Siti Pergi Sekolah

Siti mengurung diri di kamarnya sejak sepulang sekolah, menangis hingga tertidur.

Sebenarnya Siti pulang dengan kabar gembira, bahwa bulan depan sekolahnya akan mengadakan kegiatan study tour ke Dufan khusus untuk kelas 8. Girang tak karuan, Siti membayangkan perjalanan menyenangkan bersama teman geng riweuh-nya. Bahkan mungkin bisa mencuri satu dua kesempatan untuk lebih intens mengirim kode-kode kepada cowok gebetannya, Arif, si ganteng kalem dari kampung sebelah.

Tapi satu kalimat dari Ibunya berhasil mengubah mood Siti dari yang tadinya puja-puji syurgawi menjadi sumpah serapah jahanam. “Naon atuh ngiluan nu kararitu, euweuh duitna ge timana…”, kata Ibunya tanpa tedeng aling-aling, bahkan tanpa memalingkan pandangannya dari piring-piring yang sedang dia cuci.Continue Reading

Nama-nama Kebahagiaan

Kata para filsuf yunani dulu, semua tindak-tanduk manusia itu tujuannya bisa dikerucutkan jadi satu kata, yaitu Eudaimonia, atau yang biasa kita artikan sebagai kebahagiaan. Sokrates dan muridnya (Plato) dan murid dari muridnya (Aristoteles) berpendapat demikian. Saya juga kalau sedang galau berkontemplasi seringnya meng-iya-kan pendapat tersebut. Intuitif sih.

Walaupun demikian, kebahagiaan itu terbukti ada macam-macam, sesuai dengan macam-macamnya interpretasi dan value orang. Mungkin karena itulah, walaupun tujuannya sama (menuju kebahagiaan), tapi arah tiap orang beda-beda. Contoh simpelnya, ada yang mencari kebahagiaan dengan travelling, ada juga yang mencari kebahagiaan dengan diam di rumah bersama keluarga. Contoh ekstrimnya, ada yang mencari kebahagiaan lewat obat-obat terlarang, dan ada juga yang mencari kebahagiaan lewat shalat tahajjud rutin. Jadi memang intuitif juga mengapa kebahagiaan orang beda-beda.

Continue Reading

Obituari

Saya sebenarnya sudah bertekad untuk tidak membuat obituari, tapi malam ini saya teringat momen terakhir saya bersama dua sahabat saya yang telah meninggal dunia, Fajar dan Alifia. Menulis obituari hanya akan membuka kembali duka atas kepergian mereka, tapi kalau tidak dituliskan bakal terus ada rasa mengganjal di hati. Jadi saya akan menuliskannya saja, momen terakhir saya bertatap muka dengan kedua kawan saya ini.

***

Continue Reading

Di Pamulihan (Bagian I): Kegelapan Desa dan Curug Para Pan(d)awa

Di Pamulihan Bagian I: Desa Para Pan(d)awa

I heard a legend, once, of a village named Panawa, where darkness of the past still lingers there…

Dengar cerita dari kakak perempuan saya, yang pernah melakukan PLKJ (sebuah program pesantren dimana santrinya diterjunkan langsung ke masyarakat untuk melakukan bakti sekaligus dakwah) ke salah satu desa terpencil di Garut Selatan, bernama desa Panawa, kecamatan Pamulihan.Continue Reading

Autoimun

Bila-bila pikiran meraga,
cacat selalu aku dibuatnya,
sehat dan sakit jadi abu-abu,
imun tak lagi pandang bulu.

Pikiran meraga singa, tumpul dibuat taringnya.
Pikiran meraga kuda, pendek dibuat nafasnya.
Pikiran meraga manusia, hampa dibuat hatinya.

Berusaha meraga surga, tapi tetap tidak sempurna juga…

Kawan lama pergi kemarin,
meraga gentar dalam jiwa-jiwa, setelah cekam dera duka mereda.

Kawan baru datang hari ini,
sayang bila-bila manis membentuk, kecut lidah pengecut terus mengutuk.

Syaraf yang sehat mati dibunuh oleh impuls-nya, seperti sains tak berdaya melawan statistik yang menyerang dirinya sendiri.

Fajrin Yusuf M
Garut, 2 September 2017
 

just wasted 3 hours of my time to make this so-called poems. I need a life. wkwkwk. 



SUKA DENGAN TULISAN SAYA?

Kalau suka, kalian bisa berlangganan tulisan saya lho. Klik Disini.
Kalau tidak suka juga tidak apa-apa; boleh lah kritiknya disampaikan di kolom komentar di bawah. 🙂