Siti Pergi Sekolah

Siti mengurung diri di kamarnya sejak sepulang sekolah, menangis hingga tertidur.

Sebenarnya Siti pulang dengan kabar gembira, bahwa bulan depan sekolahnya akan mengadakan kegiatan study tour ke Dufan khusus untuk kelas 8. Girang tak karuan, Siti membayangkan perjalanan menyenangkan bersama teman geng riweuh-nya. Bahkan mungkin bisa mencuri satu dua kesempatan untuk lebih intens mengirim kode-kode kepada cowok gebetannya, Arif, si ganteng kalem dari kampung sebelah.

Tapi satu kalimat dari Ibunya berhasil mengubah mood Siti dari yang tadinya puja-puji syurgawi menjadi sumpah serapah jahanam. “Naon atuh ngiluan nu kararitu, euweuh duitna ge timana…”, kata Ibunya tanpa tedeng aling-aling, bahkan tanpa memalingkan pandangannya dari piring-piring yang sedang dia cuci.Continue Reading

Autoimun

Bila-bila pikiran meraga,
cacat selalu aku dibuatnya,
sehat dan sakit jadi abu-abu,
imun tak lagi pandang bulu.

Pikiran meraga singa, tumpul dibuat taringnya.
Pikiran meraga kuda, pendek dibuat nafasnya.
Pikiran meraga manusia, hampa dibuat hatinya.

Berusaha meraga surga, tapi tetap tidak sempurna juga…

Kawan lama pergi kemarin,
meraga gentar dalam jiwa-jiwa, setelah cekam dera duka mereda.

Kawan baru datang hari ini,
sayang bila-bila manis membentuk, kecut lidah pengecut terus mengutuk.

Syaraf yang sehat mati dibunuh oleh impuls-nya, seperti sains tak berdaya melawan statistik yang menyerang dirinya sendiri.

Fajrin Yusuf M
Garut, 2 September 2017
 

just wasted 3 hours of my time to make this so-called poems. I need a life. wkwkwk. 



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Sendiri Dalam Kabut

Demi masa. Sungguh kita tersesat.

Sebagian tidak merasa demikian, sebagian tidak peduli. Menganggap kemana itu tidak sepenting bagaimana. Akhir yang jelas hanya mati. Mari fokus pada masanya agar anak kita mati dengan lebih baik dari kita. Omong kosong.

Menjalani hidup ini seperti mengendarai mobil menembus kabut tebal masa depan. Berbelok hanya ketika belokan terlihat. Melaju lurus sambil waswas bila ternyata jurang di hadapan. Berhenti tuk istirahat saja. Memacu jika sedang tersibak saja. Selebihnya, hanya putih halimun dan garis tengah jalan yang menuntun.

Terkadang ada penunjuk jalan. Terkadang tidak ada. Terkadang terlewati karena kecepatan dan ketiba-tibaan. Tapi penunjuk jalan adalah benda mati, dan kamu hidup, masih dengan memilih. Apa gunanya penunjuk jalan, jika kemana itu sama saja? Istrimu bertanya, “pah kita ini mau kemana?”, kamu menjawab, “kita nikmati saja kabut ini sayang.”, hingga bosan kamu penasaran atau cedera didera-dera putihnya.

Padahal tidak ada gunanya melihat spion belakang.

Bagaimanapun semuanya terus melaju. Tidak ada guna dan kenikmatannya juga diam berlama-lama dalam kabut. Sementara ada bayangan dan harapan akan tempat-tempat indah di pelbagai tujuan. Sementara ada bayangan kesenangan perjalanan itu sendiri. Yakni kebahagiaan mengisi kursi-kursi dengan kawan dan anak istri. Alih-alih radio, ada merdu suara tangis anakmu. Alih-alih lirik, ada tawa kawan-kawanmu yang asyik.

Kita tak punya alasan untuk berhenti. Sementara ketersesatan juga semakin tak berarti.

Tapi setidaknya bagiku, yang setiap hari hanya menyetel radio dan lirik-lirik, dan terlalu banyak berhenti untuk melamun di halaman perpustakaan, semua ini semakin menuntut untuk diartikan. Aku mulai merasa bahwa ini semua adalah sebuah permainan Maha Besar dan aku tahu aku tidak akan pernah menang. Tidak, selama sains tak bisa menginterogasi yang sudah mati.

Terkadang, aku ingin seperti Ibrahim. Alaihissalam. Yang menemukan Tuhan dengan mengamati dan mempertanyakan. Dengan melihat langit, di malam dan siang tanpa kabut, lalu mempertanyakan jalannya.

Arinii kaifa tuhyil mautaa? Tunjukkan padaku bagaimana cara-Mu menghidupkan yang mati? Kata Ibrahim.

Awalam tu’min? Apakah kamu belum beriman? Jawab-Nya.

Balaa, walaakin liyathmainna qalbii. Bukan, tapi hanya untuk meyakinkan hatiku.

Oh, aku juga ingin meyakinkan hatiku. Agar bisa melaju kencang dijalan yang lurus walau kabut menghadang. Walau belokan-belokan merayu dengan berbagai permainan. Sementara jiwa kita memang diciptakan sebagai homo ludens; si tukang main, yang mudah sekali terjerumus jadi tukang main-main.

Aku memang ingin seperti Ibrahim. Alaihissalam. Yang menemukan keyakinannya dengan jawaban, bukan dengan warisan, atau lebih buruk, dengan membunuh ketidak-yakinan melalui jalan kebodohan dan pengabaian.

Tapi toh aku juga tak akan sanggup dibakar hidup-hidup.

Aku terlalu sering berhenti. Terlalu banyak keraguan dan rasa penasaran. Tidak punya kawan yang berceloteh di bangku depan, hanya untuk mengendurkan rasa-rasa. Terlalu segan tuk minta ditemani, terlalu gengsi tuk mengakui rendahnya harga diri. Sementara lirik-lirik terus berulang, tentang hidup yang hanya menunda kekalahan.

Kecuali bagi mereka yang percaya, dan berbuat baik, dan saling tolong menolong dalam kebenaran dan kesabaran.

Fajrin Yusuf M.
Garut, 21 Agustus 2017 

 


SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Vocalizing

Salah satu tulisan dikala senggang… prosa berjudul vocalizing, yang bisa berarti macem-macem. Tapi yang paling bikin saya inget adalah humming-nya Gita Gutawa dalam lagu dengan judul yang sama, vocalizing, yang jadi soundtrack film Malaysia berjudul “Sepi”. Film yang juga terkenal di negeri Jiran sana. Itu dulu sekali, ketika saya masih bulak-balik Bandung-Garut, bermotor sendiri sambil mendengarkan lagu-lagu random… Dulu sekali ketika neng Gita Gutawa masih terlihat lugu, dengan lagu-lagu seperti Kembang Perawan, Apa Kata Bintang, atau Yang Terbaik Bagimu, feat Ada Band. What a voice you had…

*** 

Vocalizing

Continue Reading

Anak Juni

Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono itu laku juga ya… jadi kepingin bikin puisi tentang juni, tentang anak-anak juni, dan kelebayan diri yang sedang minta dimasak matang-matang dan disajikan di blog reyot ini. Silakan dicerna  🙂

Anak Juni

Demi bulan selama lefa,
dan sekoci yang melayang jauh dari induknya.

Aku bersaksi,
Bahwa Juni adalah negeri paling romantis,
di sini, hujan saja ditenun jadi puisi,
angin ditenggala pula jadi sajak.

Continue Reading

Cerita-cerita Kartika

Cerita-cerita Kartika
oleh: Fajrin Yusuf M.

Namanya Kartika dan dia sudah melihat dunia… Setidaknya, sudah cukup baginya…

Menjadi tua itu pasti terasa aneh; seperti semakin terasing di rumah yang sudah ditinggali puluhan tahun lamanya. Mungkin perasaan terasing itulah yang lambat laun mengikis ingatan. Yah, sekarang ini Kartika sering sekali melupakan banyak hal.

Sebulan yang lalu ada seorang teman yang datang berkunjung; bertanya kabar. Kartika sudah lupa namanya, walau sekilas wajahnya tidak asing. Sang tamu bertanya tentang “teman-teman kita yang masih ada”. Kartika bahkan sudah lupa kalau dia punya teman-teman.

Satu hal penting yang akan selalu ku ingat adalah keluargaku.”, begitu pikir Kartika riang pagi ini, ketika dia ikut membantu memandikan seorang bayi perempuan yang lucu; anak dari cucunya…

Ya, Kartika sudah setua itu…

Continue Reading

Sajak Sunda

Akhirnya bisa bikin sajak sunda sendiri. Walaupun asli sunda, tapi untuk ngerti bahasa sunda itu sulit sekali, terutama kosakata yang udah lama tidak dipakai secara umum. Jangankan buat sajak sunda, buat ngobrol sehari-hari saja udah terkikis. Jadi, ya alhamdulillah bisa bikin sajak sunda punya sendiri.

Balébat
Simkuring borojol mayunan panon poé,
Ibun tikukurubun, taya hawar-hawar bakal turun halimun,
Langit raresik, leuweung lalindeuk.

Hayam jalu patinggorowok,
Barudak digeuing ku ramana, “ibak jang, geura sakola!”

Sing awas kana tincakan, omat,
Niti wanci nu mustari, ninggal mangsa nu sampurna,
émut-émut éta amanat.

Naha ari simkuring borojol bet mayunan panon poé?

Wanci rumangsang, kuring rumingkang,
Lingsir ngulon, asa moal kantos kawon,
Kembang mayang, teu sugan kabayang,
Dugi ka beureumna papayung Agung, wanci sariak layung,

Nyérélék teu karasa, jug tos sareupna,
Ngoléhék teu kawasa,  tumiba qodo qodarna,

Ieu aya liang dina mastaka,
Naha nu nyeri bet haténa?

Ditukangeun simkuring, panon poé ngahariring,
duh, deudeuh teuing anaking… cik teuteup simkuring,
naha ceuk hidep kuring teu muntang sangkan bisa éling?

Sareupna
Basa panon poé harita,
nyuhunkeun kareugreug Nu Maha Kawasa,

Undur, bade surup saurna.

Sok rasrasan keueung ari wanci sareupna,
Sok émut carita-carita baheula,
Nu matak ngocor cisoca,
Nu matak tara kiat nyakseni hieum na,

Harita,
Basa panglima garombolan diliangan waruga na,
Basa putri Citraresmi teu balik deui ka lemah cai,
Basa simkuring miang tina getih pun biang,
Basa manusa leungit kamanusanna.

“Tos mangsana”, saur pun rama,
siga panon poé nu teu pupuntangan,
jug mulih ka handapeun eurih di palih wetan.

Undur, bade sirna saurna.

Kitu ogé urang sadaya,
Taya pamuntangan iwal ti Nu Maha Kawasa.

—Kang Fajrin (2017)

Sundanese don’t write history, we write poems instead! haha… Nanti saya coba bikin translate sajak sunda ini yah. 🙂



*******

Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Sky Dining di Parallel Universe

Senin sore, seperti biasa Sena menolak untuk lembur. Hari lainnya boleh lembur, tapi tidak hari senin. Hari senin adalah jadwalnya dia pergi melamun di tempat melamun favoritnya, Sky Dining Plaza Semanggi.

Mengapa hari senin? dan mengapa Sky Dining Plaza Semanggi?

Sky Dining Plaza Semanggi itu sepi di Senin sore. Orang sudah berfoya-foya di tempat ini Sabtu Minggu sebelumnya, jadi ngga bakal banyak orang yang mengunjungi tempat ini di Senin sore. Lagi pula kalau pun tidak ada lembur, hari Selasa sore itu jadwalnya treadmill di fasilitas gym kantor, Rabu surfing internet sambil nunggu manga keluar, kamis baca novel di Zoe, dan Jumat itu futsal kantor rutin lanjut makan-makan bareng bawahan.

Sedangkan untuk mengapa di Sky Dining Plaza Semanggi? tentu karena pertama, dekat dengan kantor jadi tinggal jalan saja, ga mesti berdesakan di busway, dan yang kedua, tempat ini mungkin salah satu tempat paling nyaman untuk ngelamun, terutama di Senin sore. Tempat yang katanya, Sky Dining paling tinggi di Jakarta ini juga harganya standar dengan kafe-kafe yang ada di bawah.

Sena biasa memilih bangku paling luar agar dia bisa melamun sembari memandangi gedung kembar kantornya yang tinggi, kemacetan Jakarta, lampu-lampu kota yang menyambut gelap malam, dan panorama matahari tenggelam di ujung barat horizon. Sena sudah cukup akrab dengan para pegawai kafe di sana, karena selalu muncul di Senin sore, memesan Pisang Keju dan Lemon Tea, dan mengajak bicara si pengantar.

Hari ini juga dia datang. Lesu seperti biasa, tapi langsung memberi senyum jika disapa. “Seperti biasa pak?”, ujar salah seorang pegawai yang terlihat masih sangat muda. “Ya, Pisang Keju sama Lemon Tea ya…”, jawabnya seriang mungkin. Kafe hanya diisi oleh sekelompok bapak-bapak dengan percakapan khas kaum elit. Bangku paling luar selalu kosong, karena anginnya disana cukup kencang.

Jam masih menunjuk ke angka lima. Gedung-gedung tinggi terasa elok diselimuti cahaya senja, tapi di dasar sana, manusia sedang berbagi keringat dan saling mencekik dengan knalpot mereka…

***

“Tempat ini nyaman, tapi nuansanya bener-bener getir…”, bilangnya pada teman sekantor yang membawanya ke tempat ini pertama kali, “cocok untuk ngelamun, tapi lamunan yang sedih-sedih…”.

Temannya tidak bicara banyak, hanya tertawa sambil bilang, “itu berarti lo suka banget tempat ini.”

Ya, begitulah cerita awalnya.

Memang, terpaan angin disini selalu bisa membuat Sena kembali mencium aroma memori pahit di masa lalu. Tapi kini, tidak ada lagi pikiran-pikiran tentang ketidak-adilan itu. Tidak ada lagi keluhan tentang Jakarta. Tagihan tidak lagi mengusik. Konflik kantor sudah biasa. Cinta-cinta yang gagal sudah jadi gurauan di meja makan. Tidak ada lagi lamunan tentang dunia, sejak dunia luar hanya bisa diakses via cuti…

Pikiran-pikiran getir itu sudah lama memudar dan hilang. Kini hanya ada damai yang sunyi dan sederhana. Bukan tanpa cela, ya, memang tak sempurna, tapi penuh dan lebih dari cukup. Syukur kembali ia panjatkan.

Sena cepat menghabiskan minumannya karena langit mulai mendung. Hanya satu pertanyaan dalam pikirannya yang belum terjawab, “kalaulah dulu aku memilih jalan hidup yang lain, akankah hidupku jadi lebih baik?”

Fajrin Yusuf M,
Jakarta, 28 Desember 2013

*******


Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Merayau

Lesus,

Biduk tiris menanti karam,
di pusara segara.

Lalu kamu,
Tarian canting di atas kain,
di sentra tresna.

Lalu kita,
Merayau benang takdir,
di masa yang belum tiba.

F,
Garut, 21 Januari 2017

*******


Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂