Rasanya Hidup di Daerah Paling Rawan Bencana di Dunia

Indonesia adalah salah satu negara paling rawan bencana di Dunia. Kata pak Sutopo, dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia itu peringkat tertinggi dunia untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, dan letusan gunung berapi. Indonesia juga ada di peringkat tiga untuk ancaman gempa, dan peringkat keenam untuk bahaya banjir. Jadi tentulah Indonesia ada di salah satu peringkat tertinggi negara yang paling rawan terkena bencana. Menjadi orang Indonesia berarti harus siap berkelindan dengan peristiwa bencana.

Tapi Indonesia kan luas? ngga semua daerah di Indonesia rawan bencana dong!

Continue Reading

Share

Privatisasi Taman Wisata Alam, Siapa Untung?

Privatisasi Taman Wisata Alam, Siapa Untung?
Studi Kasus Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan

Talagabodas pun akan jatuh ke tangan swasta. Lalu pribumi, sekali lagi, tersingkir…

Begitu kata seorang teman saya ketika terdengar kabar bahwa Talagabodas pun akan terkena privatisasi kawasan konservasi. Kecemasan teman saya bertambah ketika melihat selembar surat edaran tentang sosialisasi kegiatan pengusahaan wisata alam TWA Talagabodas pada pertengahan Maret kemarin. Mungkin memang wajar, teman saya, seorang pribumi asal Wanaraja, merasa resah atas kedatangan orang asing yang seolah akan menginvasi. Seresah Iwan Fals dalam lagunya “Ujung Aspal Pondok Gede”, hehehe…

Continue Reading

Share

Sajak Sunda

Akhirnya bisa bikin sajak sunda sendiri. Walaupun asli sunda, tapi untuk ngerti bahasa sunda itu sulit sekali, terutama kosakata yang udah lama tidak dipakai secara umum. Jangankan buat sajak sunda, buat ngobrol sehari-hari saja udah terkikis. Jadi, ya alhamdulillah bisa bikin sajak sunda punya sendiri.

Balébat
Simkuring borojol mayunan panon poé,
Ibun tikukurubun, taya hawar-hawar bakal turun halimun,
Langit raresik, leuweung lalindeuk.

Hayam jalu patinggorowok,
Barudak digeuing ku ramana, “ibak jang, geura sakola!”

Sing awas kana tincakan, omat,
Niti wanci nu mustari, ninggal mangsa nu sampurna,
émut-émut éta amanat.

Naha ari simkuring borojol bet mayunan panon poé?

Wanci rumangsang, kuring rumingkang,
Lingsir ngulon, asa moal kantos kawon,
Kembang mayang, teu sugan kabayang,
Dugi ka beureumna papayung Agung, wanci sariak layung,

Nyérélék teu karasa, jug tos sareupna,
Ngoléhék teu kawasa,  tumiba qodo qodarna,

Ieu aya liang dina mastaka,
Naha nu nyeri bet haténa?

Ditukangeun simkuring, panon poé ngahariring,
duh, deudeuh teuing anaking… cik teuteup simkuring,
naha ceuk hidep kuring teu muntang sangkan bisa éling?

Sareupna
Basa panon poé harita,
nyuhunkeun kareugreug Nu Maha Kawasa,

Undur, bade surup saurna.

Sok rasrasan keueung ari wanci sareupna,
Sok émut carita-carita baheula,
Nu matak ngocor cisoca,
Nu matak tara kiat nyakseni hieum na,

Harita,
Basa panglima garombolan diliangan waruga na,
Basa putri Citraresmi teu balik deui ka lemah cai,
Basa simkuring miang tina getih pun biang,
Basa manusa leungit kamanusanna.

“Tos mangsana”, saur pun rama,
siga panon poé nu teu pupuntangan,
jug mulih ka handapeun eurih di palih wetan.

Undur, bade sirna saurna.

Kitu ogé urang sadaya,
Taya pamuntangan iwal ti Nu Maha Kawasa.

—Kang Fajrin (2017)

Sundanese don’t write history, we write poems instead! haha… Nanti saya coba bikin translate sajak sunda ini yah. 🙂



*******

Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Refleksi

Refleksi,
Fajrin Yusuf M. 2017

Dulu, Mahatma Gandhi pernah didatangi oleh seorang Ibu beserta anaknya yang masih kecil. Sang Ibu hendak meminta Gandhi untuk menasehati anaknya yang terlalu sering makan permen. Diperlihatkan oleh sang Ibu rusaknya gigi anaknya akibat dari permen-permen tersebut. Gandhi pun sedikit merenung, melihat deretan gigi sang anak yang sudah rusak.

Continue Reading

Share

Cisompet (bagian I)

Desa Margamulya, Kecamatan Cisompet, Januari 2017

When some people fight for power, glory, and wealth, some other people only wish for a bridge…

Sungai ini memisahkan dua dusun terpencil di Garut Selatan. Untuk mencapai titik ini, saya harus mati-matian mengendarai motor di jalan berbatu sejauh 13 km dari jalan raya di Neglasari, Cisompet. Dibeberapa titik, jalan ini memiliki kemiringan yang sangat curam dan berbahaya.

Continue Reading

Share

Nyamuk-Nyamuk di Depan Stasiun Kota Baru Malang

Stasiun Kota Baru Malang.

Kata kakak saya, hanya nyamuk perempuan yang menggigit manusia. Itupun bukan karena lapar, tapi karena para nyamuk perempuan membutuhkan protein dalam darah manusia untuk meneruskan keturunannya. Atas alasan itulah, kakak saya membiarkan para nyamuk di kamar kostnya untuk menggigitinya setiap malam. Selain juga agar beliau bisa menyombongkan dirinya; hei saya setiap malam dikerubungi wanita loh…

nyamuk wanita.

Continue Reading

Share

Rinjani, 20-24 Agustus 2016

Naik gunung dulu seringkali disertai urgensi untuk menyingkir dari keriuhan manusia; mencari tempat sejati diantara pepohonan; mendekat ke langit tanpa meninggalkan bumi; membekukan cinta akan kehangatan dunia; dan hal-hal melankolis semacam itu.

“Nyatanya sekarang naik gunung sudah jadi lifestyle saja; kegiatan turistik biasa.”, begitu kata seorang teman saya.

Hmm, mungkin saja sih. Toh, semakin tua, sepertinya kadar kelabilan emosi kita semakin menurun. Semakin banyak pengalaman pahit, kita pun semakin dewasa, semakin stabil. Mungkin begitu. Semakin dewasa, kita semakin malas untuk “mencabut Semeru hingga ke akarnya”. Yah, lagipula untuk apa?

Semakin dewasa, hidup kita sendiri sepertinya sudah mengakar. Jangankan mencabut Semeru dari akarnya, mencabut akar hidup kita pun sulit. Begitupula dengan naik gunung. Kegiatan yang dulunya hanya berlandaskan kelabilan emosi, kini sepertinya sudah mengakar saja bagi saya…

***

Catatan Pendakian Rinjani. 20-24 Agustus 2016. Fajrin, Gege, Nasrul.

Hari Pertama: Jakarta – Sembalun

Continue Reading

Share

How many things are we missing as we rush through life?

Hari itu, Jum’at, 12 Januari 2007, pagi pukul 07.51, di Metro Station, Washington D.C., tempat berlalu lalangnya para eksekutif menuju tempat kerjanya, seorang pria muda bermain biola di samping tempat sampah, dengan tas biola terbuka di depannya.

Dengan celana jins, kaos lengan panjang, dan topi baseball-nya dia mulai memainkan biolanya. Well, tidak ada yang aneh, kita di Indonesia menamai mereka pengamen.

45 menit kemudian, enam lagu telah dia selesaikan. Selama waktu itu, 7 orang berhenti dan mendengarkan selama beberapa saat kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantornya, 27 orang memberi uang, beberapa bahkan tidak berhenti untuk mendengarkan, dan total ada 1070 orang sibuk yang melewati sang pria.

Setelah selesai, tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang bertepuk tangan…

Tidak ada yang tahu bahwa si pemain biola adalah Joshua Bell, salah satu violinis paling hebat di dunia saat ini. Dia memainkan enam karya masterpiece paling brilian yang pernah dibuat manusia*, memakai biola Stradivarius seharga 3.5 juta US dollar yang dibuat langsung oleh tangannya Antonio Stradivari di tahun 1713.

Continue Reading

Share

Sky Dining di Parallel Universe

Senin sore, seperti biasa Sena menolak untuk lembur. Hari lainnya boleh lembur, tapi tidak hari senin. Hari senin adalah jadwalnya dia pergi melamun di tempat melamun favoritnya, Sky Dining Plaza Semanggi.

Mengapa hari senin? dan mengapa Sky Dining Plaza Semanggi?

Sky Dining Plaza Semanggi itu sepi di Senin sore. Orang sudah berfoya-foya di tempat ini Sabtu Minggu sebelumnya, jadi ngga bakal banyak orang yang mengunjungi tempat ini di Senin sore. Lagi pula kalau pun tidak ada lembur, hari Selasa sore itu jadwalnya treadmill di fasilitas gym kantor, Rabu surfing internet sambil nunggu manga keluar, kamis baca novel di Zoe, dan Jumat itu futsal kantor rutin lanjut makan-makan bareng bawahan.

Sedangkan untuk mengapa di Sky Dining Plaza Semanggi? tentu karena pertama, dekat dengan kantor jadi tinggal jalan saja, ga mesti berdesakan di busway, dan yang kedua, tempat ini mungkin salah satu tempat paling nyaman untuk ngelamun, terutama di Senin sore. Tempat yang katanya, Sky Dining paling tinggi di Jakarta ini juga harganya standar dengan kafe-kafe yang ada di bawah.

Sena biasa memilih bangku paling luar agar dia bisa melamun sembari memandangi gedung kembar kantornya yang tinggi, kemacetan Jakarta, lampu-lampu kota yang menyambut gelap malam, dan panorama matahari tenggelam di ujung barat horizon. Sena sudah cukup akrab dengan para pegawai kafe di sana, karena selalu muncul di Senin sore, memesan Pisang Keju dan Lemon Tea, dan mengajak bicara si pengantar.

Hari ini juga dia datang. Lesu seperti biasa, tapi langsung memberi senyum jika disapa. “Seperti biasa pak?”, ujar salah seorang pegawai yang terlihat masih sangat muda. “Ya, Pisang Keju sama Lemon Tea ya…”, jawabnya seriang mungkin. Kafe hanya diisi oleh sekelompok bapak-bapak dengan percakapan khas kaum elit. Bangku paling luar selalu kosong, karena anginnya disana cukup kencang.

Jam masih menunjuk ke angka lima. Gedung-gedung tinggi terasa elok diselimuti cahaya senja, tapi di dasar sana, manusia sedang berbagi keringat dan saling mencekik dengan knalpot mereka…

***

“Tempat ini nyaman, tapi nuansanya bener-bener getir…”, bilangnya pada teman sekantor yang membawanya ke tempat ini pertama kali, “cocok untuk ngelamun, tapi lamunan yang sedih-sedih…”.

Temannya tidak bicara banyak, hanya tertawa sambil bilang, “itu berarti lo suka banget tempat ini.”

Ya, begitulah cerita awalnya.

Memang, terpaan angin disini selalu bisa membuat Sena kembali mencium aroma memori pahit di masa lalu. Tapi kini, tidak ada lagi pikiran-pikiran tentang ketidak-adilan itu. Tidak ada lagi keluhan tentang Jakarta. Tagihan tidak lagi mengusik. Konflik kantor sudah biasa. Cinta-cinta yang gagal sudah jadi gurauan di meja makan. Tidak ada lagi lamunan tentang dunia, sejak dunia luar hanya bisa diakses via cuti…

Pikiran-pikiran getir itu sudah lama memudar dan hilang. Kini hanya ada damai yang sunyi dan sederhana. Bukan tanpa cela, ya, memang tak sempurna, tapi penuh dan lebih dari cukup. Syukur kembali ia panjatkan.

Sena cepat menghabiskan minumannya karena langit mulai mendung. Hanya satu pertanyaan dalam pikirannya yang belum terjawab, “kalaulah dulu aku memilih jalan hidup yang lain, akankah hidupku jadi lebih baik?”

Fajrin Yusuf M,
Jakarta, 28 Desember 2013

*******


Suka dengan tulisan saya?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share