Al-Baqarah: 216, Perang, dan Kenangan Kawan-Kawan

Al-Baqarah: 216, Perang, dan Kenangan Kawan-Kawan

Teringat dulu, di sesi-sesi mentoring kelas matematika Pak Muntaryo di SMA, di depan kawan-kawan, saya pernah membahas sesuatu tentang Al-Baqarah: 216. Bahwa “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu”. Saya agak lupa bahwa konteks ayat ini adalah tentang kewajiban untuk ikut berperang.

Ya, saya tidak suka perang fisik… demi alasan apapun…

Begini ayat lengkapnya.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetabui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Pernah dulu saya, Rizqan, dan almarhum kawan saya Fajar, berdiskursus tentang “bagaimana jika Indonesia jatuh dalam kondisi peperangan? Apa yang akan kita lakukan?”. Fajar dengan semangat langsung bilang bahwa dia akan ikut angkat senjata membela Indonesia, sementara Rizqan lebih memilih pergi ke Amerika dan mencari suaka di sana.

Saya menimbang-nimbang, lalu memilih untuk membawa keluarga saya hidup di dalam belantara hutan, hingga perang selesai. Sesuatu yang juga dilakukan Tuvia Bielski, seorang yahudi, ketika zamannya Holocaust. Cagar Alam Papandayan cukup luas untuk bersembunyi dan mencari makan. Karena itu dari sekarang latihan navigasi darat sama bushcraft, hehehe…

Lagipula tidak semua harus pergi ke medan perang kan? Harus ada yang tinggal mengurusi logistik peperangan, harus ada dokter yang siap di camp, harus ada yang mempersiapkan peralatan, dan harus ada yang mengamankan penduduk sipil, wanita, dan anak-anak. I think, I’ll take the latter. :p

Sebenarnya, dulu itu, ketika menjelaskan Al-Baqarah: 216 di depan teman-teman, saya hampir tidak menyinggung konteks perang. Saya lebih menekankan lanjutan ayatnya, bahwa apa yang diinginkan bisa jadi tidak baik bagi kita dan apa yang dihindari belum tentu buruk bagi kita. Intinya, berbaik-sangkalah kepada Allah SWT. Bisa jadi doa kita belum terkabul karena itu belum jadi baik bagi kita, dan sebaliknya, jika kita malah didera kesulitan, mungkin kesulitan itu akan jadi modal latihan bagi kita untuk menghadapi kesempatan di masa yang akan datang. Bisa jadi saya masih jomblo karena sedang disiapin buat kamu… iya kamu… yang lebih baik dari dia… wkwkwk…

Naik Gunung terakhir sama almarhum kawan saya Fajar. (Al-Baqarah: 216, Perang, dan Kenangan Kawan-Kawan)
Naik Gunung terakhir sama almarhum kawan saya Fajar. (Al-Baqarah: 216, Perang, dan Kenangan Kawan-Kawan)

Mungkin, memang lebih baik bagi almarhum kawan saya Fajar, untuk pergi dan tidak lagi melihat hiruk pikuk dunia yang melelahkan ini, walaupun harus meninggalkan duka yang besar bagi keluarga dan kawan-kawannya. Dia sudah berperang melawan nefritis dengan luar biasa berani. Mungkin peperangannya ini adalah penghapus dosanya, dan jadi jalan bebas hambatan bagi dia untuk menuju tempat yang lebih baik di sisi-Nya.

Mungkin, memang lebih baik bagi Rizqan untuk menetap dan mencari suaka di Jakarta. Dia kini bisa menopang hidup adik-adiknya, punya pacar cantik si Rei yang lagi kuliah di Filipina; setelah lama digosipkan tidak suka wanita (wkwkwk), pun juga kerja sesuai dengan keahliannya. I think, he’s a better man, now… Yah, lagipula Garut sepertinya terlalu kecil untuknya.

As for me, kadang memang saya jatuh mengutuk angin dingin, menangis bersama anak-anak babi hutan, meratap pada pohon-pohon, berteriak culangung kepada langit, dan menulis hikayat nestapa di atas batu-batu gamping. Tapi setidaknya saya tahu, merekalah teman saya, dan mungkin mereka yang akan menolong saya nanti. Saya yakin, jikalau Allah mendengar saya, Allah akan meminjam tangan-tangan mereka untuk mengangkat saya kembali dan melindungi saya dari peperangan terbesar yang berkecamuk dalam diri.

The biggest war is fought alone, eh?

Fajrin Yusuf M.
Garut, 3 Ramadhan 1438 H

#EverydayRamadanWritingChallenge #2

Teringat Al-Baqarah: 216 ketika tadarusan tadi baca ayat ini. (udah lama ga tadarusan, wkwkwk…) Time flies. Pak Muntaryo apa kabarnya ya? Apa kabar juga kawan-kawan IPA 6? Jadi rindu… :p



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂

Published bykangfajrin

Aseli Garut, Social Entrepreneur, Pejalan Kaki, Menulis di Waktu Senggang

No Comments

Post a Comment