adalah nenek tua, adik tirinya ini. Tidak, Ibunya tidak ingin menemui adik tirinya ini, dia hanya merasa tidak punya pilihan lain. Ibunya telah menderita banyak penyakit sejak lama. Para dokter menganggapnya sebagai keajaiban bahwa ibunya bisa bertahan, tapi Agus tidak melihatnya demikian. Ibunya menderita… sangat menderita. Dia seharusnya sudah pergi; sudah terlampau tua, sudah terlampau sakit.

Ketika ibunya meminta bertemu dengan adik tirinya, Kartika, dan ingin meminta maaf darinya, Agus memiliki firasat. Bahwa dosa masa lalunya inilah yang menghalangi dia dari kematian. Agus tahu banyak tentang masa lalu ibunya, tapi ibunya tidak pernah bercerita bahwa dia punya adik tiri. Dosanya pasti cukup besar hingga dia tidak menceritakannya kepada siapapun, termasuk anaknya. Tapi apapun itu, dosa atau hutang apapun yang dimiliki ibunya kepada adik tirinya, semuanya harus segera diselesaikan. Hal itulah yang mendorong Agus untuk pergi mencari keberadaan Kartika.

Dia pikir dia sedang mencari sebuah batu nisan. Tapi ternyata, disanalah Kartika, sangat sehat untuk seorang nenek tua, yang cucunya saja sudah beranak pinak. Mendengar kabar bahwa adik tirinya sekarang sedang sekarat, Kartika hanya memalingkan wajahnya ke jendela.

———————————–

Cerita Pertama Kartika

Cerita ini sudah lama sekali tak terjamah, terasing dalam ingatan yang telah menua. Cerita tentang seorang gadis desa di pedalaman tanah Priangan. Ayahnya mungkin seorang tuan tanah, tapi hakikatnya dia hanya gadis desa biasa, yang Sekolah Rakyat pun tidak tamat.

Gadis desa bernama Kartika ini lahir di kaki Gunung Kamojang, Garut, dibantu oleh seorang bidan berambut pirang yang ramah; orang Belanda. Entah untung atau tidak, tapi Kartika tidak sempat merasakan pahitnya diperintah oleh orang-orang berambut pirang itu. Mereka segera pergi beberapa waktu setelah Kartika lahir. Sayangnya, Kartika tumbuh di masa yang lebih buruk; yaitu masa ketika sesama saudara pribumi saling membunuh untuk hal yang sama sekali tidak dipahaminya.

Kartika lahir dari ibu bernama Ida, seorang wanita rupawan yang ternyata tidak terlalu subur. Mungkin karena itulah ayahnya, Raden Linggapradja, si tuan tanah, memutuskan untuk berpoligami. Istri keduanya, Elis, memang tidak secantik Ida, tapi terbukti lebih subur dan hamil lebih dulu; melahirkan Asih. Ketika Asih mendapat seluruh cinta dari ayah dan ibunya, Kartika lahir; seolah bertujuan hanya untuk mencuri kasih sayang sang ayah dari Asih. Dari sejak lahir, hubungan Kartika dan Asih memang tidak terlalu baik, tapi sikap ayahnya yang tegas dan keras selalu bisa menengahi keduanya. Keputusan ayahnya tidak pernah bisa diganggu gugat.

Kartika masih sempat merasakan masa-masa lampau, ketika anak perempuan adalah aset terbesar orang tua, untuk diberikan pada lelaki dengan tawaran tertinggi. Apalagi anak perempuan yang cantik, seperti Kartika. Tak perlu lah dididik ini itu; sedikit ajaran etika dan agama saja sudah cukup. Lelaki terpandang lah tujuan akhirnya. Mungkin karena itulah Kartika menjadi anak yang pendiam. Kartika tumbuh di masa ketika anak perempuan tak punya hak menolak. Tapi alih-alih berontak, Kartika lebih sering memendam semua emosinya dalam diam. Lagipula kadang orang tua ada benarnya juga.

Seperti keputusan orang tuanya untuk mengawinkannya dengan Dio, tidak pernah disesalinya. Dio, seorang pemuda idaman yang terkenal di Desa Samarang; anak dari Kepala Dusun. Tampan dan gagah. Pemimpin dari Pemuda Desa, satuan keamanan desa yang konon katanya langsung dilatih Tentara Kujang Siliwangi; tentara yang berhasil mengalahkan bule-bule berambut pirang dan orang-orang Jepang yang kejam. Walau perawakannya tinggi besar, Dio terkenal ramah dan baik budinya. Siapalah pula wanita yang tidak ingin menikah dengan laki-laki demikian sempurna?

Di usia yang belum mencapai 16 tahun, Kartika sudah jadi pergunjingan pemuda satu desa. Kartika memang salah satu, jika bukan yang paling cantik di desa itu. Ketika kabar tentang Dio, akan segera menikahi Kartika, pergunjingan pun berganti rasa iri. Orang-orang memberi selamat pada pernikahan yang dapat diduga itu, antara Kartika, anak seorang tuan tanah, dengan Dio, anak Kepala Dusun yang dekat dengan tentara-tentara dari Bandung. Tapi dengki di hati orang-orang ini mudah ditebak.

Apalagi dari kakak tirinya, Asih, yang merasa dialah yang seharusnya dikawinkan dengan Dio. Kartika mengerti perasaan Asih. Asih adalah anak semata wayang dari ibu tirinya. Dia sudah biasa merengek ini itu. Ayahnya juga telah berupaya untuk mengawinkan Asih terlebih dahulu. Tapi Dio tidak menginginkan Asih, Dio menginginkan Kartika. Jika tidak mendapatkan Kartika, Dio akan segera menikahi gadis dari desa lain, yang katanya tidak kalah cantiknya dari Kartika.

Ayahnya didera pilihan sulit, antara melanggar tradisi dengan menikahkan adik terlebih dahulu daripada kakak, atau tetap berusaha menikahkan kakaknya lebih dulu, tapi dengan lelaki yang belum pasti. Sulit mencari lelaki yang lebih dari Dio; tidak ada lagi di desa ini, dia harus mencari ke desa lain; malah mungkin harus ke kota lain. Hubungan baiknya dengan Kepala Dusun pun jadi pertimbangannya.

Pilihan sulit itu menjadi mudah ketika Ida, ibu kandung Kartika, memberi alasan bahwa Kartika tidak punya kakak… kakak kandung… Hal itu membuat Asih mengurung diri di kamarnya berhari-hari dan membuat hubungan keluarga menjadi retak. Tapi alasan ini cukup bagi Ayahnya untuk mengesampingkan masalah tradisi. Pernikahan pun dilaksanakan.

Tapi Cerita ini menjadi kelam bukan karena urusan pernikahan ini…

Pernikahannya malah berlangsung cukup meriah. Beberapa hari pertama pernikahannya terasa luar biasa indahnya. Memang benar kabar yang beredar, Dio benar-benar lelaki yang baik budi pekertinya, termasuk pada cara dia memperlakukan Kartika, istrinya. Di sela-sela waktunya, Dio bahkan mengajarkan Kartika membaca dan menulis.

Kartika mencoba melupakan Asih dan berharap Asih segera mendapatkan lelaki yang bisa mengisi hari-harinya dengan sempurna, seperti Dio baginya. Sayangnya, rasa iri Asih segera menular ke semua anggota keluarga kandungnya. Rupanya ucapan Ida, bahwa Kartika tidak punya kakak, sangat menyinggung keluarga Asih. Bahkan Elis, ibu kandung Asih, tidak lagi bicara dengan Kartika.

Suatu hari, Elis dan Asih pergi ke Sumedang. Mereka minta izin untuk bersilaturahmi ke anggota keluarga mereka yang lain. Kartika tahu betul, kepergian mereka ke Sumedang itu semata hanya untuk mengadu saja. Elis dan Asih tidak akan punya cukup keberanian untuk menentang ayahnya. Yang bisa mereka lakukan hanya menggerutu dan mengutuk.

Tapi Kartika sering berfikir bahwa mungkin kutukan merekalah yang membuat cerita ini menjadi begitu kelam.

Malam itu, tepat di hari Elis dan Asih pergi, dua orang tentara berbaju loreng hijau datang bertamu. Dio, ayahnya, serta mertuanya, si Kepala Dusun, ikut dalam perbincangan di ruang tamu rumah mereka yang sempit. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik; terlihat sangat serius.  Mereka menggunakan meja ruang tamu untuk menggelar peta; sesuatu yang dikira Kartika adalah taplak meja dengan motif yang aneh.

Wanita tidak boleh ikut dalam percakapan para pria, tapi Kartika berhasil menguping sedikit ketika mengantarkan teh hangat untuk para tamu tersebut. Mereka bicara tentang sekelompok gerombolan. “Siapapun mereka, mereka pasti orang jahat.”, pikir Kartika.

Esoknya, Kartika mendengar banyak rumor. Tetangganya, Nyi Akah, bergosip di halaman rumahnya, tentang gerombolan yang merampok rumah-rumah warga di desa sebelah. Mereka mengambil ternak-ternak dan barang berharga, lalu seolah menghilang dalam gelap malam. Bahkan katanya gerombolan ini sempat membunuh dua orang kakak beradik di belakang halaman rumahnya sebelum menjarah seluruh isi rumah; saat itu Kartika tidak terlalu mempercayai bagian gosip yang ini.

Rumor tentang para gerombolan ini rupanya telah menyebar sangat cepat di seluruh desa. Banyak pemuda yang menghilang ke dalam hutan dan tidak kembali. Konon katanya, mereka tidak akan pernah kembali, entah mati atau bergabung dalam gerombolan untuk menebar kematian.

Beberapa hari setelahnya, selalu ada tentara yang hilir mudik keliling kampung. Dio, sebagai ketua dari Pemuda Desa, mencoba menenangkan warga, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dio berdalih, tujuan utama para tentara ini datang adalah untuk ikut membantu membangun irigasi. Lagipula seharusnya warga menjadi lebih tenang dengan adanya tentara-tentara ini. Gerombolan kejam dalam rumor-rumor itupun tidak akan berani menampakkan diri.

Sayangnya, warga desa malah melihat senapan-senapan yang dibagikan kepada para Pemuda Desa oleh para tentara; membuat kegelisahan warga semakin menjadi. Beberapa warga sudah berniat untuk mengungsi dan mulai mengemasi barang-barang mereka. Kehadiran tentara-tentara ini lebih berhasil membuat mereka gugup, daripada merasa aman.

Mungkin karena itulah para tentara pergi setelah jum’atan, di hari yang mengubah hidup Kartika sepenuhnya. Kartika bertanya pada Dio tentang kepergian mereka; Dio hanya bilang bahwa mereka tidak akan lama, mungkin besok juga kembali. “Mereka akan mengganti pasukannya.”, begitu kata Dio. Kartika tidak mengerti.

Malam itu, sehabis maghrib, para laki-laki berkumpul di ruang tamu. Mereka tidak bercakap-cakap. Ayahnya terlihat berdzikir dengan tasbih di tangannya. Sementara Dio hanya bersandar di kursi, menatap langit-langit ruang tamu yang temaram diterangi cahaya lampu minyak. Ibunya sedang sakit demam dan hanya bisa berbaring di kamar. Kartika hilir mudik, antara melihat pemandangan aneh para lelaki yang terdiam di ruang tamu, dan menemani ibunya yang sedang terbaring.

Kejadian malam itu diawali dengan sebuah jeritan. Jeritan yang sangat kencang dari seorang wanita entah siapa; yang pasti dia masih tetangganya karena jeritan itu terdengar sangat jelas. Jeritan itu mengejutkan semua lelaki di ruang tamu, termasuk Kartika yang sedang memperhatikan mereka.

Reaksi para lelaki ini membuat jantung Kartika berdegup sangat kencang. Mereka langsung mengambil parang yang ternyata telah disembunyikan di bawah kursi ruang tamu entah kapan. Mereka mengambil senjata mereka masing-masing dengan spontan, seolah itulah yang selama ini mereka pikirkan. Ayah dan mertuanya langsung pergi ke beranda rumahnya, sementara Dio menghampiri Kartika dengan cepat, mengambil tangannya. Dia hanya berkata singkat, “hayu!”, dan Kartika pun tidak menunggu.

Jantungnya berdegup sangat kencang bahkan sebelum dia mulai berlari. Rambutnya yang hitam panjang masih terurai ketika Kartika mulai berlari bersama Dio, keluar lewat pintu dapur. Kegelapan dan belaian angin dingin langsung menyambutnya, membuat rambutnya berkibar. Kartika berlari cepat tanpa alas kaki, melewati kebun sayur di belakang rumahnya, dengan hanya diterangi cahaya purnama.

Belum jauh Kartika berlari, kaki kanannya terantuk sesuatu dan dia pun terjatuh. Kakinya mungkin berdarah, dia tidak tahu, dia bahkan tidak bisa melihat kakinya. Kartika cepat bangkit, tapi dia tidak lagi bisa berlari. Kaki kanannya tidak lagi mengikuti perintahnya. Dia hanya bisa melompat-lompat dengan kaki kirinya. Ketakutan memberinya tenaga untuk melakukan hal itu.

Dio tahu dia tidak bisa membawa Kartika terlalu jauh dengan kondisi kakinya. Jadi dia membawa Kartika hingga ke jembatan Sungai Citepus, tidak jauh dari kampungnya. Dio menyuruh Kartika sembunyi di bawah jembatan ini, dan berkata bahwa dia harus kembali untuk keluarganya yang lain. Ketakutan Kartika sangat nyata karena kemudian dia menahan tangan Dio.

Dio hanya menatap Kartika. Dari tatapan itu saja Kartika mengerti, bahwa Dio benar-benar tidak ingin meninggalkannya. Dio hanya harus melakukannya. Wajah Kartika mulai dipenuhi air mata. Kartika sudah terbiasa memendam emosinya. Tak lama, Kartika pun melepas tangan Dio, dan Dio pun pergi, meninggalkan Kartika dalam kegelapan malam.

Perlahan Kartika meraba-raba dan mulai turun ke bawah jembatan. Kaki kanannya mulai terasa sangat sakit. Dia turun dengan menyeret kaki kanannya. Ketika kaki kanannya jatuh ke air sungai, rasa sakitnya berlipat ganda hingga nafasnya berhenti sejenak.

Sungai Citepus ini tidak terlalu besar. Mata airnya tidak jauh dari kampung ini. Malam itu airnya hanya bergemericik saja mengalir lembut melewati kaki Kartika. Tapi suara gemericiknya cukup kencang untuk mengalahkan suara isak tangis Kartika.

Untuk bernaung di bawah jembatan ini Kartika harus menunduk. Dia pun duduk menunggu di bawah jembatan. Seluruh tubuhnya gemetar karena dingin dan takut. Sekilas terdengar suara-suara pukulan kohkol, suara jeritan, dan tembakan senapan dari kampungnya. Kartika hanya terduduk, merapalkan semua doa-doa, meminta keselamatan.

Dua kali terdengar seseorang berlari melintasi jembatan, membuat Kartika menahan nafasnya. Di kali ketiga, terdengar suara seseorang mencoba turun ke bawah jembatan. Kartika menunduk, berharap kegelapan akan menyelimutinya dari bahaya apapun yang mendekatinya. Ketika orang itu sampai di air sungai, cahaya bulan menerangi tubuh seorang wanita yang dikenali Kartika. Ternyata dia adalah Nyi Akah, tetangganya, dia diikuti oleh dua anak perempuannya yang masih kecil. Anaknya yang pertama menjerit kaget karena Kartika tiba-tiba muncul dari kegelapan di bawah jembatan. Ibunya sigap menutup mulut anak itu dengan tangannya.

Nyi Akah mengenali Kartika dan langsung menghampirinya. Mereka pun saling berpelukan sambil terisak, dibawah jembatan yang dingin, gelap, dan lembap. Mereka berempat lalu duduk berdekatan untuk saling menghangatkan tubuh. Kartika mencoba berhenti terisak untuk menenangkan dua anak perempuan itu. Keempatnya lalu terdiam dalam isak yang tertahan oleh ketakutan.

Suara gaduh di kampungnya tidak bertahan lama. Beberapa saat kemudian suara-suara yang mengerikan itu berganti hening yang mencekam. Serangga-serangga penghuni kolong jembatan ini tidak dihiraukan oleh empat perempuan malang yang mencoba mencari perlindungan pada takdir Tuhan.

Hening itu berubah menjadi sangat mencekam ketika suara langkah-langkah kaki terdengar dari atas jembatan. Langkah-langkah yang mantap, tapi tidak berlari. Beberapa kali, suara langkah kaki orang melintasi jembatan ini terdengar. Empat orang perempuan di bawah jembatan menahan nafas mereka setiap suara langkah kaki ini mendekat.

Nafas mereka benar-benar berhenti ketika ada suara orang menuruni semak menuju ke bawah sungai. Orang ini membawa obor; cahayanya datang sebelum pemilik obor itu terlihat. Nyi Akah membekap mulut anak perempuannya yang paling kecil, sementara anaknya yang lain membekap mulutnya sendiri. Rasa sakit di kaki Kartika sudah benar-benar teralihkan oleh rasa takut yang amat sangat.

Lalu hadirlah, seorang lelaki bertubuh tinggi besar, dengan pakaian hitam dan celana panjang hitam. Rambutnya panjang sebahu, matanya melotot tajam, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Tangan kirinya memegang obor, sementara tangan kanannya memegang sebilah golok. Cahaya api obor menerangi bilah golok yang merah bersimbah darah.

Dia menatap tepat kepada empat orang perempuan yang tak berdaya; dua diantaranya malah masih anak-anak. Rasa takut yang mereka rasakan mungkin bisa membunuh mereka terlebih dahulu sebelum goloknya melayang.

Terdengar suara seorang lelaki dari atas jembatan, “Kumaha Man?” (“Bagaimana Man?”)

Si lelaki berbaju hitam ini terdiam sejenak, lalu menjawab singkat, “Euweuh… euweuh sasaha…” (“Ga ada… ga ada siapa-siapa…”)

Dia kemudian naik kembali ke atas jembatan, dan melangkah pergi, meninggalkan keempat perempuan tadi dalam jerit tangis ketakutan tanpa suara. Laki-laki itu tidak pernah kembali, dan Kartika tidak pernah melihatnya lagi.

Butuh waktu lama hingga Kartika mendapatkan kendali atas dirinya. Dia kembali merapal banyak doa untuk keselamatan keluarganya. Teringat ibunya yang masih berbaring di ranjang ketika Kartika meninggalkannya. Ibunya sedang sakit demam cukup parah, tidak mungkin dia bisa melarikan diri.

Lelah membuat para perempuan di bawah jembatan ini terkulai lemah. Kaki Kartika sudah terasa kebas setelah tercelup air dingin sekian lama. Kedua anak perempuan Nyi Akah tertidur di pangkuan ibunya; bahkan ketika tertidur keduanya masih terisak. Ibunya bersandar ke dinding tanah, namun matanya tetap terbuka. Malam telah berlalu lama, tapi mereka sama sekali tidak berniat keluar dari persembunyian mereka.

Malam itu, Kartika dan Nyi Akah sama sekali tidak tidur. Tubuh mereka sangat lelah, kantuk pun menyerang, tapi sedikit suara saja bisa langsung membuat mereka kembali terjaga.

Fajar menjelang tanpa adzan subuh.

Matahari menyingsing, membawa pagi yang janggal. Tidak biasanya kampung itu menyambut pagi dengan sesunyi ini. Tidak ada lagi suara langkah kaki manusia. Bahkan tidak ada suara kokok ayam sekalipun. Hanya gemericik air diikuti suara kicau burung.

Bagian bawah jembatan ini menghadap ke timur, membuat sinar matahari masuk dan menghangatkan tubuh-tubuh yang hampir mati kedinginan. Kartika mencoba menjemur kakinya yang kebas, tak lagi bisa merasa. Luka di kakinya ternyata cukup dalam, tapi tidak mengeluarkan darah. Mungkin dingin telah menghentikan pendarahannya.

Ketika sinar matahari mulai terasa terik, Kartika mencoba memberanikan diri untuk keluar. Nyi Akah tidak melarangnya, dia hanya kembali memeluk dua anak perempuannya. Kartika terpincang-pincang mencoba naik kembali ke jalan utama melalui semak belukar. Dari semak belukar, dia mencoba mengamati kampungnya. Sejauh pengamatannya, tidak ada manusia yang terlihat.

Butuh waktu beberapa saat bagi Kartika untuk mengumpulkan keberaniannya, sebelum dia keluar dari semak belukar itu dan mengendap-endap ke arah kampungnya. Kartika harus merangkak melewati pohon-pohon palawija untuk menyembunyikan dirinya; selain juga karena kaki kanannya juga mulai terasa sakit lagi.

Tidak lama, Kartika tiba di pintu dapurnya yang masih terbuka. Dia mengintip ke dalam rumah, takut jika ada seseorang yang asing di rumahnya. Setelah mengamati beberapa saat, Kartika pun masuk ke dalam rumah dan mendapati rumahnya kosong. Ibunya pun tidak ada di atas tempat tidur. Kecemasannya mulai memuncak, dia terus mencoba menyingkirkan kemungkinan terburuk dengan berdoa. Dia mengintip ke luar dari jendela rumahnya, separuh takut ditemukan oleh seorang gerombolan, dan separuh lagi berharap ada seseorang yang dikenalnya untuk membuatnya merasa lebih aman.

Di meja ruang tamu, masih ada sajian ubi yang direbusnya sore kemarin untuk hidangan para lelaki. Tiba-tiba Kartika menyadari bahwa dia sedang kelaparan. Dia mencuci tangan dan lututnya yang lecet dan penuh tanah sehabis merangkak dari arah sungai; lalu menghabiskan ubi sisa kemarin di ruang tamu. Kartika teringat dengan Nyi Akah dan kedua anaknya, mereka juga pasti sedang kelaparan. Dia menyisakan beberapa sisa makanan itu, lalu membungkusnya dengan kain.

Sebelum keluar, Kartika membalut lukanya terlebih dahulu; mengambil tongkat dan  memakai alas kaki. Dia pun melangkah keluar dengan penuh kewaspadaan.

Belum jauh Kartika melangkah, dia dikejutkan dengan noda-noda darah yang memanjang ke arah hutan, di sebelah barat kampungnya. Darah itu sudah menghitam, tapi di beberapa bagian masih membentuk kubangan darah segar di atas tanah yang gembur. Gambaran itu jelas bagi Kartika, ini adalah darah seseorang, dan dia menyeret dirinya, atau diseret oleh seorang lainnya, ke dalam hutan.

Ketakutan kembali menderanya. Bulu kuduknya berdiri. Walaupun matahari mulai terik menyinari tengkuknya, Kartika malah diselimuti hawa dingin. Lalu dengan keberanian yang berasal entah dari mana, Kartika mengikuti jejak darah itu. Ketakutannya saat itu bukan lagi tentang ditemukan oleh seseorang yang ingin membunuhnya, tapi ketakutan akan nasib suami, ayah, dan ibunya.

Jejak-jejak darah itu mulai bergabung dengan jejak darah yang lain, terus masuk ke dalam hutan, begitu pula Kartika, yang akal sehatnya tak lagi bisa diandalkan. Tidak jauh dari mulut hutan, Kartika tiba pada sebuah pemandangan yang tidak akan pernah bisa dilupakannya.

Puluhan mayat yang berantakan dihinggapi lalat-lalat hijau. Darah mereka berceceran. Bau darah tercium menyengat. Beberapa mayat masih meneteskan darah dari leher mereka yang hampir terputus.

Tidak butuh waktu lama bagi Kartika untuk melihat ayah, ibu, dan suaminya di sana. Mereka terbaring telungkup, tapi pakaian yang dipakai mereka sangat dikenalnya, walau bersimbah darah. Pakaian yang mereka pakai kemarin. Tubuh mereka tidak lagi elok dilihat. Perasaan yang mendera Kartika bukan lagi perasaan yang bisa dicerna manusia.

Kartika terduduk di bawah pohon puspa yang besar. Dia ingin meraih tubuh ibunya dan melihat wajahnya, tapi beberapa tubuh mayat menghalanginya.

Sebelum Kartika bisa meraih tubuh ibunya, dia dikagetkan dengan kedatangan seseorang lelaki yang muncul tiba-tiba. Dia datang dari arah hutan, membawa cangkul. Kakinya kotor oleh tanah. Dia sedang menggali lubang kubur, tapi tidak terlihat satupun lubang galian di sekitarnya. Kartika hanya menatap lelaki itu, dan lelaki itu balik menatapnya.

Rasa takut Kartika telah hilang; berganti pasrah. Jika Tuhan telah mengambil semua keluarganya, lebih baik Dia mengambil jiwanya juga saat itu. Jadi Kartika hanya duduk saja di atas tanah. Air matanya telah kering.

Lelaki itu tiba-tiba berlari menjauh… Dari kejauhan terdengar banyak langkah kaki. Para tentara telah kembali, tapi Kartika tidak tahu lagi apa yang terjadi di sisa hari itu.

***

Hari-hari berikutnya dia habiskan di pengungsian, tanpa berkata-kata. Nyi Akah dan kedua anaknya terus menemani Kartika; mencoba membujuknya makan dan mengajaknya bicara.

Ingatan-ingatan di pengungsian ini juga sudah hampir terhapus dari memori Kartika; dia tidak ingat jelas apa yang terjadi di masa-masa itu, berapa lama dia di sana, dan apa saja yang dilakukannya. Tapi ada satu momen yang tidak pernah dilupakan Kartika. Yaitu, ketika Asih dan Ibunya pulang; hanya untuk melihat kampung mereka telah dikosongkan.

Ketika bertemu di pengungsian, Asih dan keluarganya sama sekali tidak bicara dengan Kartika, entah karena canggung, atau karena Kartika memang berhenti bicara, atau karena memang masih memendam benci. Saat itu, Kartika yakin dengan alasan yang terakhir.

Hari itu, Kartika dibawa Nyi Akah untuk membantu menyiapkan makanan bagi para lelaki yang saat itu terus bertarung melawan gerombolan. Di dapur umum, Kartika sempat mendengar wanita lain bergosip tentang dirinya. Bahwa dia ditemukan oleh para tentara bersama puluhan mayat di dalam hutan; bahwa pasti para gerombolan telah memperkosanya sepanjang malam.

Gosip itu dibenarkan oleh para tentara, yang memang membutuhkan alasan untuk terus menumbuhkan kebencian dari masyarakat kepada para gerombolan. Hal itu membuat Nyi Akah murka; tapi tidak berhasil membuat Kartika bicara.

Murka Nyi Akah memuncak malam itu, ketika keluarga Asih dari Sumedang datang. Malam itu, mereka berkumpul membicarakan banyak hal, termasuk gosip bahwa Kartika telah diperkosa para gerombolan. Tapi bukan itu yang membuat Kartika mengingat jelas momen malam itu.

Malam itu, keluarga Asih membicarakan hal yang bahkan berhasil membuat Kartika muak: pembagian warisan harta ayahnya. Yang diingat Kartika adalah, ketika pembicaraan beralih ke pembagian harta dan tanah-tanah ayahnya kepada anak perempuan, Asih dengan lantang berkata, “Urang mah teu boga adi.” (“Aku ini tidak punya adik.”)

Kartika meninggalkan pengungsian malam itu, ditemani oleh Nyi Akah dan kedua putrinya. Dia sama sekali tidak menginginkan harta ayahnya. Keluarga Asih bisa mengambil semuanya jika dia menginginkannya. Malam itu adalah saat terakhir Kartika melihat Asih. Dia bahkan tidak pernah lagi mendengar kabar darinya.

Nyi Akah membawa Kartika ke Tasikmalaya, menemui keluarganya. Dia juga meninggalkan kampungnya, bersama kenangan akan suaminya yang juga tewas malam itu. Di Tasikmalaya, Kartika kembali merajut cerita nasib hidupnya dengan lembaran baru dan memulai cerita lainnya.

Memori kelam ini telah sangat lama terpendam dan tak pernah diceritakan kepada siapapun. Kartika ingin melupakannya, dan memang sudah. Dia tidak ingat lagi kapan tepatnya cerita ini terjadi, mungkin tahun 50an, ketika pasukan gerombolan itu merajalela. Dia juga tidak ingat lagi hiruk pikuk gerombolan ini, terlebih karena dia memang tidak mengerti. Gerombolan yang mempunyai nama-nama islam, seperti Darul Islam, Sabilillah, atau Tentara Islam ini malah membunuh ayahnya. Kartika ingat betul adegan terakhir ayahnya sedang berdzikir di ruang tamu. Orang islam mana yang tega menghabisi saudaranya sendiri yang giat berdzikir. Dia tidak pernah mengerti.

Kartika juga tidak merasa harus mengerti. Saat-saat buruk itu telah lama usai. Kini dia memiliki keluarga yang menyayanginya, dan hidup dalam kehangatan keluarganya. Itu sudah jauh lebih dari cukup baginya untuk mensyukuri hidup yang diberikan Tuhan.

Hanya saja, tidak pernah terbayang dalam benaknya bahwa seseorang akan mampu menguak kembali cerita lama ini dalam sekejap saja.

———————————–

Siang itu, Kartika bersiap untuk kembali menemui Asih. Ditemani anak perempuannya, Nurhayati, dan cucunya yang paling besar, Subhan. Mereka setuju untuk naik mobil sedan Agus menuju rumahnya di Sukaregang. Di perjalanan, Agus mencoba bercerita dengan riang bahwa kini dia memiliki usaha kerajinan kulit yang cukup sukses. Walaupun demikian, suasana murung masih terasa di dalam mobil itu.

Di benak mereka terbayang seorang nenek tua yang sedang sakit parah. Agus juga menderita melihat ibunya yang harus menderita seperti itu di akhir hayatnya. Dia bahkan sudah melarang anak-anaknya untuk berkunjung ke rumah nenek mereka. Tidak tega dia membuat anaknya mendengar jeritan-jeritan nenek mereka kesakitan.

Mereka tiba di halaman rumah yang cukup besar. Terparkir dua mobil minibus lain di halaman rumah ini. Agus membawa mereka masuk, langsung ke kamar Asih. Kamarnya lembap juga sesak oleh bau antiseptik dan obat-obatan.

Asih terbaring tak berdaya. Sekilas Kartika tidak mengenalnya. Keriput dan rambut putih yang jarang tidak bisa sesuai dengan memori tentang seorang gadis yang dulu tinggal serumah dengannya. Asih mengulurkan tangannya menyambut ingin memeluknya, tapi Kartika hanya memegang tangannya saja. Ada kecanggungan diantara keduanya.

Asih segera terisak, “hampura nyai…” (“mohon maaf nyai”).

Kartika memberinya senyum dan menenangkannya. “teu kunaon, ulah dipikiran…” (“tidak apa, jangan dipikirkan…”) ujarnya tercekat. “pasti dihapunten… hapunten oge Ika seueur lepat…” (“pasti dimaafkan… mohon dimaafkan juga Ika punya banyak salah.”)

Para penonton di ruangan itu mulai digenangi air mata. Nurhayati, anak dari Kartika, keluar lebih dulu; tidak tega melihat adegan sedih itu; kemudian dia diikuti oleh Subhan.

Tidak lama kemudian, mereka yang masih sehat berkumpul dengan keluarga Agus di ruang tengah, berbicara ngalor ngidul tentang kerajinan kulit. Agus berjanji akan membawa Subhan ke pabrik kulitnya, setelah mengetahui bahwa Subhan adalah seorang lulusan teknik mesin yang menguasai proses manufaktur. Subhan terlihat sangat senang. Kartika hanya termenung, kini diusap-usap punggungnya oleh Nurhayati.

Ketika para tamu akan pamit pulang, Asih memanggil Kartika. Kartika pun segera kembali ke kamar Asih ditemani Agus. Asih terlihat sangat kesakitan, tapi kemudian dia terus menyuruh Kartika mendekat. Asih tidak bisa berkata-kata lagi karena menahan sakit. Kartika mendekati Asih dan membisikkan kalimat talqin, “Laa Ilaaha Illallaah.”

Kalimat itu diikuti Asih dengan menyunggingkan senyum.

Kartika tidak jadi pulang sore itu; malah kakaknya yang mendahuluinya pulang.

Fajrin Yusuf M.
Garut, 2017.

Cerpen yang kepanjangan ini terinspirasi dari cerita nyata nenek saya dulu waktu zaman gerombolan. Nenek saya punya banyak cerita menarik sepanjang hidupnya. Kalau ada waktu nanti saya teruskan cerita-cerita selanjutnya dari nenek Kartika, yang juga pernah muda seperti kita. 🙂




 

Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

3 Comments

  • Yuli Hasmaliah

    May 5, 2017 at 10:42 am Reply

    • Pesan/moral cerita cerpen yang kepanjangan bisa mudah dicerna dengan dukungan penggunaan sudut padang yg pas (orang ketiga yg tidak terbatas) dan keahlian diksi penulis.
    • Twist ending dan anti klimaksnya lebih dikuatin, karena kalo menurut saya mah asa gampang ketebak, agak gantung dan kurang greget menggemazkan gimana gitu (tapi suka sekali pas bagian klimaks nya saat alurnya balik ke masa pemberontakan itu, jadi inget karyanya Ahmad Tohari, buat saya mah agak thriller dan deg-degan abiz!)
    • Alur maju mundur yg digunain bisa jadi senjata buat memanjangkan cerita kehidupan Kartika dan bisa untuk disusun jadi novel atau mungkin kalo penulis bersemangat bisa juga jadi roman keknya. ya namanya juga ada harapan dibalik sebuah komenan pembaca yg jadinya malah penasaran dengan keseluruhan kisah hidup dan move on nya Kartika dari Dio yang pernah mengisi relung hatinya, ea.
    • Proporsi antara narasi dengan dialog yg gak terlalu banyak (kayaknya 90:10 ya?) cocok dan memudahkan pembaca yg narasi addict untuk merasa-menghayati-terlibat, tapi bisa berlaku sebaliknya bagi pembaca yg lebih ke dialog addict. Gitu sih kayaknya,
    Ya pokoknya mah lanjutkan lah nya!

    ps: saya kurang sreg sama tag ‘Cerita Kartika Pertama’, kalo cerpen kepanjangan ini kayaknya mending ga pake itu, cukup pakai pemisah/penanda akhir paragraf tea, biar ngalir aja gitu rasanya. Pas baca tagline itu teh kirain saya mah itu judul bab baru yg diikuti dengan bab lainnya, nyatanya bukan, saya jadi ngerasa terdistraksi (dan nagih bab yg lainnya​). Ya seperti itu lah kicauan suara dari pembaca yg masih banyak harus belajar.

    • kangfajrin

      May 5, 2017 at 12:14 pm Reply

      Terimakasih saudari Yuli, sudah berkenan membaca, serta memberi kritik dan saran yang membangun. 🙂

      Tadinya memang cerita-cerita Kartika ini mau dibikin Novel. Cuman, karena ga pede bakal ada penerbit yang mau nerbitin, jadi aja diterbitin di blog ini. Dipotong dulu segini, sebagai bagian pertama, jadilah cerpen yang kepanjangan.
      Jadi mengapa ada bagian “Cerita Pertama Kartika”, itu karena bakal ada cerita kedua, ketiga, dan seterusnya; sebagai struktur Novel yang tadinya mau dibuat. Mungkin nanti bisa jadi Novel kalau sudah selesai ditulis semua. Hanya saja, yah, sepertinya ini tidak akan jadi Novel. Paling jadi cerpanbung (cerita panjang bersambung) di blog yang sederhana ini.

      • Yuli Hasmaliah

        May 5, 2017 at 1:19 pm Reply

        Okesyip!
        Semoga segera rilis untuk kelanjutan cerpanbung based on true story-nya.

Post a Comment