Sains vs Agama

Sains vs Agama
Fajrin Yusuf M.

Kemarin saya lihat tweet yang cukup menggelitik dari Mbah Sudjiwo Tejo, beliau bilang :

“Seorang ta’mir masjid di kampus terkenal nyaranin aku agar kalau soal agama bertanya ke ahli agama. Aku bingung, adakah setitik pun persoalan hidup yg bukan agama? Bagiku kimia, fisika, matematika dll. adalah persoalan agama yaitu cara manusia mengakui kebesaran Tuhan.”

Saya bukan penggemar beliau sebenarnya dan banyak tidak setuju dengan pandangan beliau, tapi dalam tweet ini, saya setuju dengan pertanyaan retorik beliau bahwa memang tidak ada setitik pun persoalan hidup yang bukan agama.Continue Reading

Renungan di Pagi dan Petang

Renungan di Pagi dan Petang.
Jadi pagi ini, seseorang muncul di timeline media sosial saya dengan sebuah doa yang memberi saya beberapa renungan. Doa itu adalah:

“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan”

Arti dari doa tersebut kira-kira begini:

“Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, dan perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun hanya sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu) selamanya”Continue Reading

Cinta yang Zahir

Mungkin ini tulisan ketiga saya yang sumber tenaganya berasal dari novelnya Paulo Coelho (dan mungkin yang terakhir karena saya jadi males baca buku beliau lagi), setelah the Alchemist vs the Al-Qur’an dan Veronika yang Memutuskan Mati (yang tulisannya tidak dipublish di blog ini). Kali ini buku yang menjadi alasan saya menulis ini adalah novel beliau yang berjudul the Zahir. Walaupun demikian, tulisan ini bukan tentang buku tersebut. Hanya saja memang karena buku itulah saya menulis ini. Kalian tidak perlu membaca buku itu dulu untuk mengerti tulisan saya ini, dan saya juga tidak sedang merekomendasikan kalian untuk baca buku ini.

Malahan, jika pada dua buku sebelumnya saya ingin mengomentari dan memberi alternatif sisi filosofis yang ditonjolkan buku melalui pendapat filosofis pribadi, pada buku ini, saya hanya tidak tahan ingin memberi kritik pedas karena filosofi tentang cinta di buku ini, setidaknya menurut saya, sangat dangkal dan, walaupun ceritanya (dikesankan) fiksi, sangat sulit diterima. Tapi yah, kalian bisa jadi punya pendapat berbeda kalau baca buku ini dan itu sah-sah saja.Continue Reading

Pohon Amanah

Pohon Amanah
oleh: Fajrin Y. M.

Kita ini sekuat pohon.
Akar kita merajut tanah, menyerapnya hingga batu pun terpecah, hingga batang pun tak goyah. Wajah kita tengadah, lingkar kambium menegah runtuh teguh dan tabah. Rimbun ranting dedaunan melayah. Halau badai keluh kesah gundah gelisah.

Hanya kita yang punya falsafah, berdiri gagah menggapai langit cerah, sembari menjejak ranah-ranah rendah.Continue Reading

Puspa

Puspa
Cerpen, oleh: Fajrin Yusuf M.

***

Bunga apa ini?”, tanyaku kepada suamiku.

Puspa”, jawabnya singkat setelah dia menoleh sekilas pada bunga-bunga putih yang berserakan di tanah; tanah yang sedang kuinjak; tanah yang sedang dirajut akar-akar raksasa sejak lama dengan penuh kesabaran; andai boleh aku pinta sedikit saja si kesabaran itu.Continue Reading

Ar-Rahman: Membangun Hubungan Personal dengan Al-Qur’an

Di salah satu artikel yang lain, saya pernah bilang bahwa saya punya hubungan personal yang lebih dengan salah satu surat dalam Al-Qur’an, yaitu surat Al-Fajr, karena nama suratnya sama dengan nama yang diberikan ibu saya kepada saya. Kalian mungkin tidak punya keterhubungan yang sama karena nama kalian tidak sama dengan saya, hehe… Tapi ada satu surat yang cukup populer, unik dan ikonik, hingga jadi favorit bagi banyak muslim, tidak terkecuali saya: yaitu surat Ar-Rahman.Continue Reading

Rumput Laut

Rumput Laut
cerpen, oleh: Fajrin Yusuf M
(untuk melihat terjemahan teks bahasa Sunda, gerakkan kursor ke teks)

Memang betul, orang datang dan pergi, seperti gulung menggulung ombak. Beberapa ombak datang cukup kuat dan meninggalkan bekas; terkadang berupa kehancuran, terkadang berupa ikan-ikan.Continue Reading

Fitri

Subject: Fitri

From: Agus
To: Mei

Dear Mei,

Maafkan aku karena aku tidak sempat bercerita padamu tentang kakaku Fitri. Aku memang tidak punya alasan untuk menceritakannya padamu. Aku telah melupakan kakakku itu, dan aku juga membencinya. Tapi tidak peduli seberapa besar kebencianku terhadap Fitri, aku masih tetap menyayanginya. Bagaimana pun, dia adalah kakak kandungku. Aku tidak menyalahkan dia atas prilaku bejatnya. Nasib kita memang tidak terlalu baik. Kita tumbuh di lingkungan yang buruk, dan dia tidak seberuntung aku. Continue Reading