An-Najm: Pelajaran untuk yang sedang Berusaha

Pagi ini sedikit belajar tentang Surat An-Najm. Awalnya ingin mencari referensi tentang ayat bahwa seorang tidak menanggung dosa orang lain, tapi malah berlanjut baca ayat-ayat berikutnya dan baca ayat-ayat sebelumnya. Tersentuh sampai akhirnya mencari banyak referensi, menonton dua video di Bayyinah TV tentang surat ini, jatuh ke ayat sajdah di akhir surat, lalu menulis sedikit tentang hikmah yang dipetik.

Sebenarnya banyak sekali hikmah dari surat ini yang bisa dipetik dan dituliskan, hanya saja kali ini saya ingin memberi highlight pada satu ayat saja. Yaitu ayat ke-40 bahwa sesungguhnya usaha kita itu kelak akan diperlihatkan pada kita. Tapi tentu untuk memahami konteks, kita mesti baca ayat-ayat sebelumnya, terutama bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain (ayat 38) dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya (ayat 39).

Yang bikin ini menarik buat saya adalah tata kata yang agak berbeda dari ayat 39 dan 40. Di ayat 39 Allah SWT berfirman “dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya.” Tapi di ayat selanjutnya dikatakan bahwa yang diperlihatkannya nanti itu bukan apa yang diusahakannya, tapi usahanya itu sendiri.

This is a very powerful message; bukan hanya tentang berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh apa yang kita cita-citakan (ayat 24), tapi juga tentang penilaian Allah SWT terhadap kita nantinya. Kalian boleh jadi sedang mengusahakan ini itu; mencari nafkah untuk keluarga, menabung untuk walimah atau beli rumah, belajar untuk suatu tes, menyelesaikan tesis, atau membesarkan usaha sendiri; apapun itu, kita memang harus berusaha semaksimal mungkin, tapi yang lebih penting adalah kesadaran bahwa yang akan diperlihatkan pada kita nanti adalah usaha kita, bukan apa yang kita usahakan.

Maksudnya adalah bahwa penilaian Allah SWT itu berbeda dengan penilaian kita. Kita menilai orang dari pencapaian, dari ijazah yang diperoleh, dari sertifikat pelatihan yang pernah diikuti, dari jumlah penghasilan tiap bulan; kita menilai orang dari apa yang diusahakannya, bukan dari usahanya itu sendiri. Karena tentu saja kita tidak punya kapabilitas untuk mengukur seberapa besar (dan seberapa bersih) usaha seseorang untuk memperoleh ijazah atau untuk memperoleh penghasilannya. Hanya Allah SWT yang betul-betul paham seberapa besar (atau kecil) usaha dan pengorbanan kita.

Jadi itulah yang akan diperlihatkan Allah SWT nanti: usaha kita. Boleh jadi kita gagal memperoleh apa yang diusahakan, tapi tetap dihitung berhasil karena kesungguhan dan kemurnian niat usaha kita; seperti gagalnya Nabi Nuh as. dalam meyakinkan kaumnya, namun tetap mendapat kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Boleh jadi kita berhasil mendapatkan apa yang kita usahakan, tapi tetap dihitung gagal karena usaha kita tidak dilakukan dengan jalan yang baik; seperti Fir’aun dengan kerajaannya yang luar biasa besar, tapi tetap diperlihatkan sebagai manusia yang gagal.

Hikmahnya adalah untuk selalu memurnikan niat kita dalam berusaha. Seberapa besar pun keinginan kita untuk memperoleh apa yang kita inginkan; mau itu penghasilan, pencapaian, cinta, keluarga; apapun itu, lakukan dengan benar dan dengan niat yang bersih. Yang akan diperlihatkan nanti bukanlah seberapa besar hasilnya, atau seberapa besar cintanya, tapi bagaimana usaha yang dilakukannya.

Di ayat berikutnya (ayat 41) dengan jelas Allah melanjutkan penjelasannya, bahwa kemudian si usaha itu akan dibalas dengan balasan yang paling sempurna. Bukan penghasilan atau pencapaiannya, tapi usahanya itulah yang akan diberi balasan. Dan tentu seseorang tidak mungkin menerima balasan atas usaha orang lain (ayat 38).

Jadi teman-teman yang budiman, di pagi yang cerah ini, mari kembali murnikan niat kita, lalu kembali mengusahakan apapun yang ingin kita capai; dengan sungguh-sungguh; serta dengan cara yang diridhai Allah SWT.

***

Surat An-Najm ini begitu menghipnotis. Ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Nabi SAW membacakan Surat An-Najm ini dari awal sampai akhir, di depan khalayak ramai kaum Quraish, untuk mengkonfrontasi mereka yang menyembah Latta, Uzza, dan Manat (ayat 19-20). Surat An-Najm ini begitu menghipnotis mereka, sampai-sampai ketika di ayat sajdah, ayat terakhir, diucapkan, semua orang Quraish itu jatuh bersujud (tapi mereka kemudian menolaknya dan bersaksi bahwa mereka terkena sihir).

Mungkin tidak tepat jika saya menyebut bahwa surat ini juga menyihir saya, tapi memang begitulah reaksi saya ketika pertama membaca dan menelaah surat ini. Saya seolah tersihir sampai-sampai begitu terbawa suasana. Sungguh, Dia yang menjadikan orang tertawa dan menangis (ayat 43).

Fajrin Yusuf M.
Garut, 5 Agustus 2018

PS. ayat 55 juga agak nyentil sih, mirip-mirip di Surat Ar-Rahman itu.
so let’s cry a bit for now :’))
***




****

SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, tolong di share dong tulisannya, biar makin banyak yang main ke sini.
Kalian juga bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Share

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.