Ar-Rahman: Membangun Hubungan Personal dengan Al-Qur’an

Ar-Rahman: Membangun Hubungan Personal dengan Al-Qur’an

Di salah satu artikel yang lain, saya pernah bilang bahwa saya punya hubungan personal yang lebih dengan salah satu surat dalam Al-Qur’an, yaitu surat Al-Fajr, karena nama suratnya sama dengan nama yang diberikan ibu saya kepada saya. Kalian mungkin tidak punya keterhubungan yang sama karena nama kalian tidak sama dengan saya, hehe… Tapi ada satu surat yang cukup populer, unik dan ikonik, hingga jadi favorit bagi banyak muslim, tidak terkecuali saya: yaitu surat Ar-Rahman.

Yap, di antara surat-surat dalam Al-Qur’an, mungkin surat Ar-Rahman adalah surat yang paling banyak dicintai oleh umat muslim. Saya pribadi melihat banyak sekali orang yang seolah mempunyai koneksi lebih dengan surat ini, dibanding dengan surat-surat lainnya. Adik saya terlihat menangis mendengar suaminya melantunkan surat Ar-Rahman di pernikahannya. Sepupu saya pun begitu juga di pernikahannya.

Waktu naik Gunung Gede Pangrango beberapa bulan kemarin, saya juga sempat membaca surat Ar-Rahman ketika mengimami teman-teman shalat Shubuh yang berbalut dinginnya Alun-alun Surya Kencana. Teman-teman saya mengaku juga bergetar hatinya mendengar surat Ar-Rahman ini. Walau memang shalat di atas gunung hampir selalu punya konektivitas tinggi, tapi teman-teman saya pun sepertinya punya koneksi tersendiri dengan surat Ar-Rahman; terutama teman saya yang memang namanya Rahman alias Imunk, hehe…

Setelah dikorek, teman-teman saya ini merasa tergetar hatinya di ayat yang diulang-ulang, “fa bi ayyi alaa-i rabbikumaa tukadzibaan”. Sepertinya memang, muslim awam seperti saya dan kebanyakan anda bakal cepat menyadari bahwa ayat ini diulang-ulang, lalu kita pun penasaran dan mencari artinya, yaitu “maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan?”. Di sana, biasanya kita merasa tertohok dan sedikitnya juga tersindir, mungkin karena ketidak-bersyukuran kita.

Saya juga penasaran dan tergetar, sampai saya cari-cari info tentang surat Ar-Rahman ini. Dari beberapa sumber yang saya teliti, ternyata pengulangan ini dulu ditujukan pada kaum Quraisy yang keras kepala. Disebutkan bahwa, walaupun surat Ar-Rahman ini Madaniyah, tapi sebenarnya surat ini diturunkan di akhir-akhir perjuangan awal Nabi SAW di Mekkah, sebelum hijrah ke Madinah*. Waktu itu, setelah lebih dari satu dekade Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan, kaum Quraisy sudah betul-betul keras kepala, malah mencemooh dan bahkan mencoba melukai Nabi. Maka turunlah surat ini, yang mengulang-ngulang ayat tadi untuk memecah kepala batu kaum Quraisy. Beberapa ahli tafsir malah mengartikannya sebagai bentuk kemarahan Allah SWT akibat kekeras-kepalaan mereka.

Seawam apapun saya dan anda dalam kemusliman, kita sepertinya masih tidak seburuk kaum Quraisy, bukan? Sekilas, saya jadi merasa agak berjarak lagi dengan surat ini; merasa bahwa oh ternyata surat ini tidak ditujukan untuk orang seperti saya (yang okelah ga soleh-soleh amat, tapi ga seburuk kaum Quraisy juga meureun, wkwkwk…).

Tapi kemudian, jika dibaca lagi, saya malah merasa ada sesuatu yang luar biasa di balik kemarahan Allah SWT ini. Yaitu di ayat pertama, yang merupakan nama surat itu sendiri: Ar-Rahman; Yang Maha Pengasih. Jikalau Dia memang sedang benar-benar marah karena kekeras-kepalaan kaum Quraisy, mengapa Dia memulai suratnya dengan sesuatu yang sangat lembut? Mengapa tidak Dia mulai surat ini dengan janji akan hari pembalasan, misalnya, atau tentang siksa neraka?

Saya jadi teringat Ibu yang sering memarahi saya karena bandel; Ibu marah bukan karena benci, tapi saya tahu betul justru karena sebaliknya. Malah jika ditelaah, Rahman itu satu asal kata dengan kata Rahm, atau rahim ibu tempat anak dikandung. Anak yang dikandung tidak tahu seberapa besar cinta ibunya, juga tidak tahu betapa dunianya sangat tergantung dari ibunya, juga bahwa ibunya lah yang memelihara dia sebaik mungkin. Mungkin begitu juga dengan Allah SWT yang wujud-Nya tidak bisa kita lihat, tapi sebetulnya Dia-lah yang memelihara kita semua, dan lebih dari itu, Dia menyayangi kita.

Lanjut ke ayat yang kedua, “‘Allama Al-Qur’an”, yang artinya “Yang Mengajarkan Al-Qur’an”. Jika digabung, maka bisa diperoleh pesan bahwa, Yang Maha Pengasih, Yang Mengajarkan Al-Qur’an. Di sinilah saya kembali merasa bahwa saya memang harus mempelajari Al-Qur’an. Di sini juga saya merasa harus mempunyai attitude yang lain untuk menghadapi Al-Qur’an.

Yaitu sikap dimana saya harus menganggap bahwa Al-Qur’an ini diturunkan untuk saya. Bahwa memang jika saya dan anda membaca ayat yang sama, pesan yang kita ambil mungkin berbeda, karena adanya hubungan personal yang berbeda. Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan khusus bagi saya dan khusus bagi anda. Ketika saya menganggap Al-Qur’an diturunkan untuk kaum Quraisy, saya malah merasa berjarak dengan pesan-pesan tadi. Tapi ketika menganggap surat Ar-Rahman ini panggilan bagi saya sendiri untuk bersyukur dan mempelajari Al-Qur’an, alhamdulillah pesannya sampai, dan sedikitnya saya merasa tergerak; juga tersindir ketika lagi males-malesnya.

Mungkin memang saya baru terhubung secara personal ke beberapa surat dalam Al-Qur’an saja; belum betul-betul merasa bahwa keseluruhan Al-Qur’an adalah risalah atau surat cinta khusus dari Allah SWT. untuk diri saya sendiri; dan mungkin juga anda.

***

Dulu pernah saya nonton satu kisah tentang seorang Atheis yang ingin memeluk islam, tapi dia seolah merasa membutuhkan penguatan untuk memastikan keputusannya. Saat itu, beliau sudah merasa bahwa Islam ini agama yang benar, bahwa Allah itu ada, dan tidak ada Tuhan selain Dia, dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Tapi mulutnya belum mengucapkan syahadat, seolah ada sesuatu yang masih menahannya.

Dia saat itu berpikir, jika saja ada sedikit keajaiban dari Allah ditunjukkan padanya, keputusan dia untuk memeluk Islam akan bulat. Pertama, dia melihat cicak di dinding. Lalu berdoa, Ya Allah jatuhkan cicak itu dengan kuasa-Mu, dan aku akan percaya. Cicak itu masih saja menempel di dinding dan tidak bergeming. Dia mulai merasa sedih. Lalu kemudian dia menyalakan lilin dan berdoa, Ya Allah, matikan lilin ini dengan kuasa-Mu, dan aku akan percaya. Tapi lilin itu tidak mati dan masih saja menyala. Dia mulai tidak sabar dan mulai berpikir bahwa mungkin Allah tidak ingin dia memeluk Islam.

Beberapa kali dia berdoa untuk ditunjukkan keajaiban, tapi tidak juga si keajaiban itu datang. Sampai dia merasa frustrasi dan kembali membuka Al-Qur’an; kembali ingin mencari kebenaran-Nya. Dia membuka Al-Qur’an secara acak, dan tiba pada pertengahan surat Al-Waqi’ah (satu surat setelah Ar-Rahman). Ayat yang pertama dia baca adalah ayat 58, dan dia baca sampai akhir hingga dia betul-betul menangis dan langsung memeluk Islam.

Di pertengahan hingga akhir surat Al-Waqi’ah itu ada beberapa pertanyaan yang pasti menohok baginya, seperti pertanyaan, “Apakah kamu melihat benih yang kamu tanam? Apakah kamu yang menumbuhkan, atau Aku yang menumbuhkan?”, “Apakah kamu melihat air yang kamu minum? Apakah kamu yang menurunkannya atau Aku yang menurunkannya?”, “Apakah kamu melihat api yang kamu nyalakan? Apakah kamu yang menumbuhkan kayu itu, atau Aku yang menumbuhkannya?”, lalu disambung dengan punch line yang epik, “dan Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.”; seolah menunjukkan bahwa yang sebelumnya itu pekerjaan yang mudah saja, apalagi cuma pekerjaan menjatuhkan cicak dan mematikan lilin.

Ayat-ayat tentang pertanyaan itu mungkin sebenarnya diturunkan juga untuk Bani Quraisy. Tapi bagi si Atheis ini, ayat-ayat itu terasa ditujukan khusus untuk menjawab pertanyaannya. Dia pasti langsung merasa adanya hubungan personal dengan ayat-ayat tersebut.

Itu juga yang ingin saya bangun; kedekatan personal antara saya dan pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Qur’an; antara kisah hidup saya dengan hikmah kisah-kisah para Nabi terdahulu, antara ego saya dengan aturan-aturan yang mungkin menimbulkan tanya, antara keberlupaan saya dengan keberulangan ayat-Nya, antara saya dan mungkin anda, wahai pembaca yang budiman, yang juga mulai tergerak untuk membuka kembali kitab-Nya.

***

Teringat dulu juga, ketika saya masih muda dan meledak-ledak (sekarang sudah tua dan melempem, wkwk…), saya sering kebut-kebutan Garut Bandung pp dengan motor saya. Tidak jarang, pengalaman near death experience saya alami di waktu-waktu tersebut, tapi tidak juga saya kapok kebut-kebutan.

Suatu waktu, saya lewat turunan Nagreg (sebelum ada jalan lingkar Nagreg) dengan kecepatan biasa (100 km/jam, wkwkwk…), dan menyadari ada satu Mesjid dengan gerbang yang bertuliskan satu ayat Al-Qur’an, “fa aina tadzhabun”; sebuah pertanyaan bahasa Arab sederhana, yang artinya “Maka Ke mana kamu akan pergi?”, di ambil dari surat At-Takwir ayat 26.

Mesjid Uswatun Hasanah, Nagreg, dengan gerbang bertuliskan Fa Aina Tadzhabun
Mesjid Uswatun Hasanah, Nagreg, dengan gerbang bertuliskan Fa Aina Tadzhabun

Membaca itu, rasanya seperti ada yang ngadegungkeun, bari ditanya, “emang maneh rek kamana?”. Akhirnya saya berhenti dan sholat dulu di mesjid itu, membuka Al-Qur’an dan menganalisis surat At-Takwir; lalu makan pisang di kantin dan berkontemplasi tentang semesta.

Saya ingin hubungan saya dengan Al-Qur’an bisa sebegitu personal, sebegitu romantis, sampai ketika saya mengebut, Qur’an ngadegungkeun mengingatkan, ketika saya haus karena penasaran, Qur’an membatasi diri dari kepongahan, ketika saya bersedih, ada ayat yang bisa jadi hiburan, ketika saya berharap, ada ayat tentang jaminan, dan ketika saya mencinta, ada ayat untuk mensucikannya.

Wallahu’alam

Fajrin Yusuf M.
Garut, 13 Januari 2018



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

2 Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.